• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 1 Desember 2022

Matraman

Di Ajang Turba, Ketua NU Ngawi Jelaskan Jasa Syaikhona Kholil

Di Ajang Turba, Ketua NU Ngawi Jelaskan Jasa Syaikhona Kholil
Ketua PCNU Kabupaten Ngawi, KH Ahmad Ulinnuha Rozy saat acara turba. (Foto: NOJ/Dewi M)
Ketua PCNU Kabupaten Ngawi, KH Ahmad Ulinnuha Rozy saat acara turba. (Foto: NOJ/Dewi M)

Ngawi, NU Online Jatim
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ngawi, KH Ahmad Ulinnuha Rozy menuturkan bahwa lahirnya Nahdlatul Ulama salah satunya dari petunjuk Syaikhona Kholil Bangkalan, maha gurunya kiai Nusantara.
 

Menurutnya, jauh sebelum dideklarasikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Syaikhona Kholil memberikan petunjuk akan berdirinya NU.
 

"NU adalah warisan para ulama. Jauh sebelum NU dideklarasikan oleh Kiai Hasyim Asy'ari, Syaikhona Kholil Bangkalan telah memberikan petunjuk akan berdirinya NU. Syaikhona Kholil saat itu adalah maha gurunya kiai Nusantara, sehingga tidak ada kiai yang tidak menyerap ilmunya, beliau adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailaninya Indonesia pada zaman itu," ujar Kiai Ulin.
 

Penegasan ini disampaikannya kala memberikan sambutan pada acara Turba PCNU Ngawi zona 3. Kegiatan dipusatkan di Sekretariat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jogorogo, Selasa (15/02/2022).
 

Ia menuturkan bahwa petunjuk yang diberikan oleh Syaikhona Kholil kepada KH M Hasyim Asy'ari adalah dengan memberikan dua isyarah berupa tongkat dan tasbih secara bergilir melalui Kiai As'ad Samsul Arifin.
 

"Melalui Kiai As'ad Samsul Arifin yang alim, shalih dan waliyullah, Syaikkhona Kolil memberikan dua isyarah secara bergilir kepada Kiai Hasyim, yaitu berupa tongkat dan tasbih. Tongkat yang berarti kepemimpinan dan tasbih yang melambangkan spiritual," terangnya.
 

Dalam pandangannya, kepemimpinan adalah penyebarluasan ajaran agama, NU bisa tersebar luas dari generasi ke generasi sampai saat ini harus melalui tongkat kepemimpinan. Sedangkan kedua adalah tasbih yang melambangkan spiritual. Secanggih apapun program-program NU yang telah disusun harus tetap bersandar kepada Allah. 
 

"Secanggih apapun program yang telah kita susun bersama saat rapat dan musyawarah, harus tetap bersandar kepada Allah. Maka dari itu orang NU harus rajin wiridan. Sedangkan tongkat tanpa tasbih akan terasa hampa dan gersang, karena tidak ada tempat untuk bersandar,” tegasnya.
 

Kegiatan di zona ketiga ini diikuti pengurus NU dari Kecamatan Jogorogo, Ngrambe dan Sine. Turba dilaksanakan di empat zona, yakni setiap Selasa mulai 25 Januari sampai 25 Februari 2022.


Editor:

Matraman Terbaru