• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Matraman

Tradisi Intelektual, PMII di Tulungagung Ngaji Filsafat

Tradisi Intelektual, PMII di Tulungagung Ngaji Filsafat
Kegiatan diskusi bincang filsafat di Keraton Jalaluddin Rumi, Tulungagung. (Foto: NOJ/Yulia NH)
Kegiatan diskusi bincang filsafat di Keraton Jalaluddin Rumi, Tulungagung. (Foto: NOJ/Yulia NH)

Tulungagung, NU Online Jatim

Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jalaluddin Rumi Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah (Satu) Tulungagung menggelar diskusi dan kajian rutin Lingkaran Sufi, Jumat (19/11/2021). Kegiatan bertema ‘Bincang Filsafat: Mari Bicara Dulu, Pusingnya Belakangan’ ini dipusatkan di Keraton Jalaluddin Rumi, Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

 

Rinaldy Rachmad Subekti selaku pemantik mengatakan bahwa filsafat adalah suatu hal yang sebagian orang beranggapan terlalu tinggi mengenai definisinya. Membicarakan filsafat sama halnya dengan obrolan tabu di antara masyarakat. 

 

“Terkadang sebagian ada yang menjauhinya. Dikatakan filsafat selalu menjurus ke dalam kesesatan. Dan sebagian lainnya menanggapinya dengan pikiran terbuka, bahwa filsafat itu ada asyiknya. Atau bahkan beberapa lainnya mengklaim filsafat itu maha asyik,” katanya.

 

Menurut Rinaldy, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari peran filsafat. Dalam perkembangan tersebut tidak ada stagnanisasi, artinya ilmu pengetahuan selalu berkembang sesuai konteks zamannya atau filsafat interpretasi zaman. 

 

“Oleh karena itu, kalau kita lihat sejarah perkembangan awalnya, pengetahuan itu sangat konyol dan lucu,” ujar Mahasiswa UIN Satu Tulungagung itu.

 

Lebih lanjut ia menyampaikan, dalam perkembangan tersebut filsafat selalu mengkritik terhadap teori yang sudah ada sebelumnya.

 

“Karenanya bisa dibilang, awalnya filsafat merupakan sebuah ajaran tarekat kuno,” tandasnya.

 

Sementara itu, Ketua Rayon PMII Jalaluddin Rumi, Syahma Laudza'i menambahkan, kegiatan ini diadakan sebagai kajian rutin anggota organisasi sebagai wadah untuk mengasah kemampuan intelektual.

 

“Tentunya tidak hanya mendengarkan saja, banyak sahabat-sahabat yang bertanya, menambahi, dan menyanggah. Memang diskusi ini dibuat untuk berproses,” imbuhnya.

 

 

Ia berharap, kegiatan ini bisa berlangsung secara berkelanjutan. “Menjadi kader PMII itu harus mahir dalam banyak hal, salah satunya yang cukup berperan penting adalah dalam hal intelektual,” tandasnya.


Editor:

Matraman Terbaru