• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 14 Agustus 2022

Metropolis

Lahir dari Keluarga Sederhana, Prof Muzakki Dilantik Jadi Rektor UINSA

Lahir dari Keluarga Sederhana, Prof Muzakki Dilantik Jadi Rektor UINSA
Prof Akh Muzakki saat dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Rektor UINSA di Jakarta. (Foto: Media Center PWNU Jatim)
Prof Akh Muzakki saat dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Rektor UINSA di Jakarta. (Foto: Media Center PWNU Jatim)

Surabaya, NU Online Jatim
Prof Akh Muzakki dilantik sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya periode 2022-2026. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini merupakan sosok yang terlahir dari keluarga sederhana. Namun, hal tersebut tidak menghalanginya untuk mencapai pendidikan tinggi, sebab baginya cita-cita yang tinggi harus diperjuangkan tanpa lelah.


“Jangan pernah menyerah untuk mencapai apa yang diinginkan. Semua pasti ada jalannya," tutur Akh Muzakki, yang dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Rektor UINSA di Jakarta, Senin (06/06/2022).


Guru besar bidang sosiologi pendidikan tersebut merupakan sosok berkepribadian tegas dan menjaga integritas. Akh Muzakki tak pernah lelah menyampaikan pentingnya pendidikan untuk kemajuan masyarakat.


Lahir di Sidoarjo 9 Februari 1974, Akh Muzakki menempa diri dalam pergulatan hidup dari keluarga sederhana. Bahkan, diakuinya, secara materi tidak akan mampu menempuh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Berkat kerja keras dan keinginan yang kuat, semua itu dikalahkan.


"Jangan tertunduk pada kemiskinan. Kemiskinan adalah sebagian dari romantika hidup,” ujar penulis buku "Eduspiring, Sekolah Inspirasi, Hidup Berprestasi" yang terbit 2017 itu.


Karena keinginan kuat itu, Akh Muzakki terus belajar dan terus belajar. Hal ini mengantarkannya memperoleh beragam beasiswa saat menempuh pendidikan. “Semuanya beasiswa, free,” tutur peraih gelar Ph.D dari The University Of Queensland, Australia itu.


Memang ada kesan jumawa ketika ia selalu menempelkan namanya dengan sederet gelar panjang, meskipun di forum yang tak ada kaitannya dengan dunia akademik. Hal itu semata-mata sebagai bagian dari menebarkan inspirasi kepada publik.


Perjuangan mendapatkan hal itu tidak didapat dengan mudah. Akh Muzakki mengakui, proses meraih pendidikan tinggi itu penuh liku. Tak jarang cemoohan pun diarahkan pada dirinya.


Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UINSA periode 2018-2022 itu mengakui, sejak kecil hingga masuk kuliah, tidak pernah menempuh pendidikan di sekolah-sekolah yang keren. Ia merampungkan pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama, melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri dan Madrasah Aliyah Negeri, semua di Sidoarjo.


“Saya dari kecil sekolah di madrasah. Zaman dulu mana ada madrasah yang keren, hingga kuliah di UINSA, dulu masih IAIN. Karena, tidak keren itu, saya diejek dan dicibir, mana mungkin bisa sekolah tinggi, sekolahnya saja tidak mutu. Tapi itu membuat saya termotivasi untuk terus belajar,” tutur putra pasangan Imam Syafii (almarhum) dan Ibu Zulaicha ini.


"Madrasah yang mengajari saya bagaimana menjadi individu yang pintar dan benar sebagai kerangka kesempurnaan seorang hamba yang ideal," imbuh suami Erna Mawati


Intelektualisme dan Tanggung Jawab Sosial
Sebagai kaum terpelajar, Akh Muzakki tak hanya bergelut di dunia kampus semata. Ia pun mengambil bagian di tengah masyarakat dengan aktif berorganisasi guna menyalurkan kegelisahan intelektualnya. Ia tercatat sebagai Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.


Akh Muzakki, yang saat belajar di Australia aktif di Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia, meyakini bahwa kalangan akademisi akan muncul sebagai pengkritik tajam terhadap kemapanan yang hegemonik. Di situlah peran-peran intelektual menjadi bagian penting dalam perubahan masyarakat. Tentu perubahan ke arah perbaikan-perbaikan menuju kemajuan.


Sebagai bagian kelas menengah di Indonesia, bagi peraih gelar master of philosophy (MPhil) dari ANU, kalangan intelektual kampus justru berpotensi untuk menjadi kritis terhadap segala bentuk hegemoni kemapanan.


Memang, kalangan akademisi memiliki tanggung jawab untuk melakukan kritik terhadap segala bentuk penyimpangan moral sosial. Seiring dengan karakter tipikal umum kelas menengah sebagai kelompok sosial yang paling “cerewet”, kritis, dan “tidak tahan” terhadap kebobrokan.


Potensi akademisi dengan kekuatan gagasan dan kapasitas artikulasinya pun sangat potensial untuk menjadi penggerak atas terjadinya sebuah perubahan. Kaum terpelajar kini di antaranya berwujud dalam profesi akademisi berperan sebagai elemen penting bagi perubahan Indonesia menyusul posisi mereka sebagai kelas menengah.


"Dari sisi aspirasi, akademisi merepresentasikan sebuah kelompok kelas menengah. Kritisisme sangat lekat dengan karakter akademisi, sebagaimana kelompok kelas menengah pada umumnya," tutur mantan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur.


Perubahan sosial digerakkan, antara lain, dari kalangan kelas menengah. Akh Muzakki mengingatkan, moralitas sosial publik tampak menjadi pertimbangan bagi lahirnya kritisisme di sejumlah kalangan akademisi. Orang pun akhirnya mempersepsi kekuatan kalangan akademisi sebagai kekuatan moral.


Sikap kritis bagi kaum intelektual terejawantah dalam gagasan-gagasan yang ditulis, baik di media massa (surat kabar, majalah dan jurnal) maupun dalam bentuk buku. "Ketahuilah apa yang kamu tulis, jangan tulis apa yang kamu ketahui," pesan Akh Muzakki.


Metropolis Terbaru