• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Matraman

Cerita Kiai Jamal Tambakberas Meski Pegawai Tetap Wira’i

Cerita Kiai Jamal Tambakberas Meski Pegawai Tetap Wira’i
KH Mohammad Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang. Foto: Istimewa
KH Mohammad Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang. Foto: Istimewa

Nganjuk, NU Online Jatim

Almarhum KH Mohammad Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang merupakan sosok yang sangat dekat dengan anak, cucu, cicit dan para saudara serta kerabatnya. Meski pegawai, Kiai Jamal tetap istikamah dengan sikap wira’inya.


Bahkan para keponakannya di Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, dibimbing seperti putra-putrinya.


Kiai Jamal, sapaan akrabnya, sering mencerikan tentang kehidupan masa kecil hingga tua saat berkunjung di desa tersebut.


Hal tersebut diceritakan Muhammad Arif Setiawan (44) atau Gus Arif. Ia sering mendapatkan cerita tentang kehidupan Kiai Jamal. Ceritanya mulai dari masa kecil hingga tua-nya.


Kulo katah (saya banyak) diceritani tentang kehidupan. Masa kecil-nya, konco-koncone (teman-temannya), terus apa yang dilakukan (diceritakan),” ujar Gus Arif Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Gondanglegi ini, Kamis (03/03/2022) lalu.


Di antaranya, Gus Arif pernah mendapat cerita dari Kiai Jamal tentang prinsip tidak akan memakan makanan dari gaji hasil pegawai negeri-nya.


Dahulu, ceritanya, ada kebijakan pemerintah agar semua pengajar di Madrasah Mu’alimin Muallimat (MMA) Tambakberas harus berstatus pegawai negeri. Sehingga para kiai dan pengajar yang asli dari pesantren harus diganti oleh pengajar dari luar pesantren. Termasuk Kiai Jamal dan istrinya, Nyai Churriyah.


Sementara pengajar yang sudah jadi pegawai negeri merasa tak sanggup mengajar saat itu. Karena mereka merasa kesulitan dengan materi yang harus diajarkan di MMA. Materi yang diajarkan seperti Nahwu, Shorof, Ushul fiqh, Arudh, Mantiq, Balaghoh dan lainnya.


Karena itulah, KH A Wahab Chasbullah meminta kepada pemerintah agar kiai-kiai bisa kembali mengajar di Mu'allimin. Kemudian mengangkat jadi pegawai negeri sesuai aturan pemerintah saat itu.


Namun, masa itu Kiai Jamal beserta istrinya tak langsung berkenan menjadi pegawai negeri. Kemudian Kiai Fattah selaku mertua, membujuk Kiai Jamal agar mau jadi pegawai negeri.


Melalui penuturan Kiai Fattah, akhirnya Kiai Jamal menerima. “Mbah Kiai Fattah bilang nak iki dadi (kalau ini jadi) pegawai negeri ora dadi (bukan jadi) tujuan. Tujuannya adalah perjuangan,” ujarnya menirukan cerita dari Kiai Jamal.


Lanjut cerita, Kiai Jamal menyampaikan kepada istrinya untuk tidak memakan makanan dari gaji pegawai negeri.


Sejak mulai menjadi pegawai negeri, Kiai Jamal belum pernah memakan makanan dari gaji hasil pegawai negeri. “Beliau (Kiai Jamal) tidak ridho hasil bayaran itu masuk ke dalam perut anak istrinya,” kenangnya lagi.


“Kaitanya dengan wira’i beliau itu sangat-sangat menjaga, itu sangat kuat,” ungkapnya.


Termasuk gaji pensiun almarhum istrinya yang juga jadi pegawai negeri. Meskipun jadi waris, Kiai Jamal tetap tidak mengambil uang pensiun itu.


Kiai Jamal membagikan gaji itu kepada anak-anaknya. “Meskipun anak-anaknya jadi ahli waris, tapi didawuhi iki (gaji pensiunan istri yang diberikan ke putra-putrinya) ojo sampek buk lebukne weteng,” lanjutnya.


“Beliau cerita sendiri. Kulo diceritani (saya diceritain), jadi Kiai Jamal ketika disini itu lebih banyak bercerita tentang kehidupan. Kehidupan beliau yang penun ghiroh mencari ilmu, dan penuh akhlaqul karimah,” pungkasnya.


Editor:

Matraman Terbaru