• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 18 Agustus 2022

Madura

Pesantren Annuqayah Kembangkan Budi Daya Lele Bioflok

Pesantren Annuqayah Kembangkan Budi Daya Lele Bioflok
Seorang pengelola sedang memberi pakan lele yang dibudi daya oleh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Seorang pengelola sedang memberi pakan lele yang dibudi daya oleh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Pesantren pada umumnya identik dalam mencetak generasi yang berkepribadian muslim lewat kitab-kitab klasik dan ilmu pengetahuan agama. Namun, tidak hanya sebatas itu saja yang diajarkan di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep. Yakni, dengan membekali santri budi daya lele bioflok.

 

Kiai Ahmad Faidi selaku manajer mengatakan, bahwa budi daya lele yang dimanfaatkan di pesantren tertua di Kabupaten Sumenep tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Perikanan RI pada tahun 2017 lalu.

 

"Bantuan yang diberikan kala itu meliputi, kolam 36 beserta peralatan gelembung oksigen, 2000 bibit lele per-kolam, pakan ikan sekitar 1 ton lebih, seperangkat galvalum, dan tanaman organik," ujarnya kepada NU Online Jatim, Rabu (17/11/2021).

 

Menurut Kiai Faidi, pada mulanya budi daya lele tersebut dikelola oleh pihak yayasan. Namun, karena sejumlah hal dirinya diamanahi untuk mengelola budi daya lele bioflok tersebut.

 

"Karena beberapa hal, budi daya lele tersebut merosot. Dan akhirnya kami dipercaya untuk mengelola hingga saat ini," terangnya.

 

Sementara Afifurrahman selaku pengelola menyampaikan, setiap panen mencapai 180-200 kilogram dalam 1 kolam yang dilakukan dalam kurun waktu dua bulan sekali. Hal tersebut membuat pemasaran ikan berjalan lancar.

 

"Hal demikian bisa terjadi karena air di masing-masing kolam dikontrol dengan baik, yang berdampak pada ikan lele yang sehat," sebut Afif. 

 

Santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee tersebut menjelaskan, saat siklus pertama, ada 2500 bibit yang ada dalam satu kolam, kemudian disortir atau dijadikan dua kolam. Bibit itu ditunggu selama 15 hari untuk dipanen. Sedangkan siklus kedua, menunggu selama 20 hari untuk panen.

 

"Harganya per kilogram Rp20.000. Biasanya berisi 10-11 ekor lele besar,” ujarnya.

 

Mahasiswa Ekonomi Syariah (ES) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu bersyukur. Karena konsumennya tidak hanya datang dari kalangan masyarakat di sekitar pesantren, melainkan sejumlah daerah di Kabupaten Sumenep.

 

“Seorang warga di Kecamatan Ambunten sering membeli hingga 250 kilogram. Ada pula warga Kecamatan Ganding sering pesan 150 kilogram. Untuk tetangga sekitar biasanya beli 7 kilogram. Terkadang ada yang ngecer," terangnya.

 

Menurut Afif, setiap panen omsetnya mencapai hingga jutaan rupiah. Lele tersebut diberi pakan dua kali sehari. Adapun pakannya bermacam-macam sesuai dengan ukuran besarnya lele. Untuk lele berukuran kecil pakannya menggunakan Pro-Vit 1000, ukuran sedang PV 782-1, sedang lele berukuran besar PV 782-2.

 

“Pakan ini kami biasa membeli ke Pamekasan ketika stok pakan hampir habis. Sedang lelenya membeli setiap dua bulan sekali sebanyak 6.000 bibit," ungkapnya.

 

 

Kolam budi daya lele itu memiliki tiga karyawan, dua orang dari kalangan santri, dan satu orang masyarakat  luar pesantren. Basyir Tamami seorang karyawan lainnya mengatakan, saat panen hasilnya disetor ke Yayasan Pesantren guna membangkitkan perekonomian.

 

Dirinya mengaku tidak mendapatkan gaji dari pekerjaannya tersebut. "Namun, hal itu tidak membuat saya berhenti bekerja di sini, karena saya menganggap hal ini sebagai pengabdian kepada pesantren," tandasnya.


Madura Terbaru