• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 17 Agustus 2022

Madura

Harga Melangit, Petani Disarankan Gunakan Pupuk Organik

Harga Melangit, Petani Disarankan Gunakan Pupuk Organik
Petani disarankan beralih ke pupuk organik. (Foto: NOJ/LKe)
Petani disarankan beralih ke pupuk organik. (Foto: NOJ/LKe)

Sumenep, NU Online Jatim
Harga pupuk yang cenderung naik menyebabkan sebagian besar petani mengeluh. Misal contoh harga eceran pupuk Urea menjadi Rp2500-3.000 per- kilogram atau mengalami kenaikan sekitar 5 persen dari sebelumnya. Selain harganya naik, belakang ini pupuk juga mengalami kelangkaan.
 

Menanggapi hal ini, Gunawan selaku Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Batang-Batang, Sumenep meminta masyarakat memanfaatkan pupuk organik. Yakni dengan memanfaatkan pupuk berbahan kotoran sapi sebagai alternatif.
 

"Saya cenderung tidak terlalu responsif akan mahalnya pupuk di pasaran. Meskipun tidak sepenuhnya, sejak dulu saya selalu menggunakan pupuk organik buatan sendiri," katanya kepada NU Jatim Online, Sabtu (08/01/2022).
 

Menurut mantan praktisi Petani Pengamat dan Pengendali Hama Terpadu (PHT) Kecamatan Batang-batang itu, kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan juga jadi alasan. Sebab, kebutuhan tanah akan pupuk cenderung terus naik tiap tahunnya.
 

"Dulu, untuk ukuran tanah 1000 meter persegi, 5 kg pupuk Urea sudah cukup digunakan petani. Kalau sekarang, ukuran tanah segitu harus 20-25 kg pupuk. Itu salah satu bukti bahwa semakin tahun, kegersangan atau kualitas kesuburan tanah semakin menurun akibat dampak dari pupuk itu juga," ucapnya.
 

Untuk mencegah ketergantungan tanah dari pupuk buatan pabrik, mantan Koordinator Kelompok Tani Gabungan Kecamatan Batang-batang itu menyarankan petani mencoba memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk organik. Menurutnya, 1 ekor sapi dalam sehari mampu menghasilkan 3-5 Kg kotoran yang bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik.
 

"Mayoritas petani di Sumenep juga beternak sapi meskipun dalam skala kecil. Kotoran sapi itu bisa dimanfaatkan," terangnya.
 

Menurut Gunawan, membuat pupuk organik sangat mudah dilakukan. Cukup dengan membuat lubang atau jurang sebagai tempatnya. Lalu masukkan sekam, garam, bubuk jagung, terakhir kotoran sapi. Ulangi beberapa langkah tersebut hingga lubang terisi penuh. Hasil pembuatan pupuk organik tersebut bisa digunakan ketima 20 hari dalam masa fermentasi.
 

"Pupuk itu saya gunakan untuk tanaman padi. Jika ingin tahu hasilnya, bisa ke lahan tani saya," pungkas dia.


Editor:

Madura Terbaru