• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 8 Februari 2023

Madura

Sarasehan Ilmu Falak Annuqayah, Kaji Sejarah Kalender Islam

Sarasehan Ilmu Falak Annuqayah, Kaji Sejarah Kalender Islam
Ustadz Fathurrozi sedang memberikan materi seputar asal usul kalender agama Islam, Kresten, Hindu, Buddha, dan Konghucu kepada peserta. (Foto: NOJ/Firdausi)
Ustadz Fathurrozi sedang memberikan materi seputar asal usul kalender agama Islam, Kresten, Hindu, Buddha, dan Konghucu kepada peserta. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Dalam rangka mengasah dan mengembangkan keilmuan Falak di tubuh kepengurusan, maka pengurus Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-guluk, Sumenep melaksanakan program kerjanya. Kali ini LFA Guluk-guluk menggelar sarasehan Ilmu Falak yang dikemas dengan penyajian materi seputar sejarah diberlakukannya Hari Libur Nasional (Harlibnas) dan kajian hisab awal bulan Hijriah perspektif ilmu Astronomi. Kegiatan ini digelar pada Jum'at (19/03/2021) di auditorium Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep.



Kegiatan ini digelar dua hari yang mendatangkan Ustadz Fathurrozi selaku Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur. Di hari pertama, ia memaparkan materi berupa latar belakang dibentuknya kalender agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan cara mengetahui seluk beluk Harlibnas.



“Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada kalender agama Islam atau kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi. Pada sistem kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari ketika memasuki waktu Maghrib," katanya saat mengisi materi.



Kalender hijriah dibangun berdasarkan rata-rata siklus sinodik bulan kalender lunar (qamariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya
adalah 12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari. Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun kalender Hijriah lebih pendek 10-12 hari di banding dengan 1 tahun kalender Masehi.

Pria yang juga menjabat sebagai pengurus Bidang Hisab Rukyat (BHR) Pimpinan Cabang (PC) LFNU Sumenep ini juga menceritakan sejarah dikenalnya kalender Masehi. Di dalam sejarah, awal tahun Masehi merujuk pada tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih (Yesus Kristus atau dalam bahasa Ibrani "Yesua ha-Masiah). Karena itu kalender ini dinamakan menurut Yesus atau Masihiyah (Mesias).



"Istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi mulai diadopsi di Eropa Barat di abad ke-8. Penghitungan kalender ini dimulai oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus (Denis Pendek) dan
mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma,” urainya.



Di penghujung waktu, dewan konsultan LFA itu menyelipkan pembahasan tentang kalender agama samawi lainnya. Secara historis, penggunaan kalender agama Hindu atau kalender Saka tidak hanya digunakan oleh masyarakat Hindu India saja, namun juga digunakan oleh masyarakat Indonesia. Dalam hal ini khususnya pulau Bali dan beberapa daerah di pulau Jawa, seperti di Tengger yang masyarakatnya masih banyak penganut agama Hindu, terutama saat menentukan hari-hari besar keagamaan mereka.



Kalender Saka yang digunakan di Bali tidak lepas dari unsur-unsur lokal. Sedangkan kalender Buddha adalah satu set kalender lunisolar terutama digunakan di daratan Asia Tenggara, seperti Kamboja, Laos,
Myanmar, Thailand, Sri Lanka dan populasi Cina dari Malaysia dan Singapura untuk acara-acara keagamaan.



"Sementara kalender berbagi garis keturunan yang sama, mereka juga memiliki variasi kecil tapi penting seperti jadwal selingan, nama bulan dan penomoran, penggunaan siklus, dan lainnya. Di Thailand, nama
Era Buddha adalah penomoran tahun sistem yang digunakan bersama oleh kalender lunisolar tradisional Thailand dan kalender matahari Thailand,” ungkapnya.

Pada hari kedua, Ustadz Fathurrozi juga menerangkan tentang hisab awal bulan Hijriah perspektif ilmu astronomi. Secara teoritis proses hilal akan akurat, jika diimbangi dengan kualitas bulan yang tepat. Menurutnya, penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas).



"Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal. Penetapan kalender hijriah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khattab yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Kalender hijriah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari,” pungkasnya.

 

Editor: Risma Savhira


Madura Terbaru