Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Suburkan Tradisi Bahtsul Masail, LBMNU di Surabaya Gelar MQK

Suburkan Tradisi Bahtsul Masail, LBMNU di Surabaya Gelar MQK
Salah satu peserta MQK LBMNU Wonocolo. (Foto: NOJ/Alaika)
Salah satu peserta MQK LBMNU Wonocolo. (Foto: NOJ/Alaika)

Surabaya, NU Online Jatim

Momentum perayaan Hari Santri 2021 memang menjadi ajang memunculkan kompetensi para santri agar semangat keilmuan pesantren tidak berhenti pada pesantren saja. Melainkan dapat dijangkau secara luas dan dirasakan oleh para masyarakat. Merespons hal tersebut, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Wonocolo, Surabaya menggelar Musabaqah Qiroatul Kutub (MQK) dalam rangka menyemarakkan Hari Santri 2021, Ahad (17/10).

 

Mas Imam Sibawei Mas’ad, Ketua LBMNU Wonocolo mengatakan bahwa dakwah bukan hanya dinikmati sebagaimana khalayak umum yang menyukai pendakwah dengan gaya leluconnya belaka, melainkan juga mencintai keilmuan.

 

“Sehingga urgensi dari MQK ini adalah bagaimana agar mencintai keilmuan melalui mutholaah (mempelajari kembali) kitab kuning dengan jalan musyawarah, bandongan dengan kapasitas besar di beberapa masjid, musholla pada umumnya, dan melalui beberapa lembaga atau instansi pemerintah hingga swasta. Sehingga dapat mempromosikan kredibilitas keilmuan pesantren secara kompleks,” katanya.

 

Selain itu, salah satu cara mempertahankan eksistensi keilmuan ahlussunnah wal Jama’ah al-Nahdliyah sendiri adalah mengadakan musabaqah bagi kader NU di Surabaya.

 

“Sehingga kredibilitas NU tidak akan pernah luntur karena sambut bergayung kedatangan kader ulama yang masih mengegang referensi keilmuan dari pesantren,” terangnya.

 

Pada kesempatan yang sama, KH Fathul Qodir Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Wonocolo mengungkapkan jika para kader NU perlu dirawat, dibina dan disapa secara istikamah agar tradisi bahtsul masail tetap tumbuh subur di tengah hiruk pikuk Kota Surabaya.

 

“Alih-alih panggung pengajian secara rutin adalah tujuan jangka pendek saat ini, namun di samping itu kita akan jemput bola menuju beberapa pesantren yang ada untuk mewadahi kegiatan rutin musyawarah bahtsul masail muda bagi para santri yang ada di lingkungan Wonocolo,” ungkapnya.

 

Selain itu, anggota Komisi Fatwa MUI Jatim itu menuturkan bahwa musabaqah ini dapat dijadikan rujukan para masyarakat untuk memilih da’i yang akan dijadikan tokoh ceramah di daerah masing-masing.

 

“Maka musabaqah ini dapat dijadikan rujukan para masyarakat, rujukan para jamaah, bagaimana memilih dan memilah secara selektif para da’i yang hendak diundang dan dijadikan tokoh untuk ceramah di daerah masing-masing,” pungkasnya.

 

MQK ini diikuti oleh 35 peserta baik dari pesantren, musholla, lembaga TPQ bahkan perorangan yang berasal dari dalam dan luar Wonocolo dengan ketentuan ber-KTP Surabaya.

Terkait

Metropolis Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini