• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 30 September 2022

Metropolis

Ning Khilma Anis Uraikan Gusjigang Ajaran Sunan Kudus

Ning Khilma Anis Uraikan Gusjigang Ajaran Sunan Kudus
Ning Khilma Anis di kantor PWNU Jatim di Surabaya. (Foto: NOJ/Boy Andriansyah)
Ning Khilma Anis di kantor PWNU Jatim di Surabaya. (Foto: NOJ/Boy Andriansyah)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Ning Khilma Anis, penulis novel best seller Hati Suhita, Wigati dan Jadilah Purnamaku, menerangkan tentang Gusjigang yang merupakan ajaran Ja'far Shadiq atau Sunan Kudus. Hal itu ia paparkan saat menjadi narasumber NU Women Talk yang mengangkat tema The Next Women Leaders & Entrepreneurs di kantor PWNU Jatim di Surabaya, Jumat (11/03/2022).


Gusjigang, Gus itu artinya bagus atau baik. Seorang perempuan harus baik dan senang berbagi kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Ji artinya ngaji atau belajar. Sunan Kudus mengajarkan setiap orang untuk selalu belajar,” katanya.


Sementara Gang, lanjut Ning Khilma, tidak serta merta dimaknai berdagang. Karena tidak semua perempuan punya keahlian berdagang. Gang menurut alumni Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, tersebut adalah sebuah filosofi kemandirian. Alasan seorang perempuan menjadi mandiri adalah agar dapat menguatkan orang lain di sekitarnya.


“Kalau kita tidak mandiri, tidak kuat, mustahil kita mengajak orang lain untuk kuat. Perempuan harus kuat karena ia adalah madrasatul ula,” terangnya.


Ning Khilma juga mengajak menoleh ke belakang. Diceritakan dalam dunia pewayangan banyak karakter perempuan yang kuat dalam memegang prinsip. Ia lantas menyebutkan pepatah Jawa ‘Sapa Tekun, Golek Teken, Bakalan Tekan’ sebagai landasan.


“Tekun di sini bermakna istiqamah. Teken artinya himmah atau cita-cita. Perempuan harus istiqamah untuk mengejar cita-citanya agar tekan (tercapai),” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren  An-Nur Jember tersebut.


Ning Khilma menilai, nasihat Jawa di atas sangat penting namun sering dilupakan oleh masyarakat modern. Ia melihat banyak yang belajar meniru kelembutan orang-orang Jawa dulu, namun tidak juga belajar keuletan perempuan Jawa kala itu.


“Padahal, perempuan Jawa dulu selain lembut juga sangat ulet. Tidak mengharapkan sesuatu apa pun kecuali dari hasil tangan dan kakinya sendiri,” pungkas perempuan penikmat wayang, keris dan budaya Jawa tersebut.


Hadir pula sebagai narasumber dalam acara itu, di antaranya, Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan; Anik Maslachah, Wakil Ketua DPRD Jatim; Mundjifah Wahab, Bupati Jombang; Saidah Marzuki, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Rosyad Gasek, Malang; dan Puput Kurniawati, Ketua IPPNU Jatim.


Metropolis Terbaru