• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Metropolis

Termasuk Yenny Wahid, Sejumlah Aktivis NU Tanggapi Hari Perempuan Internasional

Termasuk Yenny Wahid, Sejumlah Aktivis NU Tanggapi Hari Perempuan Internasional
Yenny Wahid, salah satu aktivis perempuan NU. (Foto: VOI).
Yenny Wahid, salah satu aktivis perempuan NU. (Foto: VOI).

Sidoarjo, NU Online Jatim

Momentum Hari Perempuan Internasional tahun 2022 banyak direspons positif sejumlah kalangan sebagai ajang kebangkitan perempuan. Salah satu yang memberi respons ialah Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, putri KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.


Ia menuturkan, bahwa perempuan memiliki peran dan hak yang sama dengan laki-laki untuk berperan aktif di tengah masyarakat. Namun demikian, banyak perempuan di Indonesia yang belum menyadari hal itu.


“Penyadaran terkait hal itu yang perlu kita lakukan saat ini,” katanya saat menjadi narasumber pada acara Women in Leadership Series “Breaking The Glass Ceiling” yang diselenggarakan World Bank Indonesia, Senin (07/03/2022) secara virtual.


Dirinya menyebutkan, bahwa Sri Mulyani Indrawati dan Retno Lestari Priansari Marsudi merupakan di antara Menteri pilihan Presiden Joko Widodo yang dapat dijadikan sosok inspiratif bagi anak-anak muda perempuan di Indonesia. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam urusan publik perlu digalakkan.


“Perlu lebih banyak lagi tokoh perempuan seperti dia berdua. Sehingga anak-anak muda perempuan dapat menjadikannya inspirasi agar terus berprestasi di bidang masing-masing,” ungkapnya.


Menurutnya, perempuan cenderung memiliki sifat empati dalam mengambil kebijakan agar tidak menyakiti pihak-pihak lain. Dan, ini menjadi salah satu kelebihan perempuan. Namun, justru di sisi lain perempuan terkadang tidak percaya diri dan tidak berani mengambil risiko. “Dan, ini yang perlu dibasmi dengan beberapa dorongan yang konstruktif,” ucapnya.


Peran Perempuan Pesantren
Hal senada juga disampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sumenep, Sayyidah Syafiqoh. Menurutnya, di Indonesia banyak perempuan-perempuan yang menjadi pelopor kemerdekaan, sebut saja RA Kartini. Sejak zaman pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan perempuan ikut serta dalam mengisi perjuangan.


“Bahkan perempuan dari kaum santri juga ambil bagian penting dalam membangun peradaban di Indonesia. Dulu ada tokoh santri dari kalangan perempuan yang sangat berani, namanya Chadijah Dahlan. Ia sangat berani dalam perjuangan revolusi Indonesia," katanya, Selasa (08/03/2022).


Menurut alumni Pesantren Al-Usymuni Sumenep itu, banyaknya perempuan dengan karakter religius, cerdas, dan nasionalis tidak lepas dari pesantren yang menjadi bagian dalam membangun karakter santri. Ia menegaskan bahwa pesantren selalu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi yang seimbang antara sikap religious dan nasionalis.


Ia menambahkan, sebagai madrasah pertama di lingkungan keluarga, perempuan menjadi sosok yang sangat mulia. Karenanya, perempuan harus selalu menjaga sikap, ucapan, dan tingkah laku. “Dan, lingkungan pesantren turut serta dalam menciptakan lingkungan yang demikian. Termasuk pula perannya dalam membangun khazanah intelektual di Indonesia,” tegasnya.


Menurutnya, kiprah kaum santri, khususnya perempuan, akan sangat dibutuhkan. Maka, tugas yang hendaknya dilakukan ialah terus mengasah potensi diri, sebagai bekal dalam mengasuh generasi penerus yang hakiki. “Ke depan, santriwati harus terus mengambil bagian di segala lini, makanya harus bangga jadi pelajar yang santri," ucapnya.


Perempuan Punya Hak yang Setara
Sementara Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan Arofah menyampaikan, momentum ini hendaknya dapat menjadi pemantik dalam meningkatkan perlindungan terhadap perempuan dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan.


Menurutnya, langkah perempuan masih dihantui oleh hubungan kekuasaan yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, serta peran gender yang mengekang. "Sehingga banyak yang beranggapan bahwa perempuan adalah kelompok yang inferior di masyarakat," kata lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang itu.


Untuk itu, berbagai organisasi kemasyarakatan perlu mendorong kebijakan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Termasuk mengawal Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). "Mengingat RUU itu sejak 2016 hingga tahun 2021 masih masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) prioritas. Semoga segera disahkan," harapnya.
 


Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu pun menyebutkan, bahwa agama Islam sangat memuliakan perempuan. Sehingga, memperjuangkan keadilan bagi perempuan termasuk dalam menjalankan syariat Islam. “Bahkan, perempuan dijadikan salah satu surat dalam Al-Qur’an, yakni An-Nisa,” tandasnya


Metropolis Terbaru