• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 27 Mei 2022

Madura

Ketua NU Bangkalan: Spirit Muktamar adalah Tabi'ul Ulama

Ketua NU Bangkalan: Spirit Muktamar adalah Tabi'ul Ulama
Ketua PCNU Bangkalan, KH Muhammad Makki Nashir (kanan) bersama Wakil Sekretaris PCNU di kanal Youtube NU Bangkalan TV. (Foto: (NOJ/Sa'dullah)
Ketua PCNU Bangkalan, KH Muhammad Makki Nashir (kanan) bersama Wakil Sekretaris PCNU di kanal Youtube NU Bangkalan TV. (Foto: (NOJ/Sa'dullah)

Bangkalan, NU Online Jatim

Menjelang Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, KH Muhammad Makki Nashir memberikan catatan. Hal itu disampaikan melalui media resmi kanal Youtube PCNU setempat, Rabu (03/11). 

 

"Memang muktamar kali ini menjadi perhatian khusus karena menyongsong abad kedua,” katanya. 

 

Disampaikan Kiai Makki bahwa secara alami yang namanya abad kedua pasti dimulai dengan titik nadir untuk memasuki era berikutnya sehingga muncul pembaharuan. 

 

“Nah, (tugas kita adalah) bagaimana caranya bagi pembaharuan nanti abad kedua ini masih nyambung dengan abad sebelumnya terkait dengan esensi," tuturnya.

 

Dalam proses pembaharuan ini tentu tidaklah mudah, akan ada banyak rintangan yang harus dihadapi. Ia kemudian mengingatkan isyarah Syaikhana Kholil pada proses pembentukan jamiyah NU pada tahun 1920-an. Isyarah itu berupa ayat Yurīdụna liyuṭfi`ụ nụrallāhi bi`afwāhihim, wallāhu mutimmu nụrihī walau karihal-kāfirụn (Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya).

 

"Ini kan menunjukkan bahwa rintangan itu pasti ada, namun jangan jadikan rintangan itu sebuah hambatan tapi jadikanlah sebagai tantangan, karena Allah Ta'ala pasti akan menolong," ujarnya.

 

Nah, di dalam itmam (penyempurnaan) ini, kata Kiai Makki, butuh sebuah ikhtiar dalam menjaganya. Maka ketika berbicara tentang jamiyah ini, yakni jamiyatul ulama bukan jamiyatul umara. 

 

“Ketika NU ini jamiyatul ulama, maka kita harus menjaga tradisi ulama, yakni tabi'ul ulama (mengikuti ulama, red). Maka ulama di NU ini harus betul-betul kuat dan berkekuatan agar mampu mengontrol manajemen pengelolaan organisasi,” jelasnya.

 

Sedangkan menurut Wakil Sekretaris PCNU Bangkalan, Ahrori Dlofir, menjaga tradisi ulama atau tabi'ul ulama yang dimaksud adalah penguatan NU di bagian syuriyah. Hal ini dikarenakan posisi tersebutlah yang sering bersentuhan langsung dengan masyarakat.

 

"Kenapa syuriyah? Karena syuriyah ini kan yang tahu kondisi di lapangan dan sering bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga posisi syuriyah harus betul-betul kuat agar bisa membimbing masyarakat dan memberikan pembaharuan di dalamnya,” ungkapnya. Sedangkan tanfidziyah sebagai pelaksana tentu harus selalu berkoordinasi dengan syuriyah sebagai posisi teratas di NU, lanjutnya.

 

Ke depannya, diharapkan muktamar nanti bagaimana caranya tradisi ulama (tabi'ul ulama) ini betul-betul bisa dijaga dan diikuti bersama.

 

“Kalau dalam bahasa sehari-hari itu, kita sebagai santri ikut apa yang dikatakan ulama, kita kan mengabdi kepada NU, oleh karenanya kita harus patuh kepada NU dan ulama NU," pungkas Ahrori.


Editor:

Madura Terbaru