• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Metropolis

Ketua LAZISNU Jatim Ingatkan Pentingnya Filantropi Digital

Ketua LAZISNU Jatim Ingatkan Pentingnya Filantropi Digital
Ketua PW NU Care-LAZISNU Jatim Ahmad Afif Amrullah (kanan) saat menyampaikan paparan dalam acara diskusi Refleksi Menuju 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar oleh DPW PKB Jawa Timur di Graha Gus Dur, Jalan Gayungsari Timur, Surabaya, Kamis (02/12/2021).(Foto: NOJ/ LYR)
Ketua PW NU Care-LAZISNU Jatim Ahmad Afif Amrullah (kanan) saat menyampaikan paparan dalam acara diskusi Refleksi Menuju 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar oleh DPW PKB Jawa Timur di Graha Gus Dur, Jalan Gayungsari Timur, Surabaya, Kamis (02/12/2021).(Foto: NOJ/ LYR)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi yang mandiri menjadi kebanggaan banyak orang. Bahkan panitia Muktamar ke-34 NU telah mengangkat tema besar yakni “Satu Abad NU Kemandirian Dalam Berkhidmah Untuk Peradaban Dunia”.

 

Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Care-Lembaga Amil, Zakat, Infak, Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jawa Timur Ahmad Afif Amrullah saat menjadi narasumber dalam acara diskusi Refleksi Menuju 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur di Graha Gus Dur, Jalan Gayungsari Timur, Surabaya, Kamis (02/12/2021).

 

Afif mengungkapkan, kemandirian yang dimaksudnya adalah ketika NU berusia satu abad diharapkan memiliki ekosistem (jejaring)  yang bisa menyambungkan antara dakwah, pelayanan kesehatan, rumah sakit, pendidikan (Universitas NU), dan pusat perekonomian.

 

“Kalau bicara tentang NU mandiri secara ekonomi, hal itu sudah diatur di dalam AD/ART NU terakhir yang disahkan dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang. Yang menyebutkan bahwa keuangan NU itu digali dari sumber-sumber dana di lingkungan NU, umat Islam, maupun sumber-sumber lain yang halal dan tidak mengikat. Kemudian sumber dana NU diperoleh dari uang pangkal, uang i’anah syahriyah, sumbangan, dan usaha-usaha lain yang halal,” ungkapnya.

 

Menurut pandangannya, ada tiga jalan kemandirian ekononomi yang harus dijalankan apabila NU ingin mandiri secara ekonomi. Pertama, NU harus punya badan usaha atau unit bisnis yang meliputi produk, jasa, distributor, konsultan, dan lainnya.

 

Contohnya di sektor kesehatan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo dengan memiliki RSI Siti Hajar menjadi cabang terkaya di Indonesia. Bahkan Sisa Hasil Usaha (SHU) juga dibagikan ke seluruh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sidoarjo.

 

“Kedua, gerakan filantropi melalui zakat, infak, shadaqah, wakaf, dan dana sosial lainnya. Adapun lembaga di internal NU yang menanganinya yaitu LAZISNU. Maka, kita perlu mengkolaborasikan antara tradisi dan inovasi. Yang tradisi adalah kaleng Koin NU, ini memang hanya recehan, tapi kalau dikumpulkan se-kabupaten nilainya bisa miliaran dan ini riil ada di sekitar kita,” paparnya.

 

Ia menambahkan, ada beberapa MWCNU yang sukses dalam mengelola Koin NU. Di antaranya MWCNU Kecamatan Turen Kabupaten Malang yang dalam sebulan bisa menghimpun dana Rp 250 juta. Selain itu, Kecamatan Turen menjadi salah satu kecamatan pertama di Jatim yang berhasil menyukseskan gerakan Koin NU.

 

Selanjutnya, yang terbaru adalah MWCNU Kalidawir Kabupaten Tulungagung yang memiliki tradisi setiap selapan atau Ahad Kliwon menghitung perolehan kaleng Koin NU dari 17 ranting se-kecamatan. Selama kurun waktu dua tahun (2018-2021) berhasil memperoleh total Rp 2,2 miliar.

 

“Dari hasil perolehan dana yang dihimpun tersebut, 30 persen digunakan untuk sosial, 25 persen untuk ekonomi produktif, 20 persen untuk badan otonom (banom) dan lembaga NU, 15 persen untuk operasional LAZISNU MWC Kalidawir dan ranting, dan sisanya 10 persen untuk dana cadangan. Hasil Koin NU juga digunakan untuk membangun lantai dua kantor MWCNU Kalidawir sebesar Rp 986 juta,” ujarnya.

 

Afif menekankan, LAZISNU Jatim telah melakukan banyak inovasi dalam hal filantropi digital dan fundraising digital melalui ATM, M-Banking, dan QR Code. Sedangkan terobosan di pasar filantropi melalui kitabisa.com untuk program crowdfunding atau landing page dan hasilnya luar biasa.

 

 

“PW LAZISNU Jatim sendiri telah melakukan kolaborasi pembayaran digital bekerja sama dengan Shopie, dan Lazada. Kami juga melakukan digital fundraising dan hasilnya pada tahun 2020 kemarin yang tercatat sampai dengan Rp 6 miliar selama 1 tahun. Gerakan filantropi ini potensi luar biasa yang harus kita maksimalkan. Dan jalan kemandirian yang ketiga adalah i’anah syahriyah anggota,” pungkasnya.

 

Editor: Romza

 

 


Editor:

Metropolis Terbaru