• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 30 Juni 2022

Opini

Kiai Jamal: Guru ‘Besar’ yang Menolak Kebesaran Diri

Kiai Jamal: Guru ‘Besar’ yang Menolak Kebesaran Diri
Almaghfurlah KH Djamaluddin Ahmad. (Foto: NOJ)
Almaghfurlah KH Djamaluddin Ahmad. (Foto: NOJ)

Oleh: M Syafiq Syeirozi* 


Sekira jam 10 pagi, 20 tahunan silam, di sela-sela pergantian jam pelajaran, suasana di gedung 2 lantai Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sangat riuh. Tak sedang ada agenda apa pun. Memang itu situasi harian yang rutin. Maklum, bocah-bocah ingusan berkumpul, maka gaduh dan canda tawa tak perlu direncanakan. 


Namun dalam hitungan menit, suasana madrasah tiba-tiba hening dan lengang. Saya sempat terheran. Ternyata ada teman berbisik: “Ada Yai Jamal.” Dari balik kaca saya mengintip. Beliau tampak keluar dari kantor guru dan bergerak ke salah satu ruang kelas. 


Sebagai santri di salah satu asrama yang diasuh langsung beliau, Bumi Damai Al-Muhibbin (BDM), situasi itu tak mengejutkan. Menjelang subuh atau sebelum waktu asar, saat para pengurus kerepotan membangunkan santri agar segera beranjak ke masjid, Kiai Jamal cukup berdiri dari teras masjid, menepuk-tepukan tangan seraya mengeraskan suaranya, “Subuh… Subuh… Subuh…” atau “Jamaah… Jamaah… Jamaah,” maka seluruh santri, terkecuali yang sakit, langsung semburat dari kamar masing-masing dan tungganglanggang menuju masjid. 


Saya terpukau dengan bobot kharisma dan aura positifnya. Hal yang saya yakini muncul secara alamiah dari inner Kiai Jamal, spesialis ilmu tasawuf yang tak hanya teoretis namun praktis. Tampak gamblang dari tutur lisan dan laku hariannya. Beliau tak sekadar fasih menjelaskan tentang khudhu’ dan tawadhu’ (andap asor dan rendah hati) dan mengkritik keras sifat/sikap ‘ujub dan takabur, namun meneladankannya.


Medio 2002, dalam momen sowan hendak izin boyongan kepada beliau, tiba-tiba ada pria lansia menghaturkan salam dan ‘nyelonong’ duduk di ruang tamu rumahnya. Ia lantas bertanya: “Pak Jamal-e pundi (Pak Jamalnya mana?).” Spontan Kiai Jamal berucap: “Lha niki (ya ini),” seraya menggerakkan tangan kanan beliau menunjuk tangan kirinya. Ternyata pria itu ingin minta air suwukan karena ada anggota keluarganya sedang sakit.


Bagi saya, itu gestur yang bermakna. Kiai Jamal tak menunjuk dadanya -simbol kebesaran diri manusia- tapi tangannya. Maka beberapa tahun silam, saat beredar foto yang menunjukkan beliau seperti sedang ‘rebutan’ saling cium tangan dengan Kiai Musthofa Bisri (Gus Mus), bagi saya itu bukan hal yang mengejutkan.


Beberapa tahun usai lulus dari Jombang, sekira tahun 2005, saya bersama sejumlah teman alumni yang kuliah di Yogyakarta sowan kepada beliau. Teman senior yang bertindak sebagai juru bicara lantas mengutarakan beberapa hal, salah satunya meminta nasihat beliau. Kiai Jamal lantas merespons: “Saya ini orang kuno, tidak terpelajar. Seharusnya kalian yang memberikan nasehat saya.”


Saya terperanjat dan tertampar atas kalimat itu, mengingat kelakuan nakal selama kuliah. Beruntung Kiai Jamal langsung melanjutkan perkataannya: “Nasihat saya ya kuno, mengulang yang dulu.” Beliau lantas mengutip wasiat Nabi Muhammad SAW kepada Sahabat Ali KW sebagaimana termaktub dalam kitab Washiyyatul Musthafa: 


“يا علي لسعيد ثلاث علامات: قوت حلال, مجالسة العلماء, والصلوات الخمسة مع الإمام”


Artinya: Hai Ali, ada tiga indikator manusia yang bejo: Makanan yang halal, bergaul erat dengan ulama, dan shalat lima waktu berjamaah. Note: hadits ini dinilai sangat dhaif oleh sejumlah ahli, tetapi secara subtansi ada banyak hadits lain yang menguatkan.


Ya, Kiai Jamal sudah pernah menyampaikan petuah itu dalam beberapa momen. Salah satunya saat saya bersama rombongan siswa kelas akhir MMA 2002 (Saujana Family) melakukan pisowanan kepada beliau. Dan hingga kini saya tak pernah betul-betul bisa mengamalkan pesan itu. 


