• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Metropolis

Khusyuk, Suasana Shalat Tarawih Pertama di Masjid Al Akbar Surabaya

Khusyuk, Suasana Shalat Tarawih Pertama di Masjid Al Akbar Surabaya
Suasana salat Tarawih malam pertama di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Senin malam (12/04/2021). (Foto: NOJ/NF)
Suasana salat Tarawih malam pertama di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Senin malam (12/04/2021). (Foto: NOJ/NF)

Surabaya, NU Online Jatim

Pemerintah memutuskan 1 Ramadlan 1442 Hijriyah jatuh pada Selasa (13/04/2021). Keputusan itu diambil setelah beberapa tim rukyatul hilal di seluruh Indonesia menyatakan melihat anak bulan atau hilal. Itu sama dengan penentuan awal Ramadlan dengan metode hisab. Segera setelah itu, umat Islam di Indonesia pun melaksanakan salat Tarawih pada Senin malam (12/04/2021).

 

Kendati masih dalam suasana pandemi, namun banyak masjid di daerah yang berstatus kuning dalam peta zonasi Covid-19 melaksanakan salat Tarawih berjamaah, tentu saja dengan jumlah jamah dibatasi dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Salah satu masjid yang menggelar salat Tarawih berjamaah ialah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS).

 

Di masjid terbesar kedua se Indonesia ini, keterisian jamaah tak lebih dari 50 persen dari kapasitas normal masjid. Jamaah diatur menempati shaf yang sudah ditandai, sehingga jarak antara satu jamaah dengan jamaah lain cukup renggang, sekitar 1,5 meter. Kendati begitu, kesan khusyuk sangat terasa pada Tarawih di malam pertama itu.

 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa turut melaksanakan salat jamaah Tarawih di MAS. Ia mengaku senang dan khusyuk. Ia juga terlihat gembira karena MAS menerapkan protokol kesehatan. Jamaah juga dibatasi 50 persen dari kapasitas normal. Jarak masing-masing jamaah diatur agak jauh. Surat-surat yang dibacakan imam juga surat-surat pendek.

 

"Ini dilakukan untuk menjaga segala sesuatu agar kebaikan dan keselamatan semua terjaga. Selamat memasuki seluruh ibadah di bulan Ramadlan," kata Khofifah.

 

Menurut Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama itu, MAS cukup menjadi masjid sentral di Jawa Timur. Ventilasi di masjid tersebut cukup bagus sehingga jamaah bisa diisi maksimal 50 persen. Untuk masjid yang memiliki ventilasi terbatas, Khofifah mengimbau agar mengisi jamaah Tarawih maksimal 25 persen dari kapasitas normal.

 

Yang berpotensi menimbulkan kerumunan sebetulnya ketika selesai salat Tarawih, yakni ketika jamaah mencari sandalnya masing-masing untuk pulang. Karena itu MAS mengatur agar jamaah membawa sandal masing-masing dan dimasukkan ke dalam kantung plastik. Setelah salat, jamaah diminta tidak bersalaman dan langsung pulang. Khofifah meminta masjid-masjid lain di Jatim meniru itu.

 

Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru