• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Matraman

Gus Kikin: Karya Mbah Hasyim Selaras dengan Problematika di Masyarakat

Gus Kikin: Karya Mbah Hasyim Selaras dengan Problematika di Masyarakat
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin (pegang mik), saat Webinar Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: NU Online)
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin (pegang mik), saat Webinar Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: NU Online)

Jombang, NU Online Jatim
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyampaikan, bahwa kitab karangan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari selalu selaras dengan problematika aktual yang terjadi dalam kehidupan masyarakat secara umum.


Penegasan tersebut disampaikan saat Webinar Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng Jombang, Selasa (24/05/2022). Kegiatan itu digelar oleh Pondok Pesantren Tebuireng bekerja sama dengan Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Gus Kikin mencontohkan kitab Dhau'ul Misbah fi Bayani Ahkamin Nikah. Dalam mukaddimahnya, terangnya, Hadratussyekh menjelaskan bahwa penulisan kitab tersebut diilhami oleh banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui tentang pernikahan.


"Kitab pernikahan di muqaddimahnya itu, beliau menuliskan, setelah mempelajari masyarakat yang ada, banyak yang tidak memahami hukum pernikahan," terangnya dilansir NU Online.


Dalam pengamatan Hadratussyekh, kata Gus Kikin, pembahasan mengenai pernikahan itu hanya dijumpai dalam kitab-kitab yang tebal sehingga tidak terakses oleh masyarakat umum.


"Rupanya hukum pernikahan itu adanya dalam kitab tebal. Makanya saya (merujuk Hadratussyekh) menulis kitab ini supaya mudah dipahami masyarakat," ungkap Gus Kikin.


Oleh karena itu, Gus Kikin menegaskan bahwa karya-karya Hadratussyekh tidak lepas dari kondisi problematika yang dihadapi masyarakat. Hal ini tidak lain karena tujuan praktis agar ilmu tersebut diamalkan.


"Disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Bukan menulis pengembangan keilmuan, tetapi pengamalan keilmuan," katanya.  


Begitu pun kitab Adabul Alim wal Muta'allim yang menguraikan persoalan etika hubungan timbal balik murid ke guru dan guru ke murid, bukan sekadar satu arah. Kitab ini disusun untuk kebutuhan para santri Pondok Pesantren Tebuireng.  


Menurut Gus Kikin, kitab ini juga cocok bagi masyarakat Indonesia. Bahkan dikaji juga oleh Habib Umar bin Hafidz dari Tarim, Hadramaut, Yaman.
 


Kegiatan ini juga menghadirkan Principal Investigator DREAMSEA Prof Oman Fathurahman, Dosen Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adib Misbachul Islam, Dosen Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Anang Firdaus, dan Pegiat Turats Tebuireng Variz Muhammad Mirza.


Matraman Terbaru