• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Madura

Komunitas Gowes Annuqayah Tumbuhkan Rasa Peduli pada Dhuafa

Komunitas Gowes Annuqayah Tumbuhkan Rasa Peduli pada Dhuafa
Lora Muhammad Nubail Hanif Hasan bersama Komunitas Gowes Annuqayah Kobra Hitam sedang menyapa warga. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Lora Muhammad Nubail Hanif Hasan bersama Komunitas Gowes Annuqayah Kobra Hitam sedang menyapa warga. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Belakangan ini gowes atau bersepeda sangat digemari oleh beberapa kalangan, termasuk Lora Muhammad Nubail Hanif Hasan, putra KH A Hanif Hasan selaku Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Tidak hanya gowes, bersama komunitasnya bernama ‘Kobra Hitam’ juga melakukan kepedulian kepada dhuafa.


Lora Nobel, sapaan akrabnya mengatakan, hal tersebut ia lakukan terinspirasi dari gurunya, yakni KHR Ahmad Azaim Ibrahimy Situbondo. Menurutnya, Kiai Azaim selalu mengajak santrinya yang tergabung dalam Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Sukorejo, Situbondo untuk bersepeda.


“Kami hobi bersepeda sejak awal bulan Februari 2020, yang terinspirasi dari Kiai Azaim. Dulu kami gemuk, sejak bersepeda berat badan jadi turun. Karena bersepeda bisa membakar lemak, mengurangi polusi, ramah lingkungan, menyehatkan badan, dan bisa melihat pemandangan alam,” ujarnya saat dikonfirmasi NU Online Jatim, Sabtu (11/06/2022).


Sambil gowes, lanjutnya, setiap pekan satu kali, pihaknya bersama komunitas gowes Kobra Hitam membagi-bagikan beras pada dhuafa. Hal ini terinspirasi dari almarhum KH Ahmad Basyir yang sering menyuruh santri untuk mengantarkan sembilan bahan pokok (Sembako) pada dhuafa.


“Kiai Basyir sangat dekat dengan masyarakat, tahu kondisi ekonominya, bahkan mengantarkan sendiri secara door to door. Maksudnya, almarhum ingin tahu bagaimana rasanya jadi dhuafa,” kenangnya.


Tak hanya itu, ketika mendapat laporan dari masyarakat, Lora Nobel bersama tim membesuk beberapa masyarakat yang sakit. Biasanya warga tersebut tidak mampu berobat ke rumah sakit ataupun Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) lantaran ekonominya lemah.


“Kemarin kami mendatangi Ibu Anisatul di Dadduwih, Guluk-Guluk. Dia sudah 2 tahun kakinya membusuk karena terjangkit diabetes. Kediamannya sulit sekali diakses pakai mobil. Jika hujan, tidak bisa dilalui sepeda motor, karena berlumpur,” ungkapnya.


Berangkat dari problem ini, dirinya memposting di akun facebook agar khalayak tahu bahwa Ibu Anisatul membutuhkan pertolongan. Gerakan lainnya, ia mengajak masyarakat untuk peduli, hingga pada akhirnya mendapat respons dari jajaran masyayikh Pesantren Annuqayah.


“Alhamdulillah, para masyayikh dan masyarakat membantu Ibu Anisatul untuk mendapatkan pertolongan. Seluruh pembiayaan ditanggung oleh masyaikh. Dan sekarang sudah dirawat di RSUD Sumenep,” tuturnya.


Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu mengatakan bahwa, komunitasnya memiliki perkumpulan rutin yang dilaksanakan setiap malam Jum’at. Kegiatan tersebut diisi dengan pengajian kitab Nurul Uyun dan diikuti oleh anggota serta beberapa masyarakat sekitar.


“Anggota Kobra Hitam terdiri dari alumni, santri aktif dan masyarakat. Saat melakukan gowes, paling banyak 15 orang, dan saat melakukan aksi sosial, cukup melibatkan 5-10 orang saja. Paling jauh gowes sampai ke Kecamatan Gapura, di bagian timur Sumenep,” terangnya.


Dijelaskan pula, rutinitas gowes biasanya dimulai pukul 05.30 WIB, karena udara masih bersih atau bebas polusi. Jika melakukan perjalanan jauh, terkadang sampai pukul 19.00 WIB baru kembali pulang. Untuk jarak dekat, sekitar pukul 08.00 WIB sudah kembali.


“Saat kami gowes, kami tidak mengayuh dengan cepat, tetapi dengan santai. Artinya, di setiap perjalanan, kami bisa menikmati pemandangan alam. Bekal bawa sendiri, terkadang para alumni yang ada di beberapa kecamatan memberi suguhan,” imbuhnya.


Lora Nobel menegaskan, kegiatan gowes tersebut lebih memprioritaskan pada kegiatan sosial kemasyarakatan. Targetnya menyapa masyarakat di pelosok pedesaan, bonusnya adalah alam.


“Tidak semua anggota memiliki sepeda gunung. Ada juga yang menggunakan sepeda murah. Hal terpenting adalah bisa bersepeda,” tandasnya.


Madura Terbaru