• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 26 Mei 2022

Madura

Selamanya Santri Memerlukan Bimbingan Guru

Selamanya Santri Memerlukan Bimbingan Guru
Bimbingan guru tetap dibutuhkan walau santri telah berada di luar pesantren. (Foto: NOJ/LIp)
Bimbingan guru tetap dibutuhkan walau santri telah berada di luar pesantren. (Foto: NOJ/LIp)

Bangkalan, NU Online Jatim
Hubungan santri dengan guru tidak hanya ketika berada di pesantren, akan tetapi tidak ada batas sampai kapan pun. Sebab sampai kapanpun santri terus memerlukan bimbingan guru.

 

“Ketika sudah boyong dari pondok pesantren dan madrasah, jangan sampai lupa pada gurunya yang telah mengajarkan ilmu agama,” kata Kiai Mukhtar Syafaat, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop, Bangkalan, Selasa (26/10).

 

Hal tersebut disampaikan mengisi kajian kitab dalam rangka silaturahim alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop.

 

Kiai Mukhtar juga menjelaskan bahwa ada banyak cobaan seorang santri atau murid ketika sudah berhenti dari pondok pesantren, di antaranya adalah cenderung lupa pada gurunya. Mereka tidak sadar bahwa semua ilmu dan pengetahuan keagamaan yang dimiliki merupakan hasil dari ajaran gurunya.

 

Lebih dari itu, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Bangkalan itu menjelaskan bahwa di antara etika santri memang tidak boleh melupakan gurunya. Semua anugerah yang didapatkan oleh murid berupa ilmu dan pengetahuan melalui gurunya bukan yang lain.

 

“Di antara etika santri jangan sampai lupa pada guru dan anugerah yang diberikan gurunya,” jelas anggota Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur itu.

 

Acara yang berlokasi di rumah Ustadz Ya’qub, salah satu alumni Pesantren Al-Hikmah tersebut dihadiri sejumlah alumni dari berbagai kawasan.

 

Selain penjelasan di atas, menurut Kiai Mukhtar, tidak ada istilah mantan guru, guru itu ya selamanya. Dengan kata lain, ketika sudah boyong dari madrasah atau pesantren kemudian pindah pada madrasah atau pesantren lain, menganggap bahwa guru pertama yang mengajarkan ilmu kepadanya sebagai mantan guru yang pernah mengajarkan ilmu.

 

“Semoga kita bisa menjadi murid atau santri yang tidak lupa pada jasa-jasa para guru yang telah berjuang menyelamatkan dari kebodohan, kehinaan menuju kehidupan dengan dituntun oleh ilmu dan pengetahuan, sehingga menjadi manusia yang mulia,” harapnya.

 

Penulis: Sunnatullah


Editor:

Madura Terbaru