• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Metropolis

Ketua PWNU Jatim Jelaskan Islam sebagai Agama Paripurna

Ketua PWNU Jatim Jelaskan Islam sebagai Agama Paripurna
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur. (Foto: NOJ)
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

Di tengah permasalahan dunia saat ini, bermacam kebimbangan dan kesulitan dialami manusia. Sebagai muslim harus meyakini kalau Islam adalah agama yang diyakini paling benar dengan mengamalkan ajarannya sehingga akan selamat setelah meninggal.

 

Penegasan ini disampaikan KH Marzuki Mustamar pada acara istighotsah kubro virtual dengan tema ‘Negeri Jiran Mengetuk Langit’.

 

“Pertama yang saya ingin sampaikan adalah Islam. Jangan sampai serambut pun meragukan kebenarannya. Islam seratus persen benar. Baik itu yang berada di dalam al-Qur’an maupun ada di sunnah al-hadits shahih,” katanya, Sabtu (06/02/2021).

 

Ketua Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini menambahkan, di dalam landasan Islam sudah sempurna sejak dahulu ketika masa Nabi Muhammad. Sehingga dari dulu sampai sekarang rujukannya tidak diragukan lagi.

 

“Telah sempurna kalimat-kalimat firmah Allah, al-Qur’an juga hadits yang semuanya benar. Pertama-tama surat al-Baqarah ayat kedua menyatakan, kitab al-Qur’an ini seratus persen mantap, 100 persen akurat, seratus persen valid, seratus persen meyakinkan, sedikitpun tidak ada keraguan di dalamnya,” terangnya.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilulrosyad, Gesek, Kota Malang mengatakan, ada banyak bukti kebenaran kitab suci orang Islam. Sehingga apa yang ada sekarang adalah kebenaran yang tidak bisa ditolak lagi.

 

“Ada sekian banyak dokumentasi dan bukti, tentang kebenaran Islam, bukan hanya klaim belaka. Apalagi membual, memang benar, kalau ukuran kebenaran suatu agama, adalah keautentikan, keaslian kitab suci ini, kebenaran kitab sucinya,” tegasnya.

 

Pada acara rangkaian hari lahir ke-95 NU oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Malaysia tersebut, Kiai Marzuki melanjutkan. Bahwa dulu setelah Rasulullah meninggal, para sahabat memiliki inisiatif untuk membukukan al-Qur’an agar tidak hilang.

       

“Lalu ketika Rasulullah wafat, ada sekitar 600 sahabat yang hafal al-Qur’an, sekali lagi ada sekitar 600 sahabat yang hafal al-Qur’an, lalu zaman khilafah Abu Bakar, Syaidina Umar bin Khattab mengusulkan, supaya melakukan pembukuan al-Qur’an. Al-Qur’an yang ditulis mungkin satu surat, dua surat, dikumpulkan, diurut sesuai dengan yang dibaca oleh Rasulullah dalam berbagai acara,” jelasnya.

 

Dari ceritanya, Kiai Marzuki pernah didatangi tamu non-muslim dan bercanda menanyakan keaslian kitab suci. Selain itu, ketika tidak banyak yang hafal, ditakutkan akan keasliannya.

 

“Kalau ada umat sama sekali tidak hafal kitab sucinya, dari dulu gak ada hafal kitab sucinya, maka ketika ada orang jahil, menambah, mengurangi, kalimat yang ada di kitab suci itu. Siapa yang tahu dan bisa menjamin bahwa cetakan baru, terbitan baru tetap asli,” pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah


Editor:

Metropolis Terbaru