• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 7 Agustus 2022

Rehat

Andai Gus Dur dan Romo Mangun Punya Akun Twitter

Andai Gus Dur dan Romo Mangun Punya Akun Twitter
Desain oleh Aprijal
Desain oleh Aprijal

Bloger kenamaan Yulianus Ladung, pernah membuat pengandaian terhadap dua tokoh yang mewakili komunitas agamanya; Kiai Haji Abdurrahmad Wahid (Islam) dan Romo Mangunwijaya (Katolik). Yulian menulis enam skenario seandanya keduanya mengelola media sosial Twitter. Akun Gus Dur tentu saja akan membanjiri twit-twit segar penuh humor. Sedangkan Romo Mangun konsisten menulis idealismenya mengenai pendidikan di Indonesia. 

 

Bisa saja, keduanya akan menjadi buzzer karena followersnya jutaan, atau meramaikan ranah jejaring media sosial dengan kelaziman foto selfie, usfie, wefie. “Skenario-skenario itu bebas bermekaran di benak kita,” kata Yulian.

 

Publik mengetahui hubungan Gus Dur dan Romo Mangun sudah terjalin cukup lama. Kedunya adalah tokoh kunci yang mewakili agamanya masing-masing. Namun bertemu dan berjejaring dalam bentuk yang setara: Memperjuangkan keadilan bagi masyarakat. Romo Mangun dikenal karena perjuangannya dalam mempertahankan hunian kaum papa di pinggiran Kali Code dan masyarakat yang terkena dampak pembangunan Waduk Kedung Ombo. Sementara Gus Dur selalu menjadi terdepan membela kaum minoritas yang teraniaya. Keberpihakan Gus Dur, bahkan terkadang mendapat kecamanan orang-orang dari komunitas agamanya. 
 

Yustinus Sapto Hardjanto menyebut, Gus Dur dan Romo Mangun sama-sama mewakili sosok yang unik dan eksentrik bahkan cenderung kontroversial. Gus Dur yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi pesantren yang kental ternyata seorang penggila musik klasik, pengetahuannya tentang musik klasik sangat mendalam. Mesti terlahir dalam tradisi pemikiran keagamaan yang tradisional namun pemikirannya sangat maju, melampaui jaman sehingga tak jarang menimbulkan keguncangan-keguncangan. Romo Mangun adalah pastor yang tak berkarya secara tradisional, tinggal di gereja melainkan memilih tinggal bersama orang yang dilayaninya, bukan pelayanan keagamaan melainkan pelayanan dan karya sosial. Dan meski tak punya anak (karena selibat) Romo Mangun mempunyai perhatian dan pengertian yang sangat dalam terhadap pendidikan anak-anak.

 

Sebagai tokoh agamanya keduanya menjadi unik karena Gus Dur misalnya sangat piawai dalam memberi ulasan tentang sepak bola. Komentar atau ulasan Gus Dur tentang sepakbola jauh lebih menarik dari orang-orang yang dikenal sebagai komentator bola. Sementara Romo Mangun yang adalah rohaniawan Katolik yang tidak menikah atau selibat namun sangat piawai dalam menulis roman-roman percintaan. Salah satu roman percintaan yang ditulis olehnya berjudul Romo Rahadi (Yustinus Sapto Hardjanto: 2013).
Dalam dunia tulis menulis keduanya saling bertukar dukungan. Gus Dur memberikan kata pengantar untuk buku karya Romo Mangun yang berjudul Menumbuhkan Sikap Religius Anak-Anak. Sementara Romo Mangun juga memberikan kata pengantar yang panjang atas buku bungai rampai pemikiran Gus Dur yang diberi judul Agama Keadilan.

 

Persahabatan antara Gus Dur dan Romo Mangun sudah cukup lama disemai oleh kadernya masing-masing di dataran twitter. Akun @KatolikG, misalnya, yang sebenarnya tidak mewakili lembaga atau institusi resmi gereja Katolik, tetapi pesan-pesan ringan yang disampaikan cukup menjadi jembatan dialog perkawanan lintas agama. Sedangkan guyonan-guyonan ala Gus Dur  terwakili oleh akun @Nugarislucu. Keduanya sering “tertangkap” ceng-cengan. Dan publik menikmati keduanya seperti halnya mereka mendengar ger-geran Romo Mangun dengan Gus Dur.

 

“Jangan kaget. Gus Dur itu orang Katolik tapi tidak pernah ke gereja (misa),” tulis Romo Mangun di akun twitternya. 

 

“Kalian jangan pingsan. Romo Mangun itu aslinya orang Islam, tapi tak pernah Shalat,” balas Gus Dur. 

 

Dari sini cukup terlihat, Gus Dur, meskipun awalnya terdesak oleh Romo Mangun justru mampu membalikan keadaan dengan menyeret  swoon theory, yang hingga kini masih diperdebatkan di kalangan Katolik. Kita belum tahu bagaimana keduanya saling lempar humor di alam sana.  


Rehat Terbaru