• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Metropolis

Pentingnya Digitalisasi Turats Pesantren di Era Digital

Pentingnya Digitalisasi Turats Pesantren di Era Digital
KH Mujab Masyhudi, Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (Foto: NOJ/ Salsabila)
KH Mujab Masyhudi, Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (Foto: NOJ/ Salsabila)

Surabaya, NU Online Jatim 

KH Mujab Masyhudi, Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memaparkan pentingnya strategi turats pesantren beradaptasi dengan ekosistem digital. Sebab era digital tidak bisa dihindari oleh seluruh elemen, termasuk pesantren dan ekosistemnya.


“Khususnya santri-santri dalam Nahdlatul Ulama (NU) harus memiliki kesadaran untuk bagaimana agar kitab-kitab tradisi ulama salaf ini bisa dilestarikan keberadannya dengan cara pengunaan digital dalam konteks untuk bisa disebarluaskan secara masif dari pada jangkauan-jangakauan yang tidak biasa,” katanya saat Workshop Literasi Digital di Aula KH Hasyim Asy’ari PWNU Jawa Timur, Selasa (26/07/2022).


Ia menjelaskan, pelestarian turats merupakan tanggung jawab bersama. Sebab turats merupakan identitas Indonesia yang tidak boleh dilupakan.


“Turats yang ada di Indonesia itu adalah jati diri bangsa Indonesia, maka hati-hati jika turats itu nantinya tidak dirawat dan dipelihara sebaik mungkin, maka bangsa ini akan kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia, harus bekerja sama dalam merawat dari pada turots para kiai maupun ulama di pondok pesantren,” terangnya.


Menurutnya, upaya digitalisasi turats pesantren merupakan sebuah tangga untuk masuk dunia global. Di mana santri yang keluar dari pesantren akan seperti singa-singa yang sedang kelaparan.


“Kelaparan dalam konteks ini tentang bagaimana mengenalkan apa yang ada di dalam pesantren, termasuk warisan-warisan dari pada ulama-ulama para pesantren agar bisa dinikmati,” ujarnya.


Kiai Mujab menyampaikan, digitalisasi turats dapat diartikan sebagai proses dari analog yang berubah menjadi sistem digital. Di sisi lain, dalam terminolog mempunyai arti sebagai suatu proses yang dilakukan dengan menggunakan alat digital seperti komputer atau teknologi yang kemudian didigitalisasi.


“Jadi kalau orang berbicara soal digitalisasi yaitu sebuah alat yang nanti akan diprogram oleh alat, dimana alat itu nantinya akan bisa dinikmati,” katanya.


Baginya, melalui hal itu maka kitab-kitab yang diwariskan oleh para ulama tidak hanya terdapat di tangan pewarisnya, tetapi juga bisa dinikmati secara luas. Seperti kitab-kitab yang hanya berada di satu pesantren, jika didigitalisasi maka akan bisa dibaca oleh banyak orang.


“Adanya digital juga memudahkan dalam mencari suatu hal seperti ingin memforward ke group satu ke group lainnya dan semua orang yang ada di group tersebut akan bisa dinikmati,” ujarnya.


Penulis: Salsabilla


Editor:

Metropolis Terbaru