• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Metropolis

Gus Muwafiq Ungkap Keindahan Islam di Indonesia

Gus Muwafiq Ungkap Keindahan Islam di Indonesia
KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq. (Foto: Istimewa)
KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq. (Foto: Istimewa)

Sidoarjo, NU Online Jatim

KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq menghadiri haul Mbah Raden Ali bin Abdurrahman di Masjid Bahauddin Ngelom Pesantren Taman, Sidoarjo Rabu (23/03/2022). Pada kesempatan ini, Gus Muwafiqmenyampaikan sejumlah hal terkait keindahan Islam di Indoneisa yang tidak ditemukan di negara-negara lain.


“Negeri Muslim terbesar di dunia itu Indonesia, yang paling banyak haji tiap tahun itu dari Indonesia, penghafal Al-Qur’an terbanyak juga di Indonesia,”  kata  kiai asal Sleman, Yogyakarta tersebut.


Menurutnya, kemajuan Islam di Indonensia seperti saat ini tidak lepas dari jasa para wali terdahulu yang membentuk Islam yang rahmatan lil alamani, termasuk peran muassis NU KH M Hasyim Asy’ari. Namun, di sisi lain ia heran karena banyak kalangan yang mencaci maki NU.


“Fahami betul konsep wali itu. Saya heran kalau buka grup WhatsApp ada orang yang mencaci maki NU yang notebenenya didirikan oleh para wali Allah,” ujarnya.


Gus yang khas dengan rambut gondrongnya itu mengungkapkan, bahwa Mbah Hasyim adalah seorang wali yang hafal Kutubus Sittah. Meliputi, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bukhari-Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Majah.


“Tapi anehnya, orang yang mencaci maki NU itu orang yang hanya hafal satu hadits,” terangnya.


Sementara KH Syihabuddin Sholeh selaku Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo menyampaikan, bahwa manusia semua bakal wafat. Hal yang perlu disiapkan sebelum wafat adalah memperbanyak shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kedua orang tua. 


“Kita semua mengikuti Haul Mbah Raden Ali. Insyallah, kita semua akan dicacat sebagai santri  beliau. Nanti kita semua menuju surga berpegangan sarung Mbah Raden Ali. Namun harus benar-benar mengikuti sifat Mbah Raden Ali,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru