Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Menegaskan Kewalian Ra Lilur Bangkalan

Menegaskan Kewalian Ra Lilur Bangkalan
Buku Ra Lilur, Antara Dimensi Wali dan Sufi. (Foto: NOJ/Firdausi)
Buku Ra Lilur, Antara Dimensi Wali dan Sufi. (Foto: NOJ/Firdausi)

Mendengar nama Ra Lilur, maka seketika tergambar sosok waliyullah tersohor dan sangat masyhur di pulau Madura. Sekitar tahun 1934, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Ihsan Desa Jrangoan, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, pasangan Kiai Zahrawi dan Ny Hj Romlah melahirkan putera kelima yang kelak menjadi obat dan angin segar di tengah-tengah masyarakat, yaitu al-‘Arif billah R KH Khalilurrahman. Jalur nasab sang Ayah, bersambung pada Sayyid Maulana Rahmatullah, sedangkan ibunya cucu dari Mahaguru ulama Nusantara, yaitu Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan yang nasabnya nyambung ke Raden Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

Kiai sufi yang akrab dipanggil Ra Lilur layak dikategorikan sebagai waliyullah, karena masa kecilnya tumbuh di lingkungan pesantren, baik di Jrangoan, hingga akhirnya menetap di Demangan pesantren yang
didirikan Syaikhona. Selama di sana, beliau mendapat perlakuan istimewa dari pamannya KH Muntashor, hingga akhirnya diangkat menjadi anak asuh. Kiai Muntashor adalah santri Syaikhona yang dikenal wara’
dan alim hingga terpilih menjadi menantu Kiai Imron bin Syaikhona Muhammad Cholil. Beliau merupakan pendiri sekaligus pengasuh pertama Pesantren Nurul Cholil Demangan Barat Bangkalan.

Buku yang ditulis oleh Team Asschol Media ini, mengupas biografi seorang wali majdub yang disertai perilakunya yang unik, nyentrik, dan penuh dengan nilai-nilai sufi. Pembaca akan dimanjakan dengan masa
kecilnya Ra Lilur yang mendapat pendidikan dasar dengan mengaji pada ayah asuhnya KH Muntashor hingga beliau mengikuti jejak kakak kandungnya KHS Abdullah Schal dan KH Kholil AG mondok di Sidogiri.
Kala itu beliau berguru pada KH Kholil Nawawi selaku pengasuh saat itu.

Selain itu, kesaksian buku ini akan memanjakan pembaca guna memahami dan mengamalkan ajaran Allah SWT melalui tauladan para wali. Misalnya, sekalipun keseharian Ra Lilur berbusana kaos singlet, namun ketika mendapatkan kitab baru, beliau langsung berwudhu’ dan berbusana lengkap dengan sorbannya, lalu menghadap kiblat untuk membaca kitab itu. Riwayat serupa disampaikan Hj Mus, Khodamnya Ra Lilur di Banjar Galis Bangkalan, bahwa hingga menjelang wafat, beliau masih istikamah membaca kitab kurang lebih tiga jam pada malam hari. Bahkan terkadang lebih ketika dalam kondisi sehat.

Perilaku nyentrik yang kerap menjadi isyarah atas peristiwa-peristiwa sosial yang akan terjadi, sisi kealimannya menjadi kisah yang sangat menarik untuk diketahui warga NU. Walaupun beliau dikatakan sangat singkat mondok di Sidogiri. Namun pengetahuan Ra Lilur sangat luas. Banyak kalangan menjadi saksi sejarah bahwa beliau sosok waliyullah yang tidak hanya identik dengan kezuhudan, tetapi kiai yang luas ilmu pengetahuannya. Hal ini diamini oleh KH Zubair Munstashor bahwa selain alim, beliau memiliki ilmu laduni serta mukasyafah sejak kecil.

Buku kecil ini memberikan secercah tauladan kehidupan seorang waliyullah di tengah kegersangan ruhani yang melanda masyarakat kekinian dalam arus globalisasi. Kiai Bir Ali saja menegaskan dalam buku ini bahwa, Ra Lilur merupakan sosok penyayang dan pendidik sejati walaupun cara mencurahkan kasih sayangnya berbeda dengan kebanyakan orang. Beliau pendidik yang lebih sering memberikan tauladan daripada ucapan, lebih sering mencontohkan daripada memerintah, lebih sering memberikan praktik daripada hanya sekedar teori.

Buku yang mudah dijumpai di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Cholil, menceritakan kisah tokoh sufi yang benar-benar mengamalkan syariat Allah SWT yang memiliki sifat wara’ dan zuhud dalam balutan
majdubnya hingga pembaca sufistik akan tersentuh pada ranah hakikat serta dipahami oleh segelintir wali Allah yang sudah ma'rifatullah. Buku ini bukan hanya memotret sisi kewalian Ra Lilur, tetapi mengajak
para pembaca menyadari bahwa dunia hanyalah sarana untuk menuju kehidupan akhirat. Dunia adalah jembatan dan wasilah untuk menggapai kehidupan kekal dan abadi di surga.

Untuk mengenang sejarah orang shalih yang mempunyai hikmah tersendiri, buku menceritakan penggalan kisah Ra Lilur tentang kealimannya. Seperti beliau tak hanya hafal Fath al-Wahhab, tetapi ia hafal Jawahir
al-Maknun, pengakuan seorang Habib atas kealiman Ra Lilur, mahir bahasa asing, menguasai ilmu medis, dan hafal Al-Qur’an.

Tak hanya itu, buku yang dijadikan referensi bagi pembaca yang merindukan Ra Lilur, menceritakan pendidikan sufinya, pengembaraannya dari desa ke desa, hingga bisa meneladani beliau dari cara shalatnya, tidak tidur malam, suka ngrowot atau tidak makan nasi, kepedulian sosial, rajin muthala'ah dan ta'dzim terhadap ilmu, kezuhudan, dan puasa berbicara. Untuk santri Demangan, buku ini mengisahkan peran Ra Lilur dalam memajukan pesantren, kisah pernikahannya yang aneh, karomahnya, dan pesan terakhirnya.

 

 

Identitas Buku
Judul: Ra Lilur, Antara Dimensi Wali dan Sufi
Penulis: Team Asschol Media (Farid Tumyadi, Achmad Hafsin, Abdul Aziz, Zainal Arifin, Nasrullah AM, Agus Mukafi Makki, Moh Rofi’i, Moh Ishak Rofi)
Editor: Mufti Shohib
Penerbit: Pustaka Syaikhona Pondok Pesantren Syaikhona Moh Cholil Bangkalan
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 174
ISBN: 978-602-61040-2-1
Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep

Terkait

Pustaka Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini