• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Madura

Yudian Wahyudi BPIP Kenalkan Salam Pancasila ke Mahasiswa Instika

Yudian Wahyudi BPIP Kenalkan Salam Pancasila ke Mahasiswa Instika
Kiai Yudian, anggota BPIP, saat berbicara di seminar nasional di Instika Guluk-Guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Kiai Yudian, anggota BPIP, saat berbicara di seminar nasional di Instika Guluk-Guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Yudian Wahyudi, anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), memperkenalkan Salam Pancasila kepada seluruh peserta Seminar Nasional Sosialisasi Ideologi Pancasila di Kalangan Santri dan Akademisi yang digelar oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep, di Aula Asy-Syarqawi Pesantren Annuqayah, Senin (28/03/2022).


“Salam Pancasila bukan salam pengganti salam keagamaan. Tetapi salam kebangsaan dan pemersatu bangsa. Dulu Presiden RI Pertama, Soekarno, memperkenalkan Salam Kemerdekaan pada tanggal 31 Agustus 1945. Mengapa? Hal ini dilakukan guna memompa semangat nasionalisme pada bangsa yang sangat majemuk. Selain itu sebagai pemersatu bangsa,” katanya.


Pendiri bangsa, lanjutnya, memberi contoh seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya saat mempersatukan Islam. Caranya adalah memiliki salam pemersatu, yakni Assalamu’alaikum.


Berangkat dari contoh itu, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang religius dan nasionalis. Bukan negara salah satu agama, tetapi negara yang beragama.


“Oleh karena itu, dicarilah salam yang bisa merangkul semua, tetapi tidak menimbulkan ikhtilaf. Muncullah Salam Merdeka. Pascakemerdekaan, haruskah kita menggunakan salam itu? Oleh Ketua Dewan BPIP, Megawati Soekarno Putri, diadopsilah Salam Merdeka menjadi Salam Pancasila,” terang Yudian.


Pada praktiknya, lanjut dia, Salam Pancasila dilakukan dengan mengangkat tangan ke atas. Tepatnya di atas pundak dan seluruh jari melekat. Maksudnya, agar antara sila satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan. “Ingat, jika agak miring itu salam komando, jikalau lurus dinamakan Salam Pancasila,” tuturnya.


Menurutnya, Salam Pancasila wujud dari doa, sama dengan salam keagamaan yang sering diucapkan oleh umat Islam, kendati ada sebagian yang memelintirnya. Jikalau menggunakan Salam Pancasila, maka seseorang akan mendoakan seseorang agar selamat, aman dan damai di negeri ini.


“Kami yakin, seluruh santri tahu bahwa dalam pendekatan fiqih, salam bisa masuk dalam ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Kalau kita mengganti salam shalat dengan salam lain, tentu salah. Bahkan Nabi tidak berani mengubah salam di dalam shalat,” ulas mantan Presiden Asosiasi Universitas Islam se-Asia itu.


Sedangkan di dalam ibadah ghairu mahdhah, terutama dalam muamalah, redaksinya disesuaikan. Karena siapa pun boleh memakai salam yang berbeda, walaupun menggunakan bahasa Madura. Hal ini dilakukan untuk menghormati kemajemukan.


“Jika seorang Muslim lalu mempunyai teman dari kalangan Kristen, tidak mungkin menggunakan salam keagamaan. Ia tak menjawab salam itu karena hak konstitusional. Kalau tidak mau ramai dengan hal itu, cukup pakai Salam Pancasila,” tandas Yudian.


Madura Terbaru