Penjaga Moral dan Kesantunan
Meski tinggal di Yogyakarta, saya masih kerap mendengar cerita seputar Tambakberas Jombang. Salah satu kisah menarik terjadi pada tahun 2008, ketika kontestasi Pilgub Jawa Timur sedang memuncak. Kiai Jamal menolak saat hendak disowani oleh beberapa cagub-cawagub menjelang pilgub. Kepada saya, salah seorang santri senior BDM menuturkan bahwa Kiai Jamal sempat mengucapkan: “Kalau mau bertemu saya atau hadir dalam forum pengajian saya, silakan. Tetapi seluruh calon (kontestan pilgub) harus dihadirkan bersamaan. Saya cuci mereka bareng-bareng. Atau besok saja setelah terpilih.” 


Sejak akhir dasawarsa 2000, setahu saya Kiai Jamal memang mengasuh banyak forum pengajian rutin Al-Hikam di sejumlah daerah di Jatim, seperti Surabaya, Sidoarjo, Tuban, dan beberapa lainnya. Tongkat kepengasuhan BDM secara de facto sudah diserahkan kepada putranya, KH Idris Djamaluddin (Gus Id). 


Faktor ini tentu memikat di mata para petarung politik. Beliau dipandang sebagai vote getter yang potensial. Tetapi kompas moral Kiai Jamal mengarahkan dirinya untuk bersikap netral saat banyak kiai lain di Jawa Timur menunjukkan keberpihakan politik kepada salah satu calon. Saat itu saya merasa sangat bangga menjadi santri beliau. 


Dalam kesempatan Temu Alumni Rojabiyah tahun 2010, beliau sempat mengutarakan kegelisahan atas maraknya gerakan tabdi’i di Jawa Timur. Bahkan kabarnya beliau sempat ditantang berdebat oleh ustaz kelompok tabdi’i di Surabaya. Apa pasal? Kiai Jamal memang selalu membaca tahlilan sebelum mengaji Al-Hikam di salah satu masjid kawasan Kenjeran Surabaya. Di masjid itu pula, pada hari yang lain, ada rutinan pengajian yang diisi oleh ustaz tabdi’i. Seingat saya, ritual tahlilan itulah yang dipersoalkan. 


Tentu saja Kiai Jamal enggan meladeninya. Bagi penganut tasawuf, jidal atau perdebatan lebih baik dihindari karena sangat rawan menjauhkan manusia dari Tuhan, sebaliknya rawan menggelincirkan pada ‘pembesaran diri.’ 


Tahun-tahun itu saya tinggal di Surabaya. Salah seorang santri (alumni) mengajak untuk mendatangi pengajian ustaz tabdi’i. Motifnya ingin meladeni perdebatan. Saya menyanggupinya. Tetapi ternyata isi pengajiannya normatif. Saya lantas mengatakan: “Ini negara demokrasi. Orang bebas berkata apa. Asalkan pengajian Kiai Jamal tidak dilarang, tantangan debat itu tak ada gunanya.”


Dalam forum temu alumni itu, Kiai Jamal mewanti-wanti betul agar santrinya tidak ada yang terpikat kelompok tabdi’i. Beliau sempat merekomendasikan dua buku agar dibaca. Buku pertama adalah karya ulama tabdi’i dan buku kedua karya ulama Aswaja yang disebutnya sebagai ‘obat penawar.’


Di sela-sela kesibukan berkeliling daerah untuk mengaji dan kondisi kesehatan yang menurun, ternyata beliau gemar menulis. Ada beberapa produk karya beliau. Sebagian berupa terjemahan plus catatan penjelas atas kitab tertentu, ada pula saduran kitab. Foto di bawah ini merupakan salah satu buah pena Kiai Jamal. Berisi tentang kisah-kisah sufi yang dicuplik dari pelbagai kitab klasik. Itu semua adalah warisan intelektual yang sangat berharga, selain legacy lain dalam bentuk lembaga-lembaga pendidikan. 


Teladan Kegigihan 
Kiai Jamal tak sekadar alim, tapi juga teladan moral dan kegigihan. Pada awal 1960-an, Djamaluddin Ahmad hanyalah santri Pesantren Tambakberas asal Gondanglegi, Nganjuk. Ia sempat ditunjuk oleh Mbah Abd Wahab Chasbullah untuk memimpin pembacaan manaqib untuk meresmikan nama Bahrul Ulum dan lambangnya yang menyisipkan surat Al-Kahfi 109 sebagai identitas resmi Pesantren Tambakberas Jombang (baca buku: Tambakberas, Menelisik Sejarah Memetik Uswah).


Usai menamatkan pendidikan di Jombang, Djamaluddin Ahmad atas seizin guru-gurunya, meneruskan pengembaraan ilmunya ke Lasem Rembang untuk menimba ilmu dari Kiai Baidhowi, dan juga ke Mranggen Demak untuk berguru pada Kiai Muslih. Setelahnya, ia ditarik kembali ke Jombang dan diambil menantu oleh gurunya, Kiai Abdul Fattah Hasyim, untuk dinikahkan dengan Nyai Hurriyah (almaghfur laha, meninggal dunia pada 2001).


Djamaluddin Ahmad tentu naik kasta. Sebagaimana Gus Dur, Nyai Hurriyah adalah cucu kandung Kiai Bisyri Syansuri (Rais Am PBNU setelah Mbah Wahab). Tapi ia tak sekadar ongkang-ongkang menikmati status itu. Saya mendengar langsung dari Kiai Jamal, pada awal pernikahan, beliau berjualan jajanan kecil sebagai wujud ikhtiar tanggung jawab sebagai suami. Pilihan yang ternyata mendapat dukungan dari ibu mertuanya, Nyai Musyarofah.


Kiai Djamal merintis pendirian asrama Al-Muhibbin di bagian selatan Tambakberas secara perlahan, hingga kemudian menjelma menjadi asrama terbesar di lingkungan Pesantren Bahrul Tambakberas. Padahal, saat awal kali mengutarakan keinginan untuk mendirikannya, Nyai Hurriyah meresponsnya dengan tertawa. Cerita ini saya dapatkan di forum Temu Alumni Rojabiyyah tahun 2012. Dari BDM dan unit pendidikan lain di mana beliau mengajar, telah lahir banyak kiai dan orang-orang yang bermanfaat bagi umat. Sangatlah layak jika Kiai Jamal menyandang gelar ‘Guru Besar’. 


Sudah sangat lama saya tidak berjumpa fisik dengan beliau. Akhir Januari atau awal Februari, beredar informasi bahwa Kiai Jamal menjalani perawatan di RS dr. Soetomo Surabaya. Setelahnya tak ada lagi kabar mengenai beliau. Dan subuh tadi (Kamis, 24/02/2022) saya terdiam saat istri menginformasikan bahwa Kiai Jamal meninggal dunia. Spontan saya membuka sejumlah grup pertemanan Whatsapp alumni Tambakberas. Ucapan takziyah dan doa untuk beliau telah mengalir deras.


Selama beberapa menit saya hanya terdiam dan meneteskan air mata. Rasanya bingung kalimat takziyah apa yang harus saya tulis di grup itu. Walhasil hanya emoticon menangis yang terkirim. Saya merasa segan dan sombong sekali jika harus berdoa ini dan itu. Karena sepanjang menjadi santri, tentu saja lebih banyak meminta didoakan oleh beliau. Satu-satunya doa yang rutin saya panjatkan kepada Allah untuk Kiai Jamal adalah: “Panjangkan umurnya dalam keberkahan agar dapat terus membimbing para santrinya.”


Saat meninggalnya Kuntowijoyo, budayawan dan sejarawan, dalam forum seminar di kampus UGM, MH Ainun Najib atau Cak Nun bertukas bahwa mencari dosanya Kuntowijoyo itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami dalam gudang. Demikian pun, bagi saya, jika ada orang yang iseng mengorek kesalahan Kiai Jamal akan mengalami kesulitan semacam itu.


Tentu sangat menyedihkan tak bisa bertakziyah langsung ke Jombang. Sebagai pelipur, saya mengikuti takziah virtual di kanal youtube Al-Muhibbin. Hampir selalu terdengar suara terisak dari imam shalat jenazah yang dilaksanakan secara bergelombang. Saya langsung teringat dengan syair Arab populer yang menjadi tamsil bahr rojaz dalam pelajaran Arudh dulu kala di MMA: 


ولدتك أمك يا ابن آدم باكيا # والناس حولك يضحكون سرورا
فاجهد لنفسك أن تكون إذا بكوا # في يوم موتك ضاحكا مسرورا


Artinya: Wahai anak Adam, dulu kamu menangis sedangkan manusia di sekitarmu tertawa bahagia saat ibumu melahirkanmu.
Maka berusahalah agar kamu tertawa bahagia kala orang-orang menangisi kematianmu.


Saat ini, saya haqqul yaqin, Kiai Jamal sedang berbahagia dan tersenyum dalam buaian rahmat Allah dan dekapan hangat maghfirah-Nya. Maka bacaan kalimat thayyibah dan surat-surat Al-Qur’an yang saya niatkan pahalanya dihadiahkan kepada beliau, sejatinya tak betul-betul untuk mendoakan beliau. Melainkan lebih agar saya tetap diakui sebagai santrinya, sehingga diizinkan untuk gondelan sarungnya, dan mendapatkan luberan keberkahan dari amal-amal baik beliau. Tentu di kehidupan mendatang. 


Akhirul kalam, sugeng kondur Abah Yai Jamal. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada ‎Tuhanmu dengan penuh kerelaan lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. 
Masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr 27-30)

 

M Syafiq Syeirozi adalah alumni BDM Bahrul Ulum 2002 dan kini tinggal di Depok, Jawa Barat.


Opini Terbaru