• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Metropolis

Nabi Muhammad Menghormati Perempuan Sejak Zaman Jahiliyah

Nabi Muhammad Menghormati Perempuan Sejak Zaman Jahiliyah
Wakil Ketua Aswaja NU Center Sidoarjo, Ning Farida Ulfi Na’imah. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)
Wakil Ketua Aswaja NU Center Sidoarjo, Ning Farida Ulfi Na’imah. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)

Sidoarjo, NU Online Jatim
Wakil Ketua Aswaja NU Center Sidoarjo, Ning Farida Ulfi Na’imah mengatakan, Nabi Muhammad SAW telah menghormati perempuan sejak masa jahiliyah di tengah kultur masyarakat saat itu yang terbiasa merendahkannya. Penegasan itu disampaikan saat mengisi kajian Aswaja Female Mengaji yang disiarkan melalui akun Instagram @aswaja_femalesda, Sabtu (06/08/2022) siang.


Ning Ulfi, sapaan akrabnya mengungkapkan, sebagaimana di sebuah hadist dalam kitab Sittin Adliyyah, disebutkan bahwa sebaik-baik suami adalah yang paling baik akhlaknya kepada istri.


“Jika berbicara akhlak, berarti ada relasi dengan orang lain. Bagaimana akhlak kepada orang tua, anak, saudara, rekan kerja, atau yang paling kecil cakupannya dengan istri,” tuturnya.


Dirinya menuturkan, betapa pada masa jahiliyah perempuan tidak dianggap hak-haknya. Namun ketika Islam datang, perempuan mendapatkan haknya ketika berelasi dengan keluarga, suami, ataupun masyarakat.


Dijelaskan, Nabi Muhammad SAW menyapa putrinya Siti Fatimah dengan suka cita. Padahal saat itu masyarakat Arab umumnya malu ketika mempunyai anak perempuan. Karena pada masa itu perempuan bagaikan aib yang tidak harus dimiliki, bahkan harus dibunuh.


“Namun, tidak bagi Nabi yang merupakan putra dari Abdullah dan Siti Aminah, ia menghormati dengan penuh cinta anak perempuannya dan perempuan di sekitarnya,” tegasnya.


Bahkan, dalam suatu riwayat dari Abu Hurairah, ada perempuan berkulit hitam yang sehari-hari membersihkan masjid. Karena tidak kelihatan, Nabi pun mencarinya dengan bertanya kepada para sahabat yang ternyata perempuan itu wafat.


“Setelah mengetahui perempuan itu sudah wafat, Nabi kemudian bergegas mendatangi makam perempuan itu,” ucap Kepala Prodi (Kaprodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) Institut Pesantren KH Abdul Chalim (Ikhac) Pacet, Mojokerto itu.


Melalui kisah di atas bisa diambil beberapa hal dalam kajian fiqih. Salah satunya keterangan tentang perempuan yang membersihkan masjid. Artinya, perempuan bekerja di luar rumah sudah ada sejak zaman Nabi.


“Jadi, tidak perlu lagi bertanya bagaimana hukum perempuan bekerja di luar rumah, karena hal itu sudah ada sejak dulu,” tandasnya.


Metropolis Terbaru