• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Madura

Nilai Nasionalisme dalam Syair Kiai Ilyas Syarqawi, Begini Penjelasannya

Nilai Nasionalisme dalam Syair Kiai Ilyas Syarqawi, Begini Penjelasannya
Kiai Al-Faiz beri tausiyah. (Foto: NOJ/Firdausi)
Kiai Al-Faiz beri tausiyah. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim 

Ideologi dan perjuangan masayikh Annuqayah Guluk-Guluk tergambar dalam syair KH M Ilyas Syarqawi, khususnya tentang nilai-nilai nasionalisme yang kemudian dipraktekkan oleh adik kandungnya, yakni KH Abdullah Sajjad.

 

Pernyataan ini disampaikan oleh KH Muhammad Al-Faiz Sa'di Amir pada acara Haul Masayikh Annuqayah dan Pelantikan Pengurus Ranting Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-Kecamatan Pragaan, Kamis (18/08/2022) di Pondok Pesantren An-Nusyur Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.

 

"Bangsa Indonesia berbahagia. 17 Agustus bersukacita. Sebab Allah telah melimpahkan karunia pada bangsa," ujarnya saat menerjemahkan syair Kiai Ilyas.

 

Syair yang digubah oleh Kiai Ilyas ini menegaskan pada santri bahwa terdapat nilai-nilai ideologi yang wajib diteruskan oleh anak biologis dan ideologis. Sang syahid telah mencurahkan segala kemampuan dan menumpahkan darahnya di medan perang demi kemerdekaan Indonesia.

 

"Sebesar apapun jasa kita, sedikit pun jangan merasa berjasa. Kembalikan semua kepada Allah. Sebaliknya, Annuqayah besar bukan karena saya jadi pengasuh dan pengurusnya. Hilangkan pikirkan itu. Sebesar apapun jasa dan mengabdi seseorang, jangan sedikitpun merasa berjasa. Karena orang yang merasa berjasa, sejatinya tidak punya jasa apa-apa," terangnya.

 

Menurutnya, syair itu harus dijadikan pedoman hidup oleh santri dalam membesarkan IAA di manapun mereka mengabdi. Kerena pengabdian tidak berorientasi pada fasilitas dan kenyamanan, tetapi berorientasi pada perjuangan dan pengorbanan.

 

"Kita harus mengorbankan diri dan harta kita. Artinya, mengabdi tak mengharapkan sesuatu tetapi apa yang kita berikan. Merdeka perspektif masayikh Annuqayah adalah memantapkan batin untuk menghamba pada Allah. Bukan pada fasilitas dan nama tenar," ungkap masayikh Pondok Pesantren Jalaluddin Rumi Jenggawah, Jember itu.

 

Kiai Faiz mengimbau untuk bersabar dalam mengendalikan diri, khususnya mengatakan sesuatu yang belum tepat dikatakan atau tanpa memandang seseorang.

 

"Pasalnya masayikh Annuqayah sangat berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu," pungkasnya.


Madura Terbaru