• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 18 Agustus 2022

Metropolis

Dubes RI untuk Maroko Bicara tentang Gus Dur

Dubes RI untuk Maroko Bicara tentang Gus Dur
Hasrul Azwar Hutasuhut Dubes RI untuk Maroko (kanan) saat Haul Gus Dur. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah).
Hasrul Azwar Hutasuhut Dubes RI untuk Maroko (kanan) saat Haul Gus Dur. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah).

Sidoarjo, NU Online Jatim

Hasrul Azwar Hutasuhut Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania berkedudukan di Rabat berharap Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dapat melahirkan kader  Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang toleran.  

 

Hal ini disampaikan Hasrul Azwar saat sambutan acara webinar memperingati haul Gus Dur ke-12 dengan tema “Meneladani Gus Dur Sang Guru Bangsa: Toleransi dan Kebudayaan Cerminan Dasar Kemanusiaan”.

 

“Semoga haul Gus Dur ke-12 yang digagas oleh PCINU Maroko mampu menemukan kader Gus Dur yang memiliki wawasan keberagaman dan tetap mempertahankan Indonesia di atas keberagaman,” kata Harul.

 

Dubes yang telah menjabat sejak dilantik pada 13 Februari 2019 oleh Presiden Joko Widodo ini mengaku tidak terlalu dekat dengan Gus Dur. Baik sebelum atau sesudah menjadi presiden. Ia hanya berkesempatan beberapa kali bertemu Gus Dur saat putra KH Wahid Hasyim itu berkunjung ke Sumatera Utara.

 

“Secara fisik tidak dekat dengan Gus Dur. Tetapi secara ide dan gagasan sangat dekat, karena  ide dan gagasan Gus Dur juga cukup dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.

 

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa Gus Dur tokoh yang dikenal kontroversi. Namun sebagian orang menganggap ide dan gagasan Gus Dur melampaui zamannya. Seperti misalnya gagasan terkait pluralisme, moderasi beragama, dan kebebsan ekspresi.

 

Hasrul Azwar menilai dalam jabatan presiden yang tergolong singkat, banyak terobosan yang Gus Dur lakukan. Contoh membubarkan departemen penerangan dan memberikan terobosan hari libur bagi Agama Budha. Hal ini merupakan cerminan dari gagasan Gus Dur tentang kemajemukan.

 

“Banyak yang berfikiran ide Gus Dur negatif, tetapi setelah di telaah ternyata ide atau gagasan Gus Dur itu positif bagi kemaslahatan umat,” terangnya.

 

Hasrul Azwar  kembali mengapresiasi Gus Dur  saat mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) untuk memperjuangkan ide keterbukaan di Indoneisa. Menurutnya, di tangan sahabat KH Mustofa Bisri ini keterbukaan merambah ke berbagai sudut di Indonesia.

 

Hasrul Azwar juga melihat pengabdian yang ikhlas Gus Dur untuk NU. Hal itu menjadikan Nahdliyin sangat mencintai Gus Dur.

 

“Banyak yang ingin menjegal Gus Dur jadi Ketua Umum PBNU, tetapi Nahdliyin sangat cinta dengannya. Akhirnya usaha orde baru untuk menjegal Gus Dur,” ungkapnya.

 

Gus Dur memahami betul Indonesia dibangun atas keberagaman, kemajemukan masyarakat, sosial budaya, keberagaman agama, bahasa, adat istiadat dan itulah Indoensia di tangah kebhinekaan.

 

“Melihat ribuan orang setiap hari berziarah di makam Gus Dur, saya yakin beliau ahli surga,” pungkasnya.

 

Sementara itu Alissa Qotrunnada Munawaroh atau Alissa Wahid mengisahkan andil Gus Dur dalam membela muslim minoritas Mindanao, Filipina. Sebagai anak biologis sekaligus murid idiologis Gus Dur, Alissa menceitakan hari ke lima setelah Gus Dur wafat. 

 

Moro Islamic Liberation Front (MILF) dari Mindanao, Filipina  datang ke makam Gus Dur dan menancapkan bendera MILF.

 

“Kenpa bisa demikian? Karena Muslim di Mindanau betul-betul merasakan pembelaan Gus Dur kepada mereka,” ungkap ketua Jaringan Gusdurian itu.

 

Alissa menceritakan, suatu ketika si sebuah acara saat moderator mengenalkan bahwa Alissa adalah putri Gus Dur, seorang Mufti dari Mindanau mengangkat tangan dan mengatakan sambil meneteskan air mata.

 

“Saya tidak punya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan Gus Dur, tetapi saya tahu persis kami ini menikmati situasi yang lebih baik. Boleh membangun masjid, sekolah Islam, perkumpulan umat Islam berkat Gus Dur. Jadi bagi kami Gus Dur sangat besar jasanya,” kata Alisa Wahid menirukan pesan Mufti tersebut.

 

Alissa kemudian menyebutkan bahwa memang dulu Gus Dur sangat serius untuk mendampingi Muslim di Midanau. Dulunya muslim di daerah tersebut dianggap sebagi pemberontak yang mengakibatkan dilarangnya pembangunan masjid, sekolah, perkumpulan umat Islam dan sebagainya. Gus Dur melakukan diplomasi antar agama dengan Gereja Katolik di Filipina dan sekaligus pemerintah negara tersebut.

 

“Nah dari situ terjadi perubahan yang dianggap sebagai buah perjuangan Gus Dur. Dan kita tahu saat ini Mindanau menjadi daerah spesial atau otonomi khusus,” terangnya.

  

Bagi Alissa, haul Gus Dur  nilainya sangat besar, bahkan melebihi gelar pahlawan  nasional yang masih diperdebatkan. Menurutnya, gelar itu tidak bisa dibawa ke akhirat. “Tetapi doa dari Nahdliyin akan menjadi persaksian di akhirat,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru