• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Metropolis

Ketua ISNU Sidoarjo: Pers sebagai Pencerah

Ketua ISNU Sidoarjo: Pers sebagai Pencerah
Ketua PC ISNU Kabupaten Sidoarjo H Sholehuddin dalam suatu acara.(Foto: NOJ/Yuli Riyanto)
Ketua PC ISNU Kabupaten Sidoarjo H Sholehuddin dalam suatu acara.(Foto: NOJ/Yuli Riyanto)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Peringatan HPN tersebut dikukuhkan dalam Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. HPN 2021 mengusung tema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan”.

 

Tema ini relevan dengan kondisi saat negara bersama rakyat berjuang melawan penyebaran Covid-19 yang telah mewabah hampir setahun ini di nusantara.

 

“Ada tiga catatan dari tema di atas, pertama terkait dengan bangkit dari pandemi. Diakui atau tidak, pandemi sudah memberikan dampak psikologis yang berat. Bayang-bayang ancaman wabah masih menghantui sebagian besar masyarakat. Disisi lain pemberitaan tentang Covid juga tidak sedikit yang berbau hoaks,” Kata H Sholehuddin, Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Sidoarjo kepada NU Online Jatim, Selasa (09/02/2021).

 

Lebih lanjut, Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Surabaya tersebut memaparkan, berdasarkan lansiran dari laman Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia (RI), sedikitnya ada 163 berita hoaks seputar virus Corona. Artinya, betapa di era media sosial ini, masyarakat disuguhi pemberitaan bohong. Tentu ini diperlukan media penyeimbang agar tidak terjadi kegaduhan di akar rumput.

 

“Di sinilah peran pers diperlukan, selain dunia pers sebagai media kontrol, juga sebagai pencerah dan sarana edukasi kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat semakin dapat asupan nutrisi semangat dan bangkit dari keterpurukan,” paparnya.

 

Adapun catatan kedua, pemulihan ekonomi. Pandemi banyak memberikan dampak ekonomi tak terkecuali Indonesia. Dari laman LIPI tercatat pada kuartal II 2020 pertumbuhan ekonomi melambat dan terkontraksi hingga minus 5,32 persen secara tahunan. Kontraksi terdalam sektor konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat menurun dan dunia usaha mengalami masa suram.

 

“Beruntung ada sedikit ‘obat penenang’ melalui stimulasi dari pemerintah melalui bantuan sosial. Tetapi ini tidak bisa terlalu diharapkan. Maka, peran pers sangat diperlukan dalam upaya memberikan informasi semangat baru di bidang ekonomi. Tentu dengan tidak mengabaikan kampanye 5 M,” tegas penulis buku “Kibaran Sarung Kaum Cendekia, Jejak Langkah Ikatan Sarjana NU di Kota Delta” ini.

 

Wisudawan terbaik dalam program Doktor (S3) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) tahun 2017 ini mengatakan, saat ini banyak informasi di medsos, publikasi lembaga pendidikan, properti, lokasi wisata, perhotelan dan sektor ekonomi lainnya. Tentu ini menjadi sesuatu yang menggembirakan, meski tidak bisa dikatakan maksimal.

 

“Saya menyaksikan di salah satu kota jujukan wisata di sela-sela acara kedinasan, ditemukan semangat baru masyarakat dengan segala keterbatasan. Tukang becak masih bisa mengayuh, pedagang bisa berjualan, hotel bisa operasi kembali, sampai praktisi dunia hiburan bisa menghibur lagi,” terangnya.

 

Lebih lanjut ia menegaskan, jika aktifitas roda ekonomi yang sedang berjalan dapat diakses masyarakat, maka sedikit banyak dapat menambah semangat dalam memulihkan ekonomi secara makro maupun mikro. Tentu ini diperlukan peran pers yang tidak kecil.

 

“Sedangkan yang ketiga adalah akselerator perubahan. Pandemi mengubah segalanya, cara ibadah berubah, cara sekolah berubah, pola kerja berubah. Semua sektor harus melakukan perubahan, tetapi masalahnya tidak semua bisa mengikuti, diperlukan akselerator perubahan,” ujar Sholehuddin.

 

Di sinilah peran pers hadir dalam membersamai pola-pola perubahan, agar bisa dengan cepat diikuti secara massif. “Agar ketiga hal tersebut bisa tercapai, bangkit dari pandemi, ekonomi pulih dan akselerasi perubahan, dibutuhkan sinergitas bersama antara pers itu sendiri dengan pemerintah dan masyarakat. Dipastikan jika negara hadir bersama rakyat melawan penyebaran Covid -19,” tandasnya.

 

Dijelaskannya, bahwa program-program pemerintah harus bisa bersentuhan dengan pemulihan roda ekonomi kerakyatan. Sebagai contoh, PC ISNU Sidoarjo tahun 2020 lalu bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI dalam program perluasan kesempatan kerja bagi tenaga kerja baru di bidang penyiaran.

 

 

“Tentu ini bisa menjadi salah satu model sinergitas negara bersama rakyat didukung peran pers sebagai upaya pemulihan ekonomi mikro di tengah Covid-19 meski dengan segala keterbatasan. Selamat Hari Pers Nasional 2021,” tutup Sholehuddin.

 

Editor: Romza


Editor:

Metropolis Terbaru