• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Madura

Begini Upaya Pesantren Annuqayyah Tangani Santri tidak Kerasan

Begini Upaya Pesantren Annuqayyah Tangani Santri tidak Kerasan
Pengurus BK Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk, konsultasikan problem santri pada Kiai Zamzami Sabiq Hamid di ruang pengurus setempat.
Pengurus BK Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk, konsultasikan problem santri pada Kiai Zamzami Sabiq Hamid di ruang pengurus setempat.

Sumenep, NU Online Jatim 

Setiap pesantren di Indonesia memiliki tata tertib, program yang padat, kurikulum kekhasan, dan lainnya. Dibalik itu, terdapat problem yang lumrah di terjadi setiap tahun, yakni tidak kerasan. 


Menyikapi problem ini, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk, Sumenep, sengaja hadirkan Ketua Himpunan Psikologi (HIMPSI) Cabang Sumenep, Kiai Zamzami Sabiq Hamid, Jumat (20/05/2022) di ruangan pengurus setempat. Sharing ini diikuti oleh pengurus Bimbingan Konseling (BK) pesantren setempat. 


Berdasarkan penuturan Kiai Zamzami, sebenarnya pengurus khusus yang menangani BK di pesantren dilatih khusus untuk menangani problem-problem yang dialami oleh santri. 


"Beberapa teknik sudah banyak dikuasai oleh konselor santri di Lubangsa. Mulai pendekatan behavioral, humanistik, psikolanalisa, bahkan teknik berbasis sufistik dan teknik-teknik lainnya. Karena beberapa pengurus memang banyak yang berstatus mahasiswa Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi (TP) di Institut Keislaman Annuqayah (Instika) dan ada pula yang lulusan Diklat Konselor Santri yang dilaksanakan oleh Rabithah Ma'ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Sumenep," terang Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep itu. 


Dijelaskaan pula, problem yang paling banyak ditangani oleh pengurus BK adalah santri yang tidak kerasan karena berbagai faktor. Salah satunya kurang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pesantren. 


"Kami menyarankan, jika pengurus BK tidak bisa menangani problem santri, pengurus harus mengalihtangankan kasus kepada ahli. Dalam hal ini beberapa dosen Prodi TP di Instika yang tergabung dalam HIMPSI," pinta Sekretaris RMINU Sumenep itu. 


Demi pelayanan konsling, lanjutnya, forum ini di fokuskan pada teknik penggalian data dan diagnosis problem yang dialami santri.


"Termasuk teknik interview yang bisa dilakukan, khususnya dalam mempersiapkan penerimaan santri baru," pungkasnya. 


Editor:

Madura Terbaru