• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Metropolis

Kiai Najib: Kota Besar Perlu Sekolah Beraliran Aswaja an-Nahdliyah

Kiai Najib: Kota Besar Perlu Sekolah Beraliran Aswaja an-Nahdliyah
KH Agus Muhammad Najib di Sekolah Islam Shafta Surabaya.(Foto: NOJ/Ali H)
KH Agus Muhammad Najib di Sekolah Islam Shafta Surabaya.(Foto: NOJ/Ali H)

Surabaya, NU Online Jatim
Keberadaan lembaga pendidikan di kota besar yang berhaluan Ahlussunnah Waljama’ah sangat penting. Karena selama ini banyak yang mengaku sebagai sekolah Islam, namun mengajarkan hal berbeda. Oleh sebab itu, orang tua hendaknya lebih waspada.


"Sekarang banyak lembaga besar berlabel Islam tapi alirannya bukan Ahlussunnah Waljama’ah atau Aswaja an-Nahdliyah. Ini kita harus hati-hati," kata KH Agus Muhammad Najib, Sabtu (06/08/2022). 


Penegasan tersebut disampaikan kepada sejumlah wali murid Sekolah Islam Shafta Surabaya yang mengikuti webinar parenting. Pembantu Rektor 1 Institut Keislaman Abdullah Faqih (Inkafa) Gresik ini membawakan materi Memaknai Belajar di Hari Kemerdekaan RI ke-77 dan Parenting Islam. 


Kiai Najib mengimbau wali murid harus selektif dalam memilih lembaga pendidikan. Karena, sejumlah sekolah beraliran wahabi memiliki motif dan cara untuk menanamkan doktrin pada saat siswa terlanjur menempuh pendidikan cukup lama. 


"Jangan sampai orang tua salah memasukkan anak ke sekolah. Karena bagaimana pun anak adalah aset, jika mendapatkan pendidikan tidak benar kita akan menanggung akibatnya," ujarnya. 


Dia berharap pihak Sekolah Islam Shafta dan wali santri agar serius dalam menggarap sekolah ini guna membendung aliran-aliran yang berpotensi merusak akidah. 


Pada kesempatan tersebut, juga terjadi dialog interaktif antara pemateri dengan wali murid terutama terkait kekhawatiran orang tua dengan sekolah berlabel Islam namun beraliran terlarang. Mereka bertanya bagaimana cara membedakan antara sekolah Islam Ahlussunnah Waljama’ah an-Nahdliyah dan sekolah wahabi. 


Menurut Kiai Najib, keberhasilan pendidikan didukung oleh tiga unsur. Yaitu sekolah, orang tua dan siswa. Jika ketiga unsur saling memenuhi, maka misi visi pendidikan akan mudah dicapai. 


“Sedangkan visi dan misi dari sebuah lembaga pendidikan atau madrasah untuk memberikan bekal ketakwaan kepada siswa dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat,” ungkapnya. 


Bekal tersebut harus seimbang agar siswa mendapatkan kesuksesan. Karena kecerdasan tanpa ketakwaan hanya akan menimbulkan kerusakan. 


"Bekal ukhrawi harus kita tanamkan kepada siswa begitu juga duniawi. Guru harus membekali siswa menjadi murid aktif dan kreatif sehingga bisa hidup layak ketika di dunia," katanya. 


Menurut Kiai Najib, anak adalah hal paling berharga bagi orang tua dan memberikan manfaat jika benar dalam mendidik. Demikian pula sebaliknya. 


"Karena anak yang shalih itu nantinya akan menjadi aset orang tua," tegasnya. 


Sementara itu, Ketua Yayasan Al-Insanul Kamil Ahmad Nashruddin mengatakan bahwa akan mengambil kurikulum merdeka belajar yang digagas oleh Mendikbud. Oleh karena itu, pihak sekolah ingin menyerap ilmu dari berbagai kalangan, khususnya narasumber. 


“Kami ingin menggali konsep merdeka belajar dari sisi islami, apalagi yang dihadirkan saat ini adalah Kiai Najib dari Pesantren Mambausshalihin Gresik,” katanya.


Karena itu kegiatan parenting yang menghadirkan Kiai Najib menjadi kesempatan untuk menggali sejumlah hal yang harus dilakukan. Apalagi kegiatan juga dihadiri orang tua dan siswa dan siswi dari sekolah yang ada.


Editor:

Metropolis Terbaru