• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 30 Januari 2023

Madura

Kuliah Umum Instika, Ahmad Barizi: Pesantren Konsisten Kokohkan Peradaban Islam

Kuliah Umum Instika, Ahmad Barizi: Pesantren Konsisten Kokohkan Peradaban Islam
suasana kuliah umum mahasiswa Pascasarjana Instika Guluk-Guluk. (Foto: NOJ/Firdausi)
suasana kuliah umum mahasiswa Pascasarjana Instika Guluk-Guluk. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Pesantren, sekalipun mendidik para santri untuk tafaqquh fid dîn, juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Berangkat dari hal tersebut, Program Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman
Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep, mengadakan kegiatan kuliah umum yang bertajuk ‘Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam dalam Merespon Perubahan Sosial di Era Industri 4.0/5.0’ bersama H Ahmad
Barizi selaku Ketua Prodi S-3 PAI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (15/11/2021) di Aula Mini Instika.

Rektor Instika Guluk-Guluk, KH Ahmad Syamli Muqsith menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan pengantar bagi mahasiswa Pascasarjana agar dapat bertahan dan beradaptasi di era industri 4.0 atau 5.0.

"Tentu ada sebuah formula khusus guna menghadapi revolusi industri 4.0 ini. Formula tersebut bernama 21st century skills yang bermuatan 4C, yakni critical thinking, creativity, collaboration, dan communication," tuturnya saat mengawali sambutan.

Ia juga membahas lebih detail terkait empat formula yang digunakan untuk menghadapi dunia industri 4.0 atau 5.0. Pertama, critical thinking, santri haruslah berpikir kritis melihat dunia luar.

“Ilmu harus digali secara lebih luas serta mendalam, mampu memahami sebuah problem yang rumit serta mampu mengkoneksikan berbagai informasi sehingga memunculkan berbagai perspektif yang kemudian
memunculkan sebuah gagasan dan solusi. Akan tetapi santri harus tetap berpegang kepada akidah,” ungkap dewan masayikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu.

Kedua, creativity. Kreativitas juga harus ditunjukan dengan cara membuat terobosan dan menemukan sesuatu yang baru.

“Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, kreativitas dapat menghasilkan hal-hal baru yang biasanya bernilai ekonomis. Hal ini akan membuat santri berdaya dalam bidang industri. Bagaimana bisa bersaing bila tidak dapat menciptakan hal yang baru,” ungkapnya.

Ketiga, collaboration. Santri pasti sadar dan tahu bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang Allah ciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, memiliki jaringan luas serta berkolaborasi alias saling
bekerja sama, dan bersinergi menyatukan potensi dengan sesama.

“Yang terakhir adalah communication, merupakan salah satu kunci sukses dalam hidup ini, banyak sekali problem bermunculan yang hanya berawal dari miscommunication. Dan seorang santri tidak akan terlihat cerdas jika tidak bisa menyampaikan gagasannya dengan baik, apalagi jika dalam berkhotbah atau ceramah, seorang santri dituntut memiliki retorika komunikasi yang handal, maka keterampilan komunikasi
sangatlah penting," jelasnya.

Pada saat yang sama, H Ahmad Barizi yang bergerak sebagai penyaji mengawali penyampaiannya dengan mengulas dengan urgensi pesantren di Nusantara ini.

"Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam sebagai wadah penyemaian kaum intelektual-akademis, berpotensi untuk menjadikan agama sebagai alat pembebas dari apa yang disebut kerumunan massa yang cenderung jumud," ujarnya.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu juga membahas keunggulan dan kelemahan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam.

“Keunggulan pesantren antara lain, memungkinkan semua potensi santri terakomodasi secara sama, meniscayakan pembelajaran intensif selama 24 jam, melangsungkan pendidikan sepanjang hidup, dan mengokohkan peradaban Islam yang salih. Sedangkan kelemahannya adalah kerepotan memposisikan dirinya di tengah realitas sosial yang semakin cepat, metodologi pembelajaran menekankan kepada transmisi keilmuan klasik, dan kepemimpinan yang cenderung hierarkis dan ideologis," tambahnya.

Di akhir penyampaiannya, alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memberikan langkah-langkah agar pesantren dan perguruan tinggi dapat merespon perubahan sosial yang terjadi di dunia industri 4.0 atau 5.0 saat ini.

"Diperlukan revitalisasi sistem pendidikan yang berkelanjutan, membekali kecakapan industri global dengan literasi, karakter, dan kompetensi, serta menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul yang memadukan pengetahuan dan penguraian masalah," pungkasnya.


Madura Terbaru