• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Madura

Jelang Pilkades Serentak, Ini Pesan Rais dan Ketua NU Sumenep

Jelang Pilkades Serentak, Ini Pesan Rais dan Ketua NU Sumenep
KH Hafidizi Syarbini saat memberikan pengarahan kepada pengurus NU. (Foto: NOJ/ Firdausi).
KH Hafidizi Syarbini saat memberikan pengarahan kepada pengurus NU. (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Sejumlah desa di Kabupaten Sumenep akan melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) pada tanggal 25 November mendatang. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Hafidzi Syarbini mengingatkan beberapa hal terkait Pilkades ini.

 

Selain Kiai Hafidzi, Ketua PCNU Sumenep KH A Pandji Taufiq juga menyampaikan pesan khusus menjelang pesta demokrasi tingkat desa tersebut.

 

Kiai Hafidzi mengingatkan bahwa bukan soal siapa pilihannya. Sebab, hal itu merupakan kecenderungan hak pribadi sebagai warga negara. Ia menekankan bahwa siapa pun yang terpilih sebagai Kades adalah takdir Allah SWT.

 

"Yang menang jangan bereuforia. Yang kalah sabar. Baik yang kalah atau yang menang, kalau tidak bisa menerima ketentuan Allah berarti tidak mau pada takdirnya Allah. Allah tak mungkin dzalim kepada hambanya,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara Bahtsul Masail dan Konsolidasi PCNU Sumenep di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Rubaru, Ahad (14/11/2021).

 

Dalam acara yang berlangsung di rumah Kades Karang Nangkah, Dusun Langgar, Desa Karang Nangkah, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep itu, Kiai Hafidzi menjelaskan bahwa apabila yang ditakdirkan terpilih dalam pandangan manusia jelek, itu cerminan kondisi rakyat yang masih banyak ingkar pada perintah Allah SWT.

 

"Apa pun ketentuan Allah tetap bersyukur. Yang terjadi itu pilihan-Nya. Kalau ada pemimpin jelek, salah atau benar tetap ada manfaatnya bagi rakyat. Jangan mengambil jalan permusuhan karena pemilihan. Semoga yang dipilih Allah nanti yang terbaik dzahiran wa bathinan bagi umat," doa alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah tersebut.

 

Berkaitan dengan pesta demokrasi itu, Kiai Pandji mengaitkan Pilkades dengan posisi NU. Dirinya mengibaratkan NU ini wadah, bukan air.

 

"Kalau wadahnya goncang apalagi airnya. Kita wadah ini harus tampil tenang, agar warga tidak goncang," tuturnya menasehati.

 

Tak hanya itu, ia mencontohkan kalau ada politik uang masih suka, wadah ini belum tenang. "Tenang artinya kita juga jangan jadi provokator. Kalau ada teman kita tergoda, kita saling mengingatkan agar kokoh," tambahnya.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu menambahkan, NU ini bukan milik pengurus, tetapi milik ulama, milik muassis.

 

“Kita hanya menghamba pada ulama. Kita harus menampilkan diri kita menjadi ulama, kalau tidak bisa seperti menjadi kiai. Kita di NU ini menyekolahkan diri kita, membawa indra kita, yakni lisan, mulut, telinga seperti para muassis NU," tuturnya.

 

Kemudian, Kiai Pandji mengingatkan bahwa Pilkades rawan perbedaan, perlawanan, bukan permusuhan. Sebuah perlawanan sama dengan permainan bulu tangkis, ada lawan tanding, bukan musuh tanding. Melihat orang lain dalam konteks sosial masyarakat tak ada musuh, yang ada lawan tanding.

 

"Dalam pertandingan, pemilik lapangan itu adalah NU. NU secara organisasi jangan turun derajat masuk dalam pergulatan lawan tanding," pintanya.

 

Kiai Pandji berharap agar Pilkades nanti aman dan lancar. Apa pun yang terjadi tak boleh ada permusuhan sebab Pilkades.

 

“Mereka semua adalah saudara kita, bukan hanya saudara seagama, sesama anak bangsa bahkan sesama manusia,” tuturnya.

 

 

Di akhir sambutannya, ia meminta agar pengurus dan warga NU menyisakan waktunya untuk mendoakan agar Pilkades berjalan aman, lancar penuh barokah.

 

"Kita mohonkan kepada Allah SWT agar Covid-19 segera berlalu dari negeri kita," pungkasnya.


Editor:

Madura Terbaru