• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 4 Desember 2022

Madura

Ketua LDNU Sumenep Ceritakan Selayang Pandang Lahirnya NU pada Santri

Ketua LDNU Sumenep Ceritakan Selayang Pandang Lahirnya NU pada Santri
Ketua LDNU Sumenep, Kiai Imam Sutaji saat mengisi materi keaswajaan pada santri Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi).
Ketua LDNU Sumenep, Kiai Imam Sutaji saat mengisi materi keaswajaan pada santri Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi kiblat peredam umat yang usianya hampir memasuki satu abad. Banyak orang luar negeri datang ke Indonesia untuk belajar cara berdamai dengan saudara-saudaranya di sana.

 

Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep, Kiai Imam Sutaji saat mengisi materi keaswajaan pada santri Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep, Selasa (13/7/2021) di Auditorium Ar-Rachmah pesantren setempat.

 

"Mengapa NU tidak pernah mati? Karena NU didirikan oleh masyaikh luar biasa. Melalui tirakat, para muassis sepakat mendirikan jam'iyah," tutur Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu.

 

Dirinya menjelaskan, ada tiga sebab carut-marut pergolakan dalam tubuh jam'iyah. Pertama adalah warga NU sukses mengantarkan tapi gagal mendampinginya.

 

"Ketika jadi orang penting, tiba-tiba ia lupa pada NU," imbuh tenaga pendidik di Pondok Pesantren Al-Ihsan Jaddung Pragaan tersebut.

 

Kedua, krisis kebanggaan dan lebih menyayangi milik orang lain daripada miliknya sendiri. Sama halnya dengan istilah, rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri.

 

"Namun alhamdulillah, saat ini sudah banyak santri yang menggunakan baju, kopiah, pin, gantungan kunci yang dengan logo NU. Bahkan teriakan ‘Siapa Kita’ adalah bagian cara kita untuk mencintai NU," ungkapnya.

 

Ketiga, NU selalu dilemahkan dan tidak diberikan kesempatan dalam mengampu kebijakan. Tidak sedikit pesantren yang tidak menampakkan dirinya berlatar NU.

 

Sejarah Lahirnya NU

Dosen Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk itu menceritakan sejarah lahirnya NU pada santri. Pada tahun 1912, Muhammadiyah didirkan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta sebelum Indonesia merdeka. Secara historis, Ormas tersebut menjadi corong dan mengajak umat Islam untuk mengamalkan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

 

"Pada tahun 1918, ada kelompok diskusi yang tidak bernama. Anggotanya adalah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari, KH Abd Wahab Chasbullah, Oemar Said Tjokroaminoto, Soekarno, dan tokoh lainnya berkumpul di situ. Mereka mendiskusikan bentuk negara pasca merdeka. Saat itu Indonesia disebut Nusantara," kisahnya.

 

Hingga akhirnya kemudian kelompok diskusi tak bernama tersebut diberi nama Taswirul Afkar pada tahun 1919. Satu tahun kemudian tepatnya 1920, kurang lebih 60 ulama dan kiai sowan ke Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Para masyaikh meminta pendapat kepadanya tentang kondisi bangsa yang mulai goyah, ditambah hadirnya Belanda beserta sekutunya.

 

“Saat itu, Mbah Kholil hanya membaca sebuah potongan ayat Al-Qur'an, hingga kemudian masyaikh pulang ke kediamannya masing-masing. Sebab kandungan ayat tersebut menandakan bahwa kelak akan ada peperangan dan perdamaian," terangnya.

 

Dirinya melanjutkan, tahun 1923 Kiai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah wafat. Dan pada tahun 1924 awal, Mbah Kholil memerintahkan KHR As'ad Syamsul Arifin yang masih berstatus santri untuk mengantarkan tongkat kepada KH M Hasyim Asy’ari di Jombang.

 

 

"Ketika tongkat tersebut diterima, muncul keinginan untuk mendirikan perkumpulan ulama. Namun beliau masih belum berani mendirikannya, sebab sang guru masih ada," tuturnya.

 

Pada tahun 1924 akhir, Mbah Kholil meminta kembali kepada Kiai As'ad untuk mengantarkan tasbih kepada muridnya di Jombang sambil membaca Ya Jabbar Ya Qahhar.

 

"Dengan diterimanya tasbih ini, mbah Hasyim semakin kuat untuk mendirikan jam'iyah. Mengingat, waktu itu warga mulai terpengaruh dengan faham Wahabi, dan fitnah bertebaran di mana-mana. Misalnya, membid'ahkan dan mensyirikkan ziarah kubur, maulidan, tahlilan, dan sejenisnya," katanya.

 

Pada tahun 1924, Mbah Hasyim didesak, sebab ada banyak aliran luar yang menggembar-gemborkan faham ini. Kejadian itu berbarengan dengan Raja Makkah Syarif Husain bin Ali dikudeta oleh saudaranya sendiri, yakni Raja Abd Aziz bin Saud.

 

"Faham yang merupakan sempalan dari Khawarij itu ingin mengadakan multaqo Islam di dunia melalui utusan negara. Indonesia tidak diundang, sebab belum merdeka, kecuali melalui organisasi," imbuhnya.

 

Tahun 1925 Mbah Kholil wafat. Satu tahun kemudian, Mbah Hasyim mendirikan jam'iyah pada tanggal 31 Januari 1926. Saat itu didirikanlah Komite Hijaz dengan mengutus Mbah Wahab untuk mengikuti pertemuan di Arab Saudi.

 

 

Kiai Wahab berangkat dengan membawa berbagai usulan. Di antaranya adalah membiarkan umat Islam mengamalkan ajaran Islam dengan jalan madzhab dan meminta agar kuburan Nabi tidak dibongkar. Usulan ini dibawa dan disampaikan kepada Raja Arab yang menyatakan bahwa ajaran umat Islam tidak sempurna karena masih menyembah kuburan..

 

 “Boleh jadi, jika tidak ada NU maka kuburan Nabi akan dibongkar. Jadi jasa NU adalah menyelamatkan kuburan Nabi," pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Madura Terbaru