• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Metropolis

Arumi Bachsin Ingatkan Dampak Buruk Pernikahan Dini

Arumi Bachsin Ingatkan Dampak Buruk Pernikahan Dini
Arumi Bachsin di acara workshop Genre di Surabaya, Rabu (02/06/2021). (Foto: Humas Pemprov Jatim)
Arumi Bachsin di acara workshop Genre di Surabaya, Rabu (02/06/2021). (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Surabaya, NU Online Jatim

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Timur Arumi Bachsin mengingatkan kepada masyarakat agar terus mengupayakan untuk membangun kesadaran akan dampak negatif perkawinan di bawah umur ideal. Karena, persoalan tersebut dinilai penting bagi kesehatan reproduksi remaja (KRR) dan perkembangannya.

 

Hal itu ia sampaikan saat mengikuti Workshop Bunda GenRe (Generasi Berencana) yang digelar di Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur di Jalan Airlangga Surabaya, Rabu (02/06/2021).

 

Arumi menekankan pentingnya penurunan angka pernikahan dini. Pasalnya, menurut Arumi, dinilai sangat vital. Perkawinan di bawah umur menjadi triad permasalahan KRR meliputi pernikahan di bawah usia ideal sesuai program keluarga berencana (KB) yakni 20 tahun, seks pra nikah, serta Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA).

 

"Usia minimal menikah untuk perempuan itu adalah 21 tahun. Sedangkan laki-laki idealnya 25 tahun. Mereka yang menikah di bawah usia itu, biasanya akan menghadapi permasalahan-permasalahan terutama untuk aspek sosial," ujar istri dari Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak itu.

 

Mantan aktris sinetron itu juga menjelaskan soal dampak sebuah pernikahan dini. Salah satunya yakin perubahan pada tingkah laku, perubahan kestabilan emosi, dan kerusakan serius pada organ tubuh.

 

Selain itu, efek terbesar penyebabnya adalah aspek kematian. Apalagi, sebut Arumi, remaja perempuan merupakan yang paling berisiko mengalaminya. Berdasarkan data yang diterima, ibu hamil dan melahirkan dengan rentang usia 10-14 tahun memiliki 5 kali probabilitas kematian lebih tinggi dibanding wanita berusia 20-25 tahun.

 

"Sedangkan yang berumur 15 sampai 19 tahun, memiliki 2 kali risiko kematian lebih tinggi dibandingkan umur ideal," jelas alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu.

 

Arumi juga mengajak para orang tua untuk ikut berpartisipasi membentuk remaja berkarakter dengan perencanaan pernikahan yang matang. Sebab, orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan kehidupan anak-anaknya.

 

"Orang tua seharusnya menjadi sumber informasi dan pendidikan utama bagi anak-anaknya. Tapi seringkali, orang tua kecolongan dengan teknologi dan kehidupan anak di dunia maya. Jadi saya mengajak para orang tua untuk mengintervensi aspek-aspek kehidupan anak agar mereka terjaga dari ancaman pernikahan dini yang semakin masif dan agresif," terang Arumi.

 

Masih menurutnya, program dan bimbingan orang tua dengan menargetkan kondisi di mana remaja menormalisasi pertimbangan aspek-aspek yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Yakni aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, jumlah dan jarak kelahiran.

 

Persoalan tersebut, lanjut Arumi, menjadi bagian dari langkah besar menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Dimana seorang remaja harus menjadi individu yang berkompetensi dan berkarakter.

 

"Karakteristik dari Generasi Emas ini adalah memiliki pendidikan setinggi mungkin, pekerjaan kompetitif, menikah terencana, aktif dalam kehidupan masyarakat, dan pola hidup sehat sehari-hari. Dengan meminimalisir pernikahan dini, harapannya kita bisa mencapai goal lainnya seiring dengan perubahan mindset remaja," kata Arumi.

 

Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru