• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Mei 2024

Matraman

Tradisi Kupatan di Trenggalek, Ada Arak-arakan Gunungan Ketupat

Tradisi Kupatan di Trenggalek, Ada Arak-arakan Gunungan Ketupat
Ilustrasi arak-arakan gunungan ketupat pada tradisi kupatan di Durenan, Trenggalek. (Foto: NOJ/ ISt)
Ilustrasi arak-arakan gunungan ketupat pada tradisi kupatan di Durenan, Trenggalek. (Foto: NOJ/ ISt)

Trenggalek, NU Online Jatim

Tradisi kupatan di Durenan, Trenggalek bakal digelar pada Rabu (17/04/2024) esok. Tradisi ini diawali dengan melakukan puasa Syawal 6 hari usai hari raya Idul Fitri, dan ditutup dengan lebaran ketupat atau tradisi ketupat.

 

Tradisi ini bermula dari Mbah Masir atau yang kerap disapa Mbah Mesir sekitar 2,5 abad yang lalu. Yakni, menjalankan puasa sunah Syawal sambal menerima tamu di pendopo atas permintaan Bupati Trenggalek kala itu.

 

Belasan tahun terakhir, warga asli sekitar mengadakan arak-arakan ketupat sebagai syiar. Sekaligus pula menunjukkan eksistensi kupatan akan tetap lestari meski tidak ada hiburan. Salah satu Panita Kupatan Durenan, Mochamad Cholid Huda menjelaskan, adanya arak-arakan ketupat sebenarnya untuk memecah kerumunan, agar kondisi arus di jalan-jalan poros tidak macet.

 

"Adanya arak-arakan hiburan itu supaya memecah arus tidak terlalu menumpuk dan agar tidak jenuh. Pun juga sebagai cara generasi sekarang untuk melestarikan dan hiburan hanya sebagai tambahan," ujar Mochamad Cholid Huda, Selasa (16/04/2024) pagi.

 

Dikatakan, kupatan kali ini tetap seperti tahun kemarin, yang berubah hanya waktu pelaksanaannya. Hal itu karena banyak tamu dari jauh yang tidak bisa masuk ke lokasi, maupun akan sowan ke pondok. Lantaran, lalu lintas ini benar-benar membuat macet, ditambah iring-iringan gunungan ketupat di belakang ada miniatur sound system yang membludak.

 

"Sampai jalan raya masalah sekali, jalan seharusnya dipisah tetapi di lapangan tidak, itu juga sebagai salah satu penyebab. Kalau tahun ini terlalu banyak risiko dipindah lagi, dikembalikan pagi pukul 07.00 WIB sudah berangkat," ucapnya.

 

Sementara untuk rute, Huda menambahkan gunungan ketupat segitiga yang disebut ketupat lanang dan satu lagi ketupat perempuan start dari Pondok Pesantren Babul Ulum. Usai KH Fattah Muin mendoakan, arak-arakan dimulai langsung menuju simpang empat Durenan ke arah Timur.

 

Baru ketika sampai di SMPN 1 Durenan, iring-iringan belok kiri atau ke Utara menuju Lapangan Durenan. Di situ nanti sudah banyak masyarakat yang ingin berebut gunungan ketupat. "Gunungan ketupat 1 full kupat tetap dari masyarakat yang membuat," bebernya.

 

Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Durenan ini menambahkan, di belakang gunungan ketupat sudah ada yang mengiringi. Di antaranya, drum band, hadrah, defile Wali Songo, sampai maskot anak-anak.

 

Sedangkan pada Selasa (16/04/2024) malam nanti akan ada hiburan balasyk dari salah satu grup musik Tulungagung. Huda mengaku, saat ini lokasi sudah mulai ramai dan berdatangan keluarga maupun masyarakat sekitar untuk silaturahim ke keluarga maupun ke pondok.

 

“Esensi kupatan ini tetap sebagai ajang silaturahim. Momen silaturahim dengan sanak keluarga, maupun kepada kiai pengasuh pesantren,” ungkapnya.

 

Selain itu, seluruh warga Durenan tetap siap menerima warga dari manapun. Baik kenal ataupun tidak, karena sudah menjadi budaya, ketika masuk rumah akan dipersilahkan makan ketupat yang telah disediakan.

 

"Kita kenal atau tidak kenal pokoknya urusan perut pasti disuruh makan. Ya kenalnya juga di situ. Budayanya itu kalau bisa tetap, terutama juga ke pondok, budaya silaturahim di pondok pesantren yang di Durenan," pungkasnya.


Matraman Terbaru