• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 7 Agustus 2022

Rehat

Kontroversi Gus Dur Dimulai dari Tanggal Kelahirannya

Kontroversi Gus Dur Dimulai dari Tanggal Kelahirannya
Gus Dur muda di sebuah perpusatakaan.
Gus Dur muda di sebuah perpusatakaan.

Konser daring Tribute to Gus Dur bertajuk “Diplomacy through The Art & Humor” bakal digelar malam ini, Senin (7/9/2020) di kanal YouTube Budaya Saya milik Ditjen Kebudayaan RI pukul 19.00 WIB.

 

Penghargaan dalam bentuk alunan musik itu dipersebahkan Ananda Sukarlan dan kawan-kawan tepat di tanggal kelahiran Gus Dur, 7 September. Ia akan berkolaborasi dengan Randy Ryan & Michael Anthony Kwok (piano), Wirya Satya (oboe), Stephanie Marcia (bassoon) Andika Candra (flute), Nino Ario Wijaya (clarinet), dan Yunus (French horn).

 

Bagi Ananda Sukarlan, Gus Dur bukan hanya seorang Presiden yang banyak melakukan pembaruan, tapi juga seorang diplomat handal dan pecinta seni. Mencintai seni merupakan hal penting bagi seorang pemimpin, karena ia harus bisa mengerti dan merasakan, bukan hanya mengetahui, terampil dan ahli dalam strategi politik serta pembangunan fisik.

 

“Yang dia pimpin itu adalah manusia yang mengatur ekonomi, politik, atau apapun. Manusialah yang semua memiliki kecerdasaan dan perasaan. Nah, diplomasi Gus Dur itu melalui seni dan juga humor,” jelasnya.

 

Kontroversi Kelahiran Gus Dur
Jika kita membuka Ensiklopedia NU, kemudian lari ke entri Abdurrahman Wahid, maka akan kita temukan data baru soal tanggal kelahiran Gus Dur. Di buku terbitan PBNU itu, Gus Dur ditulis lahir di Jombang pada 24 September. Ini berarti menambah satu versi lagi, sebelumnya kontroversi hanya di tanggal 4 Agustus atau 7 September. Namun, sebagaimana kelahiran KH Mahfudz Shiddiq, Ensiklopedia NU ini menyajikan data berbeda pada bagian kronik di jilid pertama. Pada bagian kronik Gus Dur disebut lahir 7 September. Sementara jika kita buka buku KH Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar karangan Abubakar Atjeh, menyebutkan bahwa Gus Dur lahir 4 Juli 1939. Tambah lagi satu versi.

 

Penulis biografi Gus Dur, Greg Barton berusaha menyelesaikan duduk perkara perbedaan tersebut. Pada bagian awal bukunya, ia menulis:

 

“Walaupun Gus Dur selalu merayakan ulang tahunnya pada tanggal 4 Agustus, tampaknya teman-teman dan keluarganya yang menghadiri pesta perayaan ulang tahunnya di Istana Bogor pada hari Jumat 4 Agustus 2000 tak sadar bahwa sebenarnya hari lahir Gus Dur bukanlah pada tanggal itu. Sebagaimana juga dengan banyak aspek dalam hidupnya dan pribadinya, ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat. Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut kalender Islam, yakni Gus Dur dilahirkan pada bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam penggalan Hijriah. Sebenarnya tanggal 4 1940 adalah 7 September,” tulis Greg Barton pada buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid.

 

Lalu dari mana asal muasal kontroversi ini? Perihal misteri tanggal lahir ini, ceritanya ketika itu Gus Dur ternyata tidak tahu persis tanggal berapa sebenarnya dia dilahirkan.

 

Berawal dari saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah sekolah dasar di Jakarta, Gus Dur ditanya, “Namamu siapa Nak?” 

 

“Abdurrahman,” jawab Gus Dur.

 

“Tempat dan Tanggal Lahir?” 

 

“Jombang.....,” saut Gus Dur terdiam beberapa saat. 

 

“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjut Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung terlebih dahulu bulan kelahirannya. Gus Dur hanya hafal bulan Komariahnya (hijriah), namun lupa hitungan Syamsiahnya (masehi). 

 

Ternyata, yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam hitungan hijriah. Tetapi gurunya menganggap Gus Dur lahir bulan Agustus. Maka sejak saat itu, Gus Dur dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Sya’ban 1359 H, atau 7 September 1940.

 

Pada peringatan harlah Gus Dur 4 Agustus 2020 lalu, warganet mengangkat tagar #HarlahGusDur, begitu juga setiap tanggal 7 September warganet menulisnya dengan tagar #UltahGusDur.  

 

Putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid saat itu menjelaskan duduk perkaranya melalui Twitter:  

 

"#UltahGusDur hari ini? Iya. 7 Sept, hari ulang tahun yang asli. 4 Agt, hari ulang tahun yang legal," katanya. 

 

Mantan Presiden Keempat Indonesia ini lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.

 

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

 

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syansuri.


 


Rehat Terbaru