• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 26 November 2022

Metropolis

Aswaja Female Mengaji: Perempuan Dihargai Sejak Lahirnya Islam

Aswaja Female Mengaji: Perempuan Dihargai Sejak Lahirnya Islam
Flyer Aswaja Female Mengaji. (Foto: NOJ/ Ist)
Flyer Aswaja Female Mengaji. (Foto: NOJ/ Ist)

Sidoarjo, NU Online Jatim
Dalam agama Islam, perempuan disebut sebagai perhiasan. Kedudukan dan fungsinya dihargai sejak lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut diungkapkan oleh Ning Masruroh selaku anggota Aswaja NU Center Sidoarjo saat acara ‘Aswaja Female Mengaji’ yang disiarkan melalui akun Instagram @aswaja_femalesda pada Selasa (12/07/2022).


“Tentu kita sudah tahu bagaimana saat masa jahiliyah, kalau melahirkan perempuan seakan-akan seperti aib atau bencana. Akan tetapi, saat datangnya Nabi, kedudukan perempuan dihargai sejak masa anak-anak,” katanya.


Ning Masruroh lantas mengutip sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah. Disebutkan, suatu ketika Aisyah didatangi seorang pengemis perempuan bersama dua anaknya yang juga perempuan. Saat itu, Aisyah tidak mempunyai apa-apa yang bisa diberikan selain sebiji kurma.


“Aisyah kemudian memberikan satu kurma itu. Ibu itu membagi kurma tersebut jadi dua untuk diberikan ke kedua anaknya. Sedang dirinya sendiri tidak makan. Itulah naluri ibu, tidak makan tidak apa-apa asal anaknya makan,” terangnya.


Aisyah pun mengisahkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW. Mendengar cerita tersebut, Nabi kemudian menyampaikan bahwa siapa yang mengurusi dua anak perempuan akan dibebaskan dari api neraka.


Dirinya menambahkan, bahwa kemuliaan perempuan juga bisa dilihat dalam masalah nikah. “Dalam masalah pernikahan, perempuan diberi hak untuk memilih jodoh. Bahkan, Rasulullah tidak mau menikahkan orang kalau tidak ada persetujuan dari perempuan,” ujarnya. 


Untuk itu, Ning Masruroh pada kesempatan ini mengajak agar berusaha menjadi perempuan salehah. Menurutnya, untuk mencapai derajat perempuan salehah tidaklah semudah yang dibayangkan dengan hanya memakai hijab panjang.


“Untuk menjadi perempuan salehah itu sangat kompleks. Bukan hanya pakaiannya saja, akan tetapi tindak tanduk kepada suami, orang tua, serta anak. Jadi, menjadi perempuan salehah itu sangat sulit, tapi kita harus terus berusaha,” ujarnya.


​​​​​​​Selain itu, ia juga menjelaskan beberapa kriteria perempuan salehah. Di antaranya adalah ketika suami melihatnya ia lantas merasa senang. “Selain itu juga mentaati perintah suami selama dalam koridor kebaikan adalah ciri perempuan salehah,” tandasnya.


Metropolis Terbaru