• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Madura

Pecinta Turats Se-Nusantara Berkumpul di Bangkalan, Ada Apa?

Pecinta Turats Se-Nusantara Berkumpul di Bangkalan, Ada Apa?
Pecinta Turats Se-Nusantara Berkumpul di Bangkalan. (Foto: Istimewa)
Pecinta Turats Se-Nusantara Berkumpul di Bangkalan. (Foto: Istimewa)

Bangkalan, NU Online Jatim

Sejumlah pecinta turats se-Nusantara berkumpul di Bangkalan dalam acara bertajuk ‘Pertemuan Filolog Pesantren, Kamis (25/11/2021). Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Lajnah Turats Syaikhona Muhammad Kholil dan Lajnah Turats Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari.

 

Kegiatan yang juga didukung oleh Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur ini didasari perasaan cinta akan karya ulama Nusantara.

 

Kegiatan tersebut mengundang tiga narasumber, yakni, Kiai Mujab yang membicarakan tentang Menghidupkan Turats Nusantara, Ajengan Ginanjar Sya'ban yang mengulas tentang Cara Melacak Manuskrip Keagamaan, dan Ibnu Fikri yang membincang strategi.

 

Kiai Mujab mengatakan, agar turats di Nusantara kian hidup perlu digalakkan pendidikan tahqiq, ta'liq di lingkungan pesantren. “Karena sejatinya turats termasuk bagian dari potret peradaban pesantren,” ujarnya..

 

Alumni Aligarh Muslim University ini mengimbau, agar para pegiat turats untuk terus menerus mengadakan pertemuan, seminar atau halaqah yang fokus pada persoalan tahqiq, ta'liq hingga tasnif.

 

“Hal tersebut agar nantinya pesantren memiliki banyak penulis kitab yang alim di bidang filolog,” ungkapnya.

 

Sementara Ajengan Ginanjar Sya’ban menyampaikan, bahwa tips paling mudah untuk melacak masuskrip keagamaan ialah bekerja sama dengan asosiasi pesantren atau Rabitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) yang memiliki database pesantren tua.

 

“Karena boleh jadi di pesantren itu tersimpan banyak manuskrip yang memang belum terekspose,” sebutnya.

 

Alumni Al-Azhar Mesir ini mendorong, supaya pecinta turats agar lebih percaya diri (confidence) terjun di bidang filolog. Sebab jika tidak demikian, maka akan semakin banyak orang asing yang menguasainya.

 

Sedang Ibnu Fikri mengatakan, bahwa manuskrip nusantara yang ada di Leiden terdapat kira-kira tiga kilometer bila disejajarkan berurutan. Untuk mengaksesnya pun tidaklah mudah.

 

“Namun, persoalannya adalah, sudahkah generasi milenial menyiapkan diri bila manuskrip itu dikembalikan. Untuk itu, belajar aksara kuno merupakan hal penting,” katanya.


Madura Terbaru