• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 2 Oktober 2022

Metropolis

Gus Miftah Sebut Pernyataan Ketum Partai soal Amplop Hina Marwah Kiai

Gus Miftah Sebut Pernyataan Ketum Partai soal Amplop Hina Marwah Kiai
Tangkap layar instagram @gusmiftah soal pernyataan Ketum Partai yang diduga hina marwah kiai. (Foto: Istimewa)
Tangkap layar instagram @gusmiftah soal pernyataan Ketum Partai yang diduga hina marwah kiai. (Foto: Istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim
Pendakwah Gus Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah menyebutkan pernyataan salah satu Ketua Umum Partai Politik (Parpol) soal amplop diduga telah menghina marwai kiai dan pondok pesantren.


“Statemen Anda sangat menghina marwah kiai dan pondok pesantren,” ujar Gus Miftah melalui akun instagram @gusmiftah pada Kamis (18/08//2022).


Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji Sleman Yogyakarta itu menjelaskan, dalam khazanah pesantren ada istilah tabarukan, yaitu ngalap (mengharap) berkah yang dilakukan oleh seorang santri atau jamaah kepada kiai. Salah satu caranya adalah silaturahim kepada kiai.


“Dalam silaturrahim atau sowan itu biasanya santri atau jamaah minta doa, minta nasihat atas problem dan hajatnya,” katanya.


Menurutnya, tidak ada permintaan kiai kepada para santri dan jamaah kalau silaturahim harus memberi amplop atau apapun. Kalaupun ada, hal itu justru inisiatif dari santri atau jamaah yang sifatnya sukarela sebagai rasa mahabbah (cinta) seorang santri kepada kiai.


“Santri sowan kiai kemudian memberikan salam tempel kepada kiai itu bukan kiai yang butuh atau yang minta, tetapi kita sebagai santri yang butuh untuk melakukan itu sebagai bentuk ta’dhiman wa ikroman wa mahabbatan kepada para kiai,” tegasnya.


“Kita yang butuh sowan bukan kiai yang minta disowani,” imbuhnya dalam unggahan susulan di akun Instagram yang sama, Jum’at (19/08/2022).


Gus Miftah mengatakan, secara kultural kiai menjadikan jujukan semua orang dengan berbagai macam keluhan. Mulai dari masalah keluarga, jodoh, ekonomi, bahkan keperluan politik.


“Saru banget nggak sih ketika kita sowan dengan keluhan, pulang begitu saja? Kalau kata orang Jawa itu ‘bocah ora njawani’,” tuturnya.


Atas pernyataan salah satu Ketum Parpol tersebut, Gus Miftah meminta ia melakukan klarifikasi dan minta maaf.


“Kali ini anda menghina kiai dan pesantren dengan kalimat yang menyakitkan, saya sebagai santri yang biasa sowan kiai untuk tabarukan dan ngalap berkah meminta anda untuk klarifikasi dan minta maaf,” tandasnya.


Diketahui sebelumnya, seorang Ketum Parpol mengeluhkan adanya keharusan menyediakan amplop usai bertemu para kiai atau ulama saat dirinya melakukan kunjungan ke sejumlah tempat.


Keluhan itu ia sampaikan saat acara Pembekalan Antikorupsi Politik Cerdas Berintegritas dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terekam dalam akun Youtube ACLC KPK, Kamis (18/06/2022) lalu.


Metropolis Terbaru