• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Madura

Gandeng Lajnah Falakiyah Annuqayah, Mahasiswa Instika Praktik Penggunaan Teleskop

Gandeng Lajnah Falakiyah Annuqayah, Mahasiswa Instika Praktik Penggunaan Teleskop
Mahasiswa praktik mengoperasikan teleskop di depan kantor Yayasan Annuqayah. (Foto: NOJ/Firdausi)
Mahasiswa praktik mengoperasikan teleskop di depan kantor Yayasan Annuqayah. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Demi memuaskan dahaga keilmuannya, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) mempraktikkan metode discovery dengan mengoperasikan teleskop. Dalam hal ini mereka menggandeng Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (27/11/2023) malam.

 

Ketua LFA Guluk-Guluk, Moh Ilhwam Wahyudi menjelaskan, dilansir dari Britannica Encyclopedia, teleskop adalah alat atau perangkat yang digunakan untuk memperlihat gambar yang diperbesar dari sautu objek yang dengan jarak yang sangat jauh.

 

Disebutkan, secara umum teleskop dibagi menjadi dua, yaitu motorik dan standar. Teleskop motorik adalah sebuah alat yang memiliki motor penggerak yang menggunakan remot. Tanpa dioperasikan pakai tangan, teleskop itu bergerak sendiri karena dikendalikan oleh remot. Sendagkan teleskop standar, sebuah alat yang digerakkkan secara manual atau menggunakan tangan manusia untuk melihat objek.

 

“Tidak semua teleskop bisa melihat dapat melihat benda-benda langit yang jauh. Ada pula teleskop yang bisa melihat planet Satrunus, Uranus dan lainnya. Sambung doanya, kami telah mengajukan anggaran kepada yayasan untuk membeli teleskop robotik. Harganya sekitar Rp45 juta,” ucapnya saat memberikan materi di kantor Yayasan Pondok Pesantren Annuqayah. 

 

Untuk teleskop yang bisa melihat Galaksi Andromeda dan planet-planet lainnya, hanya bisa dilakukan di Observatorium Bosscha yang memiliki teleskop dengan tabung sebesar ruangan ini. Atau bisa dilakukan di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menempatkan teleskopnya di sekitar Kalimantan.

Ilham Wahyudi menjelaskan, ketika melihat isi yang ada di dalam teleskop, cara kerjanya adalah mengumpulkan cahaya dari objek tertentu. Ketika fokus objek tepat sasaran, maka sinar bulan masuk ke dalam (ditampung). Kemudian dipancarkan melalui pantulan lensa. Dengan demikian, fungsi teleskop adalah mengolah citra benda langit dan bisa digunakan saat rukyatul hilal atau menentukan awal puasa dan idul fitri.

 

Sebagaimana dikatakan oleh dosen pengampu yakni Firdaus, astronomi dan astrologi itu beda. Ilmu Falak cabang dari ilmu astronomi yang mengobservasi semua benda langit. Yang diteliti tidak lepas dari 3 unsur, yaitu matahari, bulan dan bumi. Sedangkan astrologi adalah belajar benda langit yang dikaitkan dengan nasib manusia.

 

“Agama melarang umat Islam belajar Astrologi. Dulu Astronomi diharamkan. Namun, jika dipergunakan pada hal-hal yang bisa mendukung ibadah umat Islam itu dibolehkan, seperti waktu shalat, menentukan arah kiblat, penentuan awal puasa dan hari raya idul fitri,” ucap mahasiswa Fakultas Syariah Instika Guluk-Guluk ini.

 

Rukyatul Hilal

Untuk melihat hilal, lokasinya harus sepi atau pandangan kita tidak diganggu oleh benda apapun, seperti perbukitan, gedung dan semacamnya. Di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, bukit Condrodipo Gresik sangat strategis untuk melihat hilal, sehingga bukit sering dikatakan sebagai artisnya tempat rukyatul hilal oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Untuk di Sumenep, Pantai Taneros yang sering dijadikan tempat rukyatul hilal dikatakan kurang strategis karena di pantai.

 

Ia menceritakan, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mulyadi yang menyimpulkan bahwa, pantai tersebut tidak bisa digunakan sebagai tempat rukyatul hilal, karena saat matahari akan tenggelam, air laut menguap yang menimbulkan awan tipis yang menghambat terlihatnya hilal.

 

“Bila ketinggian hilal lebih tinggi 5 sampai 7 derajat, maka hilal akan tampak. Kalau di bawah 5 derajat, tantangannya besar, yakni adanya pantulan sinar matahari kuat,” curahnya saat berbagi pengalaman. 

 

Santri Annuqayah Latee, Sumenep itu mengatakan, seseorang dapat melakukan rukyatul hilal saat tanggal 29 hijriyah. "Jika terlihat, maka keesokan harinya tanggal 1. Jika sebaliknya, maka keesokan harinya tanggal 30 (istikmal)," katanya.

 

Dirinya menegaskan, seluruh kalender berstatus hisab, khususnya di Annuqayah. "Dalam catatan riwayat, sejak dulu hingga sekarang, kalender Annuqayah tidak pernah salah memprediksi atau tidak ada perbedaan dengan kalender pemerintah. Karena sebelum dicetak, kalender Annuqayah sudah disinkronkan dengan PCNU, PWNU dan PBNU," tegasnya.

 

Tugas LFA adalah membuat perkiraan Jumad Al-Awwal. Seumpama, jika awal bulan Jumat Kliwon jatuh pada 25 November 2022 sedangkan waktu ijtimak jatuh pada Kamis Wage 24 November 2022, maka dipastikan hilal terlihat. Karena Hilal Hakikinya 050 12’ 35.51”, tinggi Hilal Mar’i 040 24’ 47.01”, dan elongasinya 60 53’ 48.82”. Kriteria ini memenuhi Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) terbaru. Sedangkan NU, menggunakan hisab dan rukyat untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal. 

 

“Setelah melakukan rukyatul hilal, seluruh laporan se-Indonesia disetorkan ke Kementerian Agama RI untuk dilakukan sidang Isbat,” tandasnya.

 

Acara dilanjutkan dengan praktik mengoperasikan teleskop yang dilakukan di depan kantor Yayasan Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.


Madura Terbaru