• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Rehat

Pesan Penuh Makna dari Kiai Jamal Tambakberas untuk Guru TPQ

Pesan Penuh Makna dari Kiai Jamal Tambakberas untuk Guru TPQ
KH M Djamaluddin Ahmad saat mengisi pengajian kitab Hikam di PWNU Jatim. (Foto: NOJ/Ist)
KH M Djamaluddin Ahmad saat mengisi pengajian kitab Hikam di PWNU Jatim. (Foto: NOJ/Ist)

Ini pengalaman pribadi saat suatu ketika hendak wawancara dengan KH M Djamaluddin Ahmad. 

 

Datang sesuai waktu yang disarankan abdi dalem, saya berada di kediaman Kiai Jamal, sapaan akrabnya di kawasan Sambong, Jombang Kota. 

 

Kala itu ada sejumlah alumni yang juga sudah bersiap untuk sowan. Mereka adalah santri boyong, namun belum sempat pamit ke Kiai Jamal. Ada sekitar 5 anak.

 

Merasa sebagai 'orang penting' karena akan wawancara untuk Majalah AULA milik PWNU jawa Timur, maka saya yakin Kiai Jamal akan lebih memprioritaskan saya.

 

“Sampean siapa?” tanya Kiai Jamal saat berada di ruang tamu.

 

“Syaifullah, dari Majalah AULA Kiai,” kata saya penuh percaya diri.

 

“Oh, sampean nanti saja ya. Yang sampean akan tanyakan berat,” kata Kiai Jamal.

 

Maklum, waktu itu saya sudah mengajukan aneka pertanyaan terkait merosotnya nilai tukar rupiah kepada mata uang Dolar Amerika, juga menyikapi banyak kalangan yang demo atas keterpurukan ekonomi saat Jokowi menjabat presiden periode awal.

 

Jadilah saya harus merelakan sebagai mustami atau pendengar setia atas hajat para santri senior yang sedang sowan.

 

“Sekarang kegiatan sampean apa?” Tanya Kiai Jamal kepada alumni Pesantren Tambakberas saat sowan.

 

“Bisnis kiai, buka konter hape,” ungkap sang santri dengan menunduk.

 

Rumiyin kulo mulang TPQ, tapi naliko sampun buka konter, kulo prei mboten mulang dateng TPQ maleh,” urainya.

 

Kiai Jamal diam sejenak. Dengan agak berat, pengampu pengajian Kitab Hikam ini mengingatkan bahwa mengajar di Taman Pendidikan al-Qur’an atau TPQ adalah khidmat terbaik dalam hidup.

 

“Kamu mengajarkan anak TPQ bacaan basmalah dan alfatihah, maka pahala yang akan kamu terima akan terus mengalir,” katanya. Ketika santri TPQ yang kamu didik membaca basmalah saat hendak makan, belajar dan kegiatan apapun, maka kamu juga akan memperoleh pahalanya, lanjutnya.

 

Belum lagi saat santri TPQ itu bisa membaca al-fatihah dari shalat yang dikerjakan. “Berapa pahala yang kamu terima dari mengajarkan surat al-fatihah tersebut?” kata salah seorang Majelis Pengasuh Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang ini.

 

“Hidup itu jangan hanya memburu gengsi, apalagi kalian adalah santri Tambakberas” ungkapnya.

 

Menjadi ustadz dan ustadzah TPQ mungkin dianggap sebagai “profesi” yang tidak menjanjikan. Bahkan kalah mentereng dengan guru, apalagi dosen.

 

Nopo sing diulang teng kampus niku? Kan cuman teori?,” katanya mengingatkan. “Belum tentu apa yang disampaikan para dosen, juga mereka lakukan dalam keseharian,” jelasnya.

 

Saya yang kebagian kesempatan terakhir untuk menyampaikan hajat, hanya bisa diam, sedih dan bahagia dengan wejangan tersebut.

 

Benar kata sebagian orang bahwa kalau sowan ke Kiai Jamal, tidak perlu kita yang menyampaikan hajat. Cukup dengarkan apa yang disampaikan sesuai tamu yang datang. 

 

“Dijamin tembus,” kata kawan saya yang sering sowan.


Editor:

Rehat Terbaru