• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 27 Mei 2022

Metropolis

Alfina Rahma, Juara MTQ Jatim Ajukan Gagasan Madrasah Qur’ani

Alfina Rahma, Juara MTQ Jatim Ajukan Gagasan Madrasah Qur’ani
Alfina Rahmah Mawaddah, kafilah Kabupaten Sidoarjo penyandang Juara I Tilawah Remaja MTQ ke XXIX tingkat Jatim. (Foto: NOJ/LYR)
Alfina Rahmah Mawaddah, kafilah Kabupaten Sidoarjo penyandang Juara I Tilawah Remaja MTQ ke XXIX tingkat Jatim. (Foto: NOJ/LYR)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Alfina Rahma Mawaddah, penyandang Juara I Tilawah Remaja Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXIX tingkat Jatim. Alfina ini ternyata seorang pemerhati pendidikan.

 

Kafilah dari Kabupaten Sidoarjo tersebut sehari-harinya berprofesi sebagai guru di MI Darussalam Sugihwaras , Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

 

Saking cintanya terhadap dunia pendidikan, Alfina mengajukan gagasan dalam hal desain atau konsep madrasah/ sekolah Qur’ani. Menurutnya, mengelola lembaga pendidikan ibarat bermain layang-layang.

 

Merancang sampai jadi, melepas, mengendalikan dan mengikuti kemana arah angin. Tapi bagaimana pun, layang-layang memiliki karakter sesuai pola pikir (mind set) kesukaan sang pemilik.

 

“Begitu pula dengan mengelola lembaga pendidikan, sekolah atau madrasah harus didesain sesuai kebutuhan stakeholder. Setelah didesain, disosialisasikan, diterapkan, dimonitoring, kemudian dievaluasi. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri, visi, misi, dan spirit madrasah sebagai karakter tidak bisa dilepaskan dari pola pikir pemimpinnya,” kata Alfina kepada NU Online Jatim, Selasa (23/11/2021).

 

Lebih lanjut, Alfina mengungkapkan, munculnya istilah sekolah literasi, sekolah kreatif, sekolah sang juara atau lainnya biasanya dipengaruhi oleh pola pikir top leader. Termasuk sekolah-sekolah berwawasan Al –Qur’an atau lebih dikenal sekolah Qur’ani.

 

“Hal itu sah -sah saja, asalkan sudah menjadi keputusan bersama warga sekolah atau madrasah. Dan ini bagian dari gaya atau tipe kepemimpinan visioner seorang kepala madrasah/sekolah,” ungkapnya.

 

Definisi Sekolah/ Madrasah Qurani

Menurut  Alfina, ada dua makna sekolah Qur’ani. Pertama makna simbolik, lebih bersifat ritual-edukatif, yakni kegiatan ritual yang bersifat mendidik. Misalnya, setiap awal pembelajaran dimulai dengan membaca Al–Qur’an selama 10 menit, hal ini diikuti oleh seluruh warga madrasah/sekolah.

 

Kegiatan pengembangan diri dan muatan lokal juga berbasis Al-Qur’an, misalnya ekstra Qiro’ah, Tartil, dan Tahfidz, lomba-lomba bernuansa Qur’an seperti Tahfidz, Qira'ah, Tartil, Tarjim, dan cerita Qur’ani.

 

“Kedua, substansial, lebih mengarah kepada spiritual-edukatif, yakni penanaman nilai-nilai Qur’ani. Hal ini bisa dilakukan melalui  penanaman budaya Qur’ani. Misalnya toleransi, salam, senyum sapa, tolong menolong, shalat berjamaah, Jum’at bersih, peduli lingkungan, bakti sosial (baksos), jenguk orang-orang tua dan guru yang sedang sakit, takziyah, dan masih banyak lagi yang bisa dkembangkan,” terangnya.

 

Strategi Pengembangan

Wanita alumni Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) yang beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai Sarjana NU Inspiratif versi Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo tersebut menjelaskan beberapa strategi dalam mengembangkan sekolah/madrasah Qur’ani.

 

“Pertama, mengintegrasikan nilai-nilai (makhza) Qur’an ke dalam tiap mata pelajaran. Selanjutnya, kedua, memasukkan metode pembelajaran Qur’ani seperti dialogis, jidalah (debat aktif), mauizah (nasehat), cerita Qur’ani (qissah Qur’ani wan Nabawi). Ketiga, menggunakan penilaian berbasis Qur’ani, seperti evaluasi diri (intidzar nafsiyah),” jelas wanita yang karya cover shalawat dan qira'ahnya sudah banyak beredar di beberapa channel Youtube ini.

 

Adapun strategi yang keempat, menciptakan lingkungan Qur’ani di madrasah secara statis dan dinamis. Statis dengan cara membuat pesan-pesan moral Qur’an  di setiap sudut kelas dan lingkungan madrasah. lingkungan dinamis dengan menerapkan program simbolik dan substansial tadi.

 

“Sedangkan yang kelima, mencetak prestasi peserta didik di bidang Qur’an. Dimulai dari lomba Talent Qur’ani melalui pencarian bakat antar kelas bidang Tartil, Tahfidz, Cerita, Tarjim, dan Pildacil,” ujarnya.

 

 

Selanjutnya mengikutsertakan lomba di luar madrasah/ sekolah pada tiap levelnya mulai dari kecamatan sampai nasional, bahkan internasional.

 

“Mengembangkan madrasah/ sekolah Qur’ani, dengan demikian bisa dilakukan secara simbolik dan substansial, strategi dimulai dari integrasi nilai, hingga metodologis. Namun yang tidak kalah penting, komitmen bersama seluruh warga madrasah dan stakeholder,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru