• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Tokoh

Pesan dan Harapan Terakhir Nyai Lily Wahid kepada NU

Pesan dan Harapan Terakhir Nyai Lily Wahid kepada NU
Almarhumah Nyai Hj Lily Chodidjah Wahid atau yang akrab disapa Bunda Lily. (Foto: NOJ/NU Network)
Almarhumah Nyai Hj Lily Chodidjah Wahid atau yang akrab disapa Bunda Lily. (Foto: NOJ/NU Network)

Surabaya, NU Online Jatim
Kabar wafatnya Nyai Hj Lily Chodidjah Wahid atau yang akrab disapa Bunda Lily cukup mengagetkan. Banyak kalangan yang belum percaya dengan informasi tersebut. Akan tetapi saat berita didapat dari salah satu keponakannya, yakni Irfan Wahid atau Gus Ipang, maka semua pihak menyadari meski merasa sangat kehilangan.


Bunda Lily meninggal dunia pada usia 74 tahun. Almarhumah sempat mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo atau RSCM, Jakarta Pusat.


"Telah berpulang ke Rahamatullah Ibu Nyai Hj Lily Khodijah Wahid binti KH A Wahid Hasyim pada hari Senin, 9 Mei 2022 pukul 16.28 WIB di RSCM Jakarta," ucap Gus Ipang dalam pesan yang dibagikan Senin (09/05/2022).


Harapan kepada NU
Menjelang Muktamar ke-34 NU yang di Lampung, Bunda Lily memberikan sejumlah pesan dan harapan. Salah satunya adalah agar permusyawaratan tertin ggi di NU tersebut dapat berjalan dengan lancar. 


"Andaikata ada niat-niat membenturkan kita sama lain mudah-mudahan Allah menjaga kita," ungkapnya dalam tayangan Jelang Muktamar ke-34, pada Youtube NU Online.   


Putri KH Abdul Wahid Hasyim ini menuturkan, bahwa sudah menjadi kebiasaan jika di Muktamar NU selalu ada dinamika yang berkembang.   


"Karena yang namanya muktamar itu pasti ada sajalah, senggol-senggol itu pasti ada. Itu sudah dinamikanya di NU. Mudah-mudahan kita bisa menjalani itu dengan baik, Allah memudahkan semua perbedaan pendapat kita itu menjadi sesuatu yang manfaat untuk kita semua," tutur Bunda Lily.   

 

Amalan Khusus
Sebelumnya, ia juga mengingatkan setiap selesai membaca doa bangun tidur, baik untuk dilanjutkan dengan niat membaca ummul kitab: Liridlaillah al-Fâtihah


"Insyaallah, kalau ini kita istiqamah menjalankannya, mudawamah, insyaallah kita terjaga bahwa Allah SWT akan selalu meridhai apa yang kita jalani. Memang, tidak ada yang lain yang bisa menjaga kita kecuali permohonan kita kepada Allah SWT untuk tetap dilindungi,” ungkapnya. 


Kisah Duit Gondrong 

Kemudian anggota DPR-RI 2009-2014 itu mengaku mendapat cerita. "Jadi, mertua teman saya itu dulu sopir pribadinya duta besar Amerika zaman tahun 1960-an, sebelum tahun 1965. Beliau itu orang Betawi,” ungkapnya, membuka.  


Bunda Lily memanggilnya dengan istilah "Be," panggilan akrab orang Betawi, singkatan dari "Babe”. 


"Emang ente orang mana, Be?" tanya Bunda Lily.   


"Saya dari Kwitang," jawabnya.   


"Oh, jamaahnya Habib Ali, dong?".   


"Iya, emang." 


Ketika ditanya di mana kerjanya, dia bilang sopir Duta Besar Amerika.   


"Pada waktu itu, di bawah tahun 1965 lah, 1963, 1964, 1965, dia itu cerita, kalau sudah akhir bulan tanggal 25, dia itu  bawa ‘duit gondrong,’ kalau kita istilahnya di Jakarta itu ‘duit gondrong.’ 


Duit dolar itu kan gondrong rambutnya. Jadi kita bilangnya ‘duit gondrong.’ Yang bawa Tas Echolac itu, dua tas isinya ‘duit gondrong,’ duit dolar diantar ke rumah salah satu tokoh Masyumi pada waktu itu, yang kebetulan menjabat di pemerintahan,” ungkap adik Gus Dur ini, bercerita.


"Saya berpikir: ‘Ini bedanya NU dengan mereka-mereka yang lain.’ Bahwa kita itu dari awal memang niat kita berjuang untuk agama, untuk Indonesia ini memang betul-betul lillah (karena Allah, ed.)," imbuhnya.    


Benturan NU 
Jika hari ini NU dihadapkan pada kondisi di mana kita umat Islam dibenturkan satu sama lain, Bunda Lily berharap NU tidak boleh emosi. Kita semua, menurutnya, harus sadar bahwa ini adalah konspirasi besar membenturkan umat Islam di Indonesia, karena satu-satunya negara yang umat Islamnya begitu besar, tapi tidak ada konflik yang berarti itu cuma di Indonesia. 


"Dan yang bisa menjaga semua itu cuma NU. Tapi kita tidak pernah melayani hal-hal yang tak perlu," ucapnya.   


Perempuan kelahiran Jombang, 4 Maret 1948 itu berharap, ke depan Nahdliyin tetap menjaga ukhuwah islamiyah, menjadi ukhuwah wathaniyah dan menjadi ukhuwah basyariyah, serta menjadi insan yang memang menjalankan semua perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.   


"Termasuk (menjaga dari) bermusuhan dengan siapa pun, apalagi dengan saudara seiman. Tapi saya yakin kok, di seluruh Indonesia ini orang NU itu sudah sangat matang menghadapi hal-hal seperti itu," tegasnya. 


Menurutnya, tantangan ke depan semakin berat karena perubahan zaman begitu cepat. Sementara kita dibatasi oleh hal-hal yang memang kita harus menjalaninya. 


"Tapi saya yakin, di semua cabang di seluruh Indonesia NU sudah siap untuk menghadapi hal seperti ini," ungkap dia.

 


 

Dimakamkan di Tebuireng

Menurut keterangan Gus Ipang Wahid, Jenazah akan disemayamkan di West Covina Blok SH 6/31, Kota Wisata Cibubur, Bogor. Kemudian jenazah dibawa ke Pesarean Tebuireng, Jombang, untuk dimakamkan.


"Insyaallah jenazah akan dimakamkan di Pesantren Tebuireng Jombang besok, berangkat dari rumah duka besok Selasa, 10 Mei 2022 pukul 05.00 WIB," tuturnya.


"Mohon dimaafkan kesalahan beliau semasa hidupnya," pungkas Gus Ipang.


Tokoh Terbaru