• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Matraman

Lewat Puisi, Pakar Aswaja NU Center Nganjuk Singgung Perilaku Bangsa

Lewat Puisi, Pakar Aswaja NU Center Nganjuk Singgung Perilaku Bangsa
Ilustrasi aktivitas masyarakat pedesaan. (Foto: NOJ/kbrispdr)
Ilustrasi aktivitas masyarakat pedesaan. (Foto: NOJ/kbrispdr)

Nganjuk, NU Online Jatim
Dewan Pakar Aswaja NU Center Kabupaten Nganjuk, KH Moh Zuhal Ma’ruf menciptakan puisi yang berisi tentang kerinduan kehidupan pada zaman dahulu. Hal ini terekam dalam akun facebooknya, Senin (07/11/2022).

 

Dalam puisi berjudul ‘Aku Rindu Suasana Dahulu’ itu, Kiai Zuhal hendak bercerita dan memberi kabar tentang situasi masa lampau yang jauh berbeda dengan yang masa kini. Secara ironi, dirinya menggambarkan jika negeri ini sekarang dipenuhi oleh aturan-aturan yang membuat lunturnya keramahan dan kearaban antar sesama anak bangsa.

 

Wakil Bendahara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nganjuk itu juga menyinggung perilaku orang-orang yang kerap menjadikan lelucon sebagai penistaan. Bahkan, penegak hukum pun tak lepas dari sasaran kritik Kiai Zuhal dalam puisi ini. Berikut isi lengkap puisi tersebut:

 

Aku rindu suasana dahulu

Dekat nan akrab

Kita bisa berceloteh canda tentang apa saja

Kita bisa melucu

Tertawakan diri kita sendiri

Tertawakan penggalan fragmen kehidupan

Bahkan kita bisa tertawa tentang Tuhan

 

Saat ini aku baru merasakan

"oh alangkah indahnya hari itu"

Karena saat ini entahlah....

Semua serasa berubah

Lelucon bisa menjelma malapetaka

Berbuah penjara

Yah...sepaket undang-undang telah ditetapkan

menjaga orang, institusi dan juga Tuhan agar tak dilecehkan

 

Tetapi sungguh bagiku ini melebihi kewajaran

Kehidupan berjalan demikian serius

Kaku dan lurus

Tak bisa lagi zigzag berkelok menikmati indahnya keramahan

Kelakar akrab yang dulu setia menghiasi suasana

Tak lagi leluasa tercipta

Terkekang atas nama undang-undang

Hati menjadi begitu sensitif

Mudah tersinggung

Oleh hal sepele

Yang sebenarnya tak bermaksud menyinggung

 

Oh...ke mana perginya

Kekayaan budi bangsa ini

Mengapa keramahan menjelma kemarahan rasa tersanjung menjadi gampang  tersinggung

Unjuk rasa menjelma amuk massa

 

Oh aku rindu suasana dahulu

Dekat nan akrab

Kurasakan saat ini

Kehidupan semakin berat, sarat oleh beban

Problem silih berganti

Datang menghimpit, menjepit

Harusnya....dengan kelucuan beban hati teralihkan

Kita bisa tertawa lepas

Sayangnya keadaan telah berubah

Tanpa disengaja melucu bisa kena pasal; perbuatan tidak menyenangkan, pelecehan atau penistaan

 

Oh bagaimana kabarnya bumi

Jika lelucon dibatasi

Menyisakan hal-hal serius tanpa hati.

 

Muh. Zuhal Ma'ruf
Nglawak, Ahad, 6-11-2022


Matraman Terbaru