• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Metropolis

Kisah Abdulloh, Peraih Beasiswa LPDP Santri RMI PBNU 2021 Asal Mojokerto

Kisah Abdulloh, Peraih Beasiswa LPDP Santri RMI PBNU 2021 Asal Mojokerto
Abdulloh (tengah) saat wisuda S1 di UGM bersama kedua orang tuanya (kanan-kiri). (Foto: NOJ/Abdulloh)
Abdulloh (tengah) saat wisuda S1 di UGM bersama kedua orang tuanya (kanan-kiri). (Foto: NOJ/Abdulloh)

Mojokerto, NU Online Jatim

Abdulloh merupakan pria sederhana dari Mojoranu, Mojokerto. Pekerjaan ayahnya cukup memotivasi, yaitu mengabdikan diri ke masyarakat menjadi takmir Masjid Baitul Mukminin Mojoranu dan Ketua Ranting NU Mojoranu. ​​​​​​​Anak terakhir dari empat bersaudara ini menceritakan bahwa ibunya hanyalah wiraswasta sales sepatu yang mengambil di produsen kemudian disalurkan ke distributor.

 

Abdulloh mengenyam pendidikan di Madrasah di bawah nanungan LP Ma’arif NU, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ulum Mojoranu. Enam tahun dia mengabdikan diri di pesantren, Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto. Ia juga mendapatkan beasiswa dari yayasan, karena peringkat 10 besar pada tes masuknya.

 

Pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2020 ini bercerita pada masa proses pendidikan S1, awalnya hanya ingin berkuliah saja, tanpa mempertimbangkan universitas terbaik atau tidak. Hal tersebut dibuktikan dengan usahanya untuk mendaftar jalur undangan di perguruan tinggi negeri umum dan Islam. Sebelumnya dia sempat bermimpi diterima kuliah di UGM.

 

“Namun, ketika hasil dari pengumuman jalur undangan keluar, ternyata saya belum rejekinya kuliah di UGM, dan pada waktu itu saya sudah pasrah,” ucap pria kelahiran Mojokerto 24 tahun silam ini.

 

Ketika dia pasrah, akhirnya salah satu program beasiswa yang dia daftarkan untuk lanjut kuliah di S1 Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) memberikan pengumuman hasil yang memuaskan.

 

“Universitas yang saya pilih ketika di pendaftaran PBSB itu Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan jurusan yang jarang sekali santri pikirkan untuk mengambilnya, yaitu Ilmu Ekonomi. Dan alhamdulillah saya lolos,” katanya saat di hubungi NU Online Jatim, Rabu (08/11/2021).

 

Abdulloh memulai belajar bahasa inggris dari dasar di Pare, Kediri di akhir tahun 2019. Pada bulan Februari, dirinya mendapat program beasiswa satu tahun yang diberikan oleh salah satu lembaga kursus di Pare, yaitu Global English.

 

“Sebulan setelahnya, Covid-19 masuk ke Indonesia dan melonjak kasusnya, seluruh lembaga kursus bahasa Inggris memulangkan seluruh siswanya, begitu juga dengan saya hingga enam bulan setelahnya. Ketika 6 bulan di rumah, saya masih aktif ikut kelas online,” ungkapnya.

 

Akhirnya Abdulloh mengikuti official test TOEFL pada 3 Maret 2021, dan dia mendapatkan skor yang sesuai dengan targetnya yaitu 500+. Pada waktu itu, Abdulloh memutuskan untuk mendaftar LPDP yang regular di bulan Oktober, akan tetapi dirinya gagal dalam tahap tes subtansi. 

 

Kemudian ia mendengar dari rekannya bahwasannya LPDP Santri RMI PBNU 2021 dibuka, dan ia langsung memberanikan diri untuk mendaftar.

 

“Yang paling memotivasi saya hingga saat ini adalah orang tua saya, karena selalu mendukung langkah saya untuk bisa lanjut kuliah meskipun menunggu hingga 2 tahun setelah lulus dari S1. Selain itu, dari pondok pesantren saya juga sudah memberikan izin kepada saya untuk melanjutkan kuliah,” tandas Abdulloh.

 

Syarat awal jika ingin mendaftar beasiswa LPDP Santri ini menurutnya adalah:

1. Lulusan 2 tahun terakhir dari PBSB.

2. Telah berkontribusi dalam pengembangan pondok pesantren 3 tahun terakhir. 

Jika salah satu dari dua syarat tersebut terpenuhi, maka bisa mendaftar.

3. Ketika sudah memenuhi syarat, maka berkas-berkas yang perlu disiapkan yaitu, surat rekomendasi dari pondok pesantren asal, transkrip nilai, ijazah, sertifikat bahasa (TOEFL/IELTS), dan yang terpenting itu adalah essay kontribusi setelah S2, serta personal statement.

 

Santri asuhan KH Muthoharun Afif ini juga membagikan tips dan trik jika ingin kuliah ke luar negeri. Yang pertama, cari tahu dahulu semua persyaratan yang sekiranya dibutuhkan untuk daftar beasiswa, tapi sebelum itu kita harus tau beasiswa mana yang cocok atau memenuhi kriteria untuk kita. Yang terpenting adalah sertifikat bahasa Inggris, karena itu syarat ketika ingin lanjut kuliah. 

 

“Dan yang terakhir, kuatkan niat dan jangan sampai goyah, karena banyak rintangan yang akan dilalui untuk mengetahui seberapa kuat kita akan memperjuangkan mimpi kita,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru