• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Madura

Film Basiyat Karya Alumni Pesantren Annuqayah Usung Spirit Multikultural

Film Basiyat Karya Alumni Pesantren Annuqayah Usung Spirit Multikultural
Ahmad Faiz, alumni Pesantren Annuqayah sekaligus Sutradara Film Basiyat tengah mengarahkan talent-nya. (Foto: Dok. Sinemadura)
Ahmad Faiz, alumni Pesantren Annuqayah sekaligus Sutradara Film Basiyat tengah mengarahkan talent-nya. (Foto: Dok. Sinemadura)

Sumenep, NU Online Jatim
Ahmad Faiz, alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep punya karya film berjudul ‘Basiyat’. Film tersebut mengangkat spirit multikulturalisme di lingkaran masyarakat Madura, khususnya ‘perseteruan’ antara kiai dan bajing dalam menyikapi suatu persoalan.


Sutradara film Basiyat, Ahmad Faiz mengatakan, bahwa film yang diproduksi Sinemadura tersebut mengisahkan polemik antara kiai dan bajing dalam menghadapi wasiat (basiyat) seorang bajing lainnya yang pemabuk untuk dimandikan dengan arak atau tuak saat meninggal dunia, bukan air sebagaimana biasanya.


“Film Basiyat ini memiliki tujuan untuk mempertemukan polemik beberapa elemen di masyarakat, khususnya antara kiai dan bajing. Di mana kiai dan bajing mempunyai padanan sosial yang kuat dengan kultur-kultur yang pas pada bagian-bagian tertentu,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Selasa (17/05/2022).


Ia menambahkan, film tersebut merupakan alih wahana dari karya cerpenis senior Indonesia M Shoim Anwar berjudul ‘Mandikan Mayatku dengan Tuak’. Setelah dilakukan MoU dengan penulis cerpen, pihaknya kemudian melakukan riset dan menulis naskahnya.


“Kemudian, teman saya penulis naskahnya Ratna Putri Wardani turun ke Madura melakukan riset kurang lebih selama 10 hari. Dan akhirnya menemukan beberapa elemen-elemen yang bisa disimboliskan tanpa harus diceritakan dengan lebar,” ungkapnya.


Pria asal Kecamatan Ganding tersebut menyebutkan, lokasi syuting dilaksanakan di Desa Ganding Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep. Hal tersebut cukup beralasan karena Madura, khususnya Sumenep, masih murni tempaan alam dalam menyikapi suatu konflik atau peristiwa. Bahkan, Sumenep menjadi sasaran pertama yang sangat elegan jika difilmkan dan dipasarkan di kancah Asia.


“Selain itu, kami ingin mendekatkan seni film terhadap masyarakat Sumenep dan menjadikan film sebagai media edukasi yang menarik,” tegas lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta ini.


Disebutkan, bahwa film tersebut merupakan film kedua, setelah film dokumenter ‘Annuqayah, Menuju Teater Pesantren’. Hingga saat ini, film Basiyat telah diputar diajang Singhasari Resort Kota Batu dan Teater Besar ISI Surakarta.


Sejumlah penghargaan diraih film garapan alumni SMA 1 Annuqayah tersebut. Di antaranya, sebagai film terbaik East Java Film Call 2021 dan syuting tugas akhir pertama yang menggunakan kamera sinema di ISI Surakarta.


Pesantren dan Seni Film
Disinggung soal relasi pesantren dan seni perfilman, Ahmad Faiz mengatakan bahwa seni film bukanlah hal yang tabu bagi kalangan pesantren. Meskipun tidak diketahui secara utuh, setidaknya dasar-dasar seni peran yang erat kaitannya dengan perfilman diketahui oleh kaum santri.


“Dulu ketika saya mondok di Annuqayah daerah Kusuma Bangsa, ikut Sanggar Basmalah di Lubangsa Selatan. Dan di sana, saya belajar tentang seni pertunjukan yang kemudian membawanya untuk merambat ke kesenian film dan saya tekuni melalui jalur akademisi,” katanya.


Ketertarikannya pada seni perfilman dimulai pada tahun 2015 saat pentas di Taman Budaya Jawa Tengah dalam acara Hari Teater Dunia #1. Di sana dirinya banyak berkenalan dengan pegiat film dan mengantarkannya hingga detik ini di dunia perfilman.


“Sejak itu saya mulai tertarik dan kemudian memberanikan diri untuk kuliah film dengan modal kosong tentang ilmu disiplin film,” tuturnya.


Menurutnya, stereotip tentang santri yang bisa dibilang hanya berkutat di ranah keagamaan saja perlu dilawan dengan karya nyata para santri. Karena dengan demikian santri akan mendapatkan apa yang didamba berkat barakah para masyaikh.


“Menjadi kiai ataupun seniman asalkan di jalan yang Tuhan restui dan ridhai, insyaallah masih diberkahi masyayikh,” tegasnya.


Madura Terbaru