Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Guru Besar Pertama FK Unusa Peduli Pendidikan Dokter di Masa Pandemi

Guru Besar Pertama FK Unusa Peduli Pendidikan Dokter di Masa Pandemi
Prof Mulyadi, Guru Besar pertama FK Unusa. (Foto: NOJ/humas)
Prof Mulyadi, Guru Besar pertama FK Unusa. (Foto: NOJ/humas)

Surabaya, NU Online Jatim

Selama pandemi Covid-19, hampir semua pendidik mengakhawatirkan tentang proses pembelajaran, tidak terkecuali di kalangan dosen. Kekhawatiran itu juga yang diungkapkan oleh Prof Mulyadi, Guru Besar pertama Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Sabtu (16/10) siang.

 

Dalam pidato pengukuhan yang diberi judul “Tantangan Pendidikan Dokter Serta Rumah Sakit Pendidikan dalam Pandemi Covid-19”, Prof Mulyadi mengatakan, kompetensi seorang dokter secara sederhana dapat dipilah dalam beberapa kategori, di antaranya harus diketahui (must know), sebaiknya diketahui (should know), dan baik untuk diketahui (nice to know).

 

“Saat pandemi Covid-19 dan mengacu pada Surat Edaran Kementerian No 1 tahun 2020 tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah, telah mengurangi kesempatan mahasiswa pendidikan profesi dokter dapat berinteraksi dengan pasien. Ini telah mengusik nurani saya terhadap pendidikan dokter,” katanya.

 

Pria kelahiran Trieng Meduro, Sawang, Aceh Selatan, pada 19 Agustus 1962 ini mengungkapkan, menghadapi keadan tersebut para pendidik kedokteran diharuskan untuk menggunakan sistem berbasis teknologi dan simulasi melalui daring.

 

“Ini merupakan tantangan sekaligus pertaruhan. Mengingat prinsip utama dalam pendidikan kedokteran adalah pengajaran klinis ideal yang tidak dapat digantikan adalah tidak ada guru yang lebih baik selain pengalaman langsung menghadapi pasien,” ungkapnya.

 

Suami dari Dr Arti Lukitasari ini menuturkan, kegiatan pedagogis memakai simulasi dan inovasi teknologi selama pandemi seperti kuliah daring, simulator virtual webcasting, diskusi ruang daring, telah menghilangkan setidaknya mengurangi esensi pendidikan yang bertujuan menghasilkan seorang dokter yang  sesuai dengan panduan pendidikan dokter Indonesia.

 

“Regulasi yang membatasi hubungan antara peserta pendidikan dokter dengan pasien pada masa pandemi merupakan dilema, karena seorang dokter kelak akan menghadapi orang yang sakit, sesuai tingkat kompetensinya. Ke depan, merupakan suatu keniscayaan agar  mahasiswa pendidikan profesi dokter untuk terlibat dan ikut melihat pasien yang nyata di rumah sakit dengan alat pelindung diri maksimal,  serta mengikuti protokol kesehatan,” tuturnya.

 

Menghadapi pandemi Covid-19, dengan mengacu pada regulasi Kementerian, FK Unusa telah melakukan beberapa inovasi berbasis teknologi yang tersedia saat ini, pendidikan tetap berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan berusaha agar kompetensi yang diharapkan tetap dapat dimiliki setiap peserta didik yang akan dievaluasi pada tahap akhir pendidikan.

 

Namun, sebagai salah satu fakultas yang masih baru, FK Unusa telah memulai langkah awal yang sangat baik dan patut kita syukuri, evaluasi akhir Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang pertama kali diikuti oleh mahasiswa FK Unusa telah menghasilkan tingkat kelulusan mencapai  100 persen.

Terkait

Pendidikan Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini