• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Madura

NU Turut Serta Bangun Peradaban Islam di Kancah Global

NU Turut Serta Bangun Peradaban Islam di Kancah Global
KH Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum PBNU saat Simposium Peradaban NU di Keraton Sumenep, Sabtu (05/03/2022). (Foto: NOJ/ Habib)
KH Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum PBNU saat Simposium Peradaban NU di Keraton Sumenep, Sabtu (05/03/2022). (Foto: NOJ/ Habib)

Sumenep, NU Online Jatim
Simposium Peradaban NU yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur turut menghadirkan KH Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Sabtu (05/03/2022). Pada kegiatan yang digelar di Keraton Sumenep itu, Gus Yahya menyampaikan pandangannya terkait NU di Tengah Peradaban Global Multi Polar.
 

Gus Yahya mengatakan jika peradaban merupakan suatu komposisi dari beberapa elemen yang kompleks, seperti nilai-nilai, budaya, sampai kepada tatanan sosial politik yang mengatur tatanan kehidupan masyarakat.
 

“Oleh sebab itu, dalam bahasa Inggris peradaban disebut civilization karena menyangkut civil yang artinya masyarakat,” katanya.
 

Peradaban Islam sendiri menurut Gus Yahya sudah terbangun sejak zaman Rasulullah SAW. Karena Rasulullah memiliki visi untuk membangun peradaban dari wahyu-wahyu yang disampaikan kepada manusia.
 

“Maka ketika Rasul melaksanakan perjuangan dalam bergulat memikul risalah kita akan menyaksikan bahwa seluruh perjuangannya sesungguhnya adalah merintis suatu peradaban. Karena tidak hanya memperkenalkan nilai-nilai tapi juga membangun struktur masyarakat agar dapat diterapkan di kehidupan masyarakat itu sendiri,” terangnya.
 

Setelah zaman Rasulullah, peradaban Islam sempat mentereng saat zaman Turki Utsmani namun akhirnya jatuh pada Perang Dunia I setelah perang melawan Eropa yang mengakibatkan umat Islam merasakan kebimbangan yang sangat mendalam.
 

“Merespons hal tersebut, KH Wahab Hasbullah yang berada di Mekkah saat ketegangan terjadi merasakan betul dinamika yang terjadi pada umat Islam. Sehingga Kiai Wahab bersikeras untuk membuat Komite Hijaz dengan tujuan mengetahui kemampuan Kerajaan Saudi dalam menggantikan Turki Utsmani,” jelas Gus Yahya.
 

Gus Yahya menambahkan, sepulang dari Mekkah Kiai Wahab mengusulkan kepada gurunya yaitu KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan organisasi baru yang menghimpun para ulama karena Kerajaan Saudi tidak punya kapasitas menggantikan kosntruksi peradaban Turki Utsmani.
 

“Jika tidak ada yang menggantikan, seluruh umat Islam akan mengalami kebingungan peradaban. Dalam keadaan yang bingung ini, tidak ada yang lebih bertanggung jawab untuk memberikan jalan keluar selain ulama,” tambahnya.
 

Sehingga terbentuklah Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasinya para ulama sebagai jawaban atas lahir kembali peradaban Islam.
 

 

“Itu sebabnya organisasi yang didirikan adalah organisasinya ulama yang diberi nama Nahdlatul Ulama dan gambarnya jagat karena yang bingung adalah orang sedunia. Maka mandat kita adalah mandat global,” pungkas Gus Yahya.


Editor:

Madura Terbaru