• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Madura

Kontribusi Kaum Sarungan dalam Penetapan NKRI dan Pancasila

Kontribusi Kaum Sarungan dalam Penetapan NKRI dan Pancasila
KH Muhammad Husnan A Nafi’, Rektor IST Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)
KH Muhammad Husnan A Nafi’, Rektor IST Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Rektor Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah, Sumenep, KH Muhammad Husnan A Nafi’ mengatakan, tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara tidak lepas dari kontribusi umat Islam, khususnya kaum sarungan atau pesantren.


“Tidak dipungkiri lagi, kontribusi para kiai dan santri melawan penjajah sangatlah besar,” ujarnya saat menyampaikan materi dengan tema ‘Refleksi Perjuangan Kiai dan Santri dalam Merawat 4 Pilar Kebangsaan’, Senin (28/03/2022). Kegiatan yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu dipusatkan di aula Asy-Syarqawi Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.


Dirinya menegaskan, bahwa para faunding father negara Indonesia banyak diisi oleh kalangan kiai dan santri. Semisal Mohammad Hatta yang merupakan seorang putra kiai dan berstatus santri.


“Ia mendirikan organisasi Pelajar Indonesia, bukan dengan menggunakan kata Pelajar Hindia Belanda. Seluruh patriot dan pejuang mendeklarasikan nama Indonesia, yang sebelumnya disebut Hindia Belanda. Mereka juga tidak menyebut Nusantara, Jazirah Al-Jawi, atau pun Malayunisia, tetapi lebih memilih Indonesia,” terangnya.


Tak hanya itu, ketika Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), lalu dilanjutkan dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), pada sidang tersebut banyak sekali tokoh-tokoh Islam, khususnya kiai, yang terlibat di dalamnya.


Di samping itu, penentuan dasar negara juga tidak bisa dilepaskan dari kontribusi besar kiai terhadap penetapan dasar negara yang diusulkan oleh Soekarno. “Jika tidak disetujui oleh kalangan kiai, kami yakin tidak ada Pancasila. Berhubung disetujui, maka dipakailah dasar negara yang disebut Pancasila,” ulasnya.


Ia menceritakan, bahwa saat itu isi Pancasila masih kontroversi. Titik temunya ketika dibentuk tim 9 yang terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, AA Maramis, Mr Achmad Soebardjo, KH Wahid Hasyim, KH Abdul Kahar Muzakkir, KH Agus Salim, dan Abi Koesno Tjokrosoejoso.


“Tim 9 tersebut 99 persen Muslim dan 50 persen dari kalangan kiai,” ungkap mantan Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sumenep ini.


Di sidang terakhir, lanjutnya, Sila Pertama diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini tidak terlepas dari kontribusi Kiai Wahid Hasyim untuk menetapkan Sila Pertama. Di perjalanan selanjutnya, ketika NKRI tegak dan berdiri, maka seluruh kiai dan santri berada di bawah panji-panji NKRI. Bersatu padu mengikuti yang digariskan oleh muassis NU, bahwa NKRI bagian dari perjanjian luhur bangsa untuk mendirikan sebuah negara.


“Dengan demikian, perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah niscaya sebagaimana Resolusi Jihad yang menjadi magnet menggerakkan seluruh kiai dan santri untuk mengusir penjajah,” tutur Kiai Husnan.


Pasca kemerdekaan, sambungnya, hampir seluruh kegiatan bela negara melibatkan kiai dan santri. Yakni, kegiatan mempertahankan NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Bahkan tragedi 1998 digerakkan oleh santri, walaupun penggerak utamanya adalah mahasiswa.


“Sampai hari ini, kiai dan santri di pesantren yang bernaung di bawah jamiyah Nahdlatul Ulama. Tidak ada yang menjadi teroris dan merongrong NKRI. Tidak ada gerakan pemberontakan. Bahkan, tidak ada kiai atau santri di NU yang bersuara untuk mengganti NKRI dan Pancasila. Itu semua sudah final,” pungkasnya.


Madura Terbaru