• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 29 Mei 2022

Madura

Diskusi Lintas Agama, PMII Bangkalan Bahas Moderasi Beragama

Diskusi Lintas Agama, PMII Bangkalan Bahas Moderasi Beragama
Diskusi Lintas Agama PMII Bangkalan bahas moderasi beragama. (Foto: NOJ/ Sa'dullah)
Diskusi Lintas Agama PMII Bangkalan bahas moderasi beragama. (Foto: NOJ/ Sa'dullah)

Bangkalan, NU Online Jatim

Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bangkalan, Mufti Shohib mengatakan, bahwa Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII mempunyai dua perspektif, yakni dari perspektif keindonesiaan dan keislaman.  Kedua hal tersebut menjadi patokan PMII dalam menjalankan moderasi beragama.

 

Penegasan tersebut disampaikan saat Diskusi Lintas Agama yang digelar Pengurus Cabang (PC) PMII Bangkalan, Ahad (21/11/2021). Kegiatan bertajuk ‘Terciptanya Harmonisasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kalangan Masyarakat serta Mahasiswa Kabupaten Bangkalan’ ini dipusatkan di Cafe Angkringan, Bangkalan.

 

Disebutkan, bahwa, dari aspek keindonesiaan diciptakan bagaimana agar toleransi dan moderasi keagamaan berjalan searah. Karena bangsa Indonesia dilahirkan dengan kaya suku bangsa, agama, bahasa dan lain sebagainya.

 

Dalam perspektif Islam, yang bisa menyatukan kita itu hanya Tuhan. Sebaimana dalam Al-Qur'an yang berbunyi: walau sya`a rabbuka laja'alan nasa ummatan waḥida.

 

"Kalau Tuhan mau pasti ia menciptakan satu saja, wa la yazalụna mukhtalifin, tapi faktanya kita berbeda. Berbeda dalam apa saja? Warna kulit berbeda, postur tubuh berbeda, perbedaan dalam agama juga,” ujarnya.

 

Mufti menyebutkan, bahwa inti dari toleransi dan moderasi itu adalah kerukunan. Kalau merujuk pada sumber primer ajaran Al-Qur'an, Nabi Ibrahim sebagai bapak agama samawi ketika berdoa kepada Allah pertama tidak minta iman, tapi minta kerukunan.

 

"Rabbij'al hadza baladan aminan. Tuhan jadikanlah negeri ini negeri yang damai, negeri yang aman. Baru yang kedua beliau minta iman, rabbij'alni muqimas salati wamin zurriyati," jelasnya.

 

Mantan Ketua PC PMII Bangkalan itu kemudian mengemukakan pendapat mufassir klasik, Fahruddin ar-Razi dalam kitabnya Mafatihul Ghaib yang menjelaskan tentang doa Nabi Ibrahim tersebut.

 

"Bahwa keamanan dan kerukunan itu adalah anugerah terpenting di muka bumi, karena tanpa keamanan, keimanan itu terganggu. Tanpa keamanan, tidak iman kita. Makanya nabi ibrahim mengatakan begitu."

 

Sementara Rully Antonius Haranto, seorang Pendeta Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Air Hidup Kamal menjabarkan pendapat Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) Abdurrahman. Utamanya terkait alasan mengapa harus ada moderasi beragama.

 

"Ada begitu banyak keragaman dari paham dan juga cara berpikir dari umat beragama paling tidak kita tahu beberapa, belum lagi aliran-aliran kepercayaan yang jumlahnya ratusan, ini agama yang sebenarnya ada lebih dahulu daripada agama-agama yang menjadi agama resmi sekarang," jelasnya.

 

Ia menjelaskan, dari banyaknya aliran dan agama ini manusia tidak bisa menyatukan perbedaan-perbedaan pemahaman, pandangan dan keragaman yang begitu banyak. Hal itu tentu mengancam persatuan dan kesatuan negara kita Republik Indonesia.

 

"Oleh karenanya, kebebasan beragama yang ada juga harus diseimbangkan dengan komitmen tentang kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara," terangnya.


Madura Terbaru