• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 30 September 2022

Metropolis

LTNNU sebagai Pelopor Pelestarian Turats Ulama

LTNNU sebagai Pelopor Pelestarian Turats Ulama
KH Muhammad Hasan Ubaidillah, Sekretaris PWNU Jawa Timur saat Halal Bihalal LTNNU Jatim, Sabtu (04/06/2022). (Foto: NOJ/ Firdausi)
KH Muhammad Hasan Ubaidillah, Sekretaris PWNU Jawa Timur saat Halal Bihalal LTNNU Jatim, Sabtu (04/06/2022). (Foto: NOJ/ Firdausi)

Surabaya, NU Online Jatim 

KH Muhammad Hasan Ubaidillah, Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menegaskan, leading center Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) adalah melacak, menelusuri, menggali peninggalan ulama-ulama pendahulu, yakni tulisan atau karya ulama NU yang ada di berbagai pesantren ataupun perpustakaan. 


Penegasan ini disampaikan saat acara Halal Bihalal dan Pelantikan Pengurus Unit Kerja Pengurus Wilayah (PW) LTNNU Jawa Timur di aula KH M Hasyim Asy'ari, Sabtu (04/06/2022). 


"Dulu Gubernur Jawa Timur, Ny Hj Khofifah Indar Parawansa menceritakan bahwa saat memegang karya-karya ulama-ulama sepuh sekitar tahun 1700-1800-an, kertasnya mudah rusak. Berangkat dari problema ini, ia memanggil Dinas Perpustakaan dan NU untuk mencari solusi guna melestarikan seratan kiai kita di pesantren," ujarnya.


Ternyata, lanjutnya, ada alat khusus agar kertas tua tersebut tidak mudah lapuk serta membantu digitalisasi dengan baik yang usianya sudah tua. 


"Dengan adanya sinergitas antara PWNU dengan Dinas Perpustakaan untuk menelusuri dan mencetakkan peninggalan ulama pendahulu," imbuhnya. 


Ia menyampaikan, ada lima program strategis PWNU Jatim yang dijadikan target dalam menyambut An-Nahdlah Ats-Tsaniyah, yaitu: kaderisasi, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), kemandirian ekonomi, kemandirian kesehatan, dan gerakan literasi digital. 


"Berkenaan dengan literasi, LTNNU mengambil peran bagaimana dimassifkan di berbagai Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Nahdlatut Turats merupakan gerakan yang luar biasa. Seperti konteks turats dalam pengertian Hasan Hanafi, segala peninggalan dari masa lalu yang diberikan pada kita berpengaruh pada penguatan tradisi kuno atau tercerabut dari akar sejarah," ungkapnya. 


Dari sini, sambungnya, jika tradisi lisan atau cerita tidak dituangkan dalam tulisan maka akan hilang, seperti yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa walisongo adalah dongeng belaka atau tidak jelas. 


"Bagaimana tidak jelas, wong tidak didalami. Kalau bukan kita yang bergerak, maka sejarah Kesultanan Pajang dan Mataram yang bermula dari genealogi walisongo. Mereka yang mengklaim bahwa walisongo sebagai legenda rakyat, karena belum membaca karya-karyanya," tuturnya.


Kiai Hasan menceritakan bahwa dirinya pernah diminta melacak genealogi sufistik. Ternyata, kalangan sufistik Indonesia yang pernah belajar di Hijaz sudah mendiskusikan pendirian jamiyah. 


"Selain ada peran Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, ternyata ada peran Habib Hasyim yang merupakan dzurriyah Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Mungkin dari cerita beliau bisa divalidasi, sehingga ada banyak jalur terkait embrio lahirnya NU yang tidak hanya adanya Komite Hijaz," terangnya. 


Ia menyakini bahwa ada faktor-faktor lain yang melatarbelakangi lahirnya NU. Dengan adanya manuskrip atau catatan kuno, dijadikan tulisan yang memiliki sanad yang jelas. 


"Ketika kisah Tutur Tinular diberi sanad bisa menjadi shahih. Termasuk cerita KHR As'ad Syamsul Arifin dijadikan rangkaian, sehingga memiliki alur yang jelas tentang kelahiran NU," ulasnya. 


Tak hanya itu, tulisan jejaring ulama Nusantara abad 17-18 bisa disambungkan dengan sanad yang jelas, maka ketemulah embrio lahirnya NU. 


"LTNNU harus membuat catatan-catatan khusus yang dilakukan para pendahulu kita, seperti dilakukan oleh Ibnu An-Nadim. Ini tantangan kita untuk melacak karya ulama pendahulu pada dzurriyah dan murid-muridnya, seperti Syekh Hasan Genggong dan menyalin tulisan gurunya, yakni Syaikhona Kholil Bangkalan," pintanya. 


Kiai Hasan menegaskan, literasi ulama pendahulu merupakan kekayaan atau khazanah pesantren yang belum terekspos. Oleh karena itu, LTNNU harus punya tim agar turats yang menjadi keunggulan NU bisa tampak ke khalayak. Karena turats tidak dimiliki oleh organisasi yang lain. 


"Jika dilacak secara sungguh-sungguh, maka ditemukanlah geneologi pemikiran dan tradisi luhur. Ketika turats diperlakukan sebagai warisan, kemudian dikelola dengan menyambungkan syarah, tahqiq dan hasyiyah, maka akan berkembang," harapnya. 


Kiai Hasan berpesan, turats kuno jangan dijadikan museum, tetapi menyikapi warisan itu dengan melakukan kajian kekinian. 


"Tradisi syarah, tahqiq dan hasyiyah sudah jarang kita temukan. Harapan kami, kalian harus jadi muallif. Budaya tulis-menulis, karang-mengarang akan muncul kembali jika dilestarikan dan kembangkan oleh kita," pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